"Selamat datang kembali, Sofia," sambut Bu Rossi. Aku tersenyum dengan perasaan yang tak bisa kujelaskan. Ada rasa tak percaya bisa berada di tempat ini lagi. "Terima kasih, Bu. Maaf saya meninggalkan pekerjaan mendadak, sangat nggak bertanggung jawab," ucapku penuh rasa bersalah. "Saya mengerti. Sekarang bertanggung jawablah," timpalnya dengan nada santai tanpa melepas senyuman. "Tapi kamu nggak bisa mendapatkan mejamu dulu. Kamu di atas, ya. Nggak mungkin saya menyuruh Ayuk kembali ke atas." Aku mengangguk paham. Hampir satu tahun kutinggalkan, tentu saja apa-apa yang menjadi bagianku dulu sudah bergeser untuk orang lain. Tugasku pun sudah pasti berubah. Tak apa, mungkin memang lebih baik begitu. Karena sebenarnya kembali ke sini sama saja membuka peluang besar untuk bertemu dengan F

