lima puluh tujuh

1037 Kata

Langit Malang masih mengucurkan air hujan yang tak kunjung reda sejak sore. Sekarang telah gelap pun belum ada tanda-tanda akan reda. Hawa dinginnya membuat para penghuni kost lebih memilih mendekam di dalam kamar, kecuali satu orang. "Kak Baim udah jadi perokok aktif sekarang? Apa enaknya nelen asap?" Pertanyaan bernada protes itu tak terlalu Baim pusingkan. Selagi adiknya masih bisa dipercaya untuk menyimpan fakta dari orang tuanya bahwa sekarang dia menambah jumlah penghisap tembakau, maka Intan boleh berceloteh apa saja. "Kak!" "Ini batang pertamaku hari ini. Nggak usah bawel!" sahut Baim jauh dari ramah. Dia tak senang bicara seperti ini pada Intan, tapi sebaik-baiknya persaudaraan, selalu ada saatnya berselisih paham. "Terserahlah!" Intan yang semula duduk di kursi dalam kamar,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN