Aku tak bisa mendengar obrolan mereka meski sudah berusaha memanjangkan telinga. Berdiri di balik pintu ruang tamu tak juga membantu karena kursi teras letaknya agak ke samping, tak persis di depan pintu keluar. Suara mereka juga terdengar pelan sekali, seolah-olah obrolan eksklusif yang tak boleh diketahui oleh orang lain. Aku mondar-mandir dengan gelisah di ruang tengah, menunggu Ayah masuk. Perkiraanku, Fikri akan diusir tak lama setelah duduk. Nyatanya sudah lebih dari lima belas menit belum ada tanda-tanda mereka akan mengakhiri obrolan. "Jadi kamu berhubungan lagi sama dia, Nduk?" tanya ibu setelah mengeluh melihatku gelisah tak bisa diam, seperti setrikaan, katanya. "Nggak, Bu," jawabku penuh kemantapan. Aku menatap Ibu dengan memasang wajah dibuat sememelas mungkin. "Fia juga ng

