Loneliness

1056 Kata

"Coba kamu temui temanku itu, Fi." Aku tahu teman yang Kak Mia maksud itu adalah seorang psikolog. "Aku masih waras," sahutku. Kak Mia berdecak di seberang sambungan. "Psikolog itu nggak cuma ngurusin orang gila," timpalnya. "Aku sering kok konsul sama dia kalo lagi banyak pikiran. Cerita sama orang yang tepat di bidangnya itu lebih baik daripada curhat sembarangan. Solusi nggak dapat, kena mental malah. Mau, ya?" Aku diam. Terdengar Kak Mia mengembuskan napas. "Ya, udah pikir-pikir aja dulu. Nanti kalau mau, kabari aku. Kemarin aku udah sempat ngobrol-ngobrol sama dia, sedikit cerita. Katanya dia pengen ngobrol langsung sama kamu." "Ya, nanti aku kabari." Tak ada pilihan lain, Kak Mia hanya bisa mengiyakan lalu mengakhiri panggilan. Dia tak bisa memaksaku. Aku hanya belum siap ata

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN