"Nggak pengen cari cewek buat hiburan, Im?" Baim mengisap dalam-dalam rokok yang terselip di jarinya lalu menjawab, "Nggak." "Kenapa? Lumayan buat ngurangin suntuk. Sekali-kali bolehlah." "Aku tahu setan itu tugasnya menyesatkan. Tolong cukup jadi temanku, jangan sekalian jadi setan," sahut Baim tanpa mengalihkan pandangan dari taman kecil di halaman rumah Marko. "Sialan," umpat Marko sambil terkekeh pelan. "Seberapa lama senangnya? Satu atau dua jam? Setelah itu, masalah baru datang." Marko berdecak. "Ya, makanya move on. Sudah satu tahun ini." "Satu tahun, ya? Rasanya baru seperti kemarin." Baim menimpali dengan bergumam seolah-olah kata-kata itu ditujukan untuk dirinya sendiri. Namun, tentu saja suasana sunyi malam membuat suaranya tetap terdengar meski pelan. "Jangan seperti ce

