Lima Puluh Sembilan

1063 Kata

Jika dulu aku selalu ketar-ketir menunggu periode bulananku datang, sekarang justru sebaliknya. Aku berharap tak ada bercak merah di pakaian dalamku, sayang tak sesuai harapan. Tamu bulananku datang. Dan harapanku luruh bersama bercak-bercak itu. Aku keluar kamar mandi dengan perasaan kacau lalu masuk kamar. Melihat Fikri masih berkutat dengan laptopnya sejak sepulang kerja, membuat perasaanku makin acak-acakan. Kujatuhkan tubuh di ranjang, cukup keras hingga laptop di pangkuannya ikut bergerak. Fikri mengangkat pandangan, menoleh padaku. "Kenapa itu muka?" tanyanya. Aku diam dan bisa merasakan kalau wajahku pasti tampak tertekuk sekarang. "Pengen sesuatu?" tanyanya lagi karena belum mendapatkan jawaban. Apa hubungannya aku cemberut dengan ingin sesuatu? "Pengen kamu berhenti kerja.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN