Aku termangu menatap layar ponselku yang semula terang lalu perlahan berubah menjadi gelap. Masih terngiang-ngiang kata-kata Tante Yuli saat menelepon barusan. "Mau balik kerja di sini nggak, Fi?" tawaran yang tak pernah kuduga sekaligus begitu sulit untuk kuiyakan. Jadi, aku cuma bilang akan kupikirkan dulu dan mengabari Tante Yuli kalau sudah bisa mengambil keputusan. Ketika kuberitahu Ibu, tanggapannya simpel sekali. "Pamit dulu sama Ayah," katanya yang berarti harus aku bicara sendiri, Ibu tak mau jadi penyambungnya. Karena itu, hingga seminggu berlalu aku belum juga memberi jawaban pada Tante Yuli. Rasanya gelisah sekali dan aku tetap tak bisa memutuskan sendiri. 'Mbak, bisa ngobrol nggak?' Kukirimkan pesan pada Mbak Risma. Aku benar-benar butuh teman bicara sekarang. Ternyata d

