Aku memutus pandangan. Dalam hati berjanji tak akan memaksa Fikri membuka mulut. Terserah saja apa yang dikatakan Baim, sudah tak perlu kupusingkan. Apapun yang dia katakan sudah pasti benar. Mengingat bagaimana rapatnya dia mengunci mulut ketika ditanya orang tuanya, kali ini dia juga tak mungkin menjelekkanku, bukan? Tapi ... ini Fikri. Sahabatnya. Terkadang kita lebih nyaman meluapkan isi hati pada teman terdekat yang dianggap bisa dipercaya ketimbang pada keluarga. Tiba-tiba saja aku menjadi penasaran. Aku kembali menatap Fikri. "Baim bilang apa?" tanyaku lagi dengan ragu dan suara lebih pelan. Sungguh, aku tak akan membantah jika yang dibeberkan adalah keburukanku, aku hanya ingin tahu. Fikri tak serta-merta menjawab, dia menelisik wajahku lekat. "Lupain aja," ucapku sebelum Fikr

