Lalisa datang dengan Lesu berjalan menuju Taehyung dan Suga yang masih bermain game di cafe coffee and cake di samping kampus.
Dia duduk lemas menjatuhkan bokongnya di sofa samping Taehyung. Hembusan lirih keluar dari mulut Lisa seiring kepalanya tersandar ke belakang, "Haaaahhhhh~~~".
Hembusan itu begitu mengusik Taehyung dan Suga hingga mereka mengalihkan pandangan mereka dari layar laptop ke wajah menyedihkan Lalisa.
"Kau sudah mengantarnya pulang Ace??" Suga bertanya sambil mengangkat sedikit kepalanya kearah Lalisa, setelah bertanya Suga kembali masuk ke dalam permainan perang online nya di laptop,
Lalisa tidak menjawab, dia hanya diam dan semakin lesu dengan menjatuhkan kepalanya diatas meja, menutupi kekacauan diwajahnya saat ini.
Taehyung melirik Lisa bingung, karena dia sudah mati di peperangan babak ini, dia pun menjaili Suga dengan menutup layar laptop Suga agar fokus pada masalah kawan nya ini.
Takkk
Laptop Suga tertutup dan sontak saja Suga berteriak kencang ke arah Taehyung "Yaaaakkk!! b******k!! Aku hampir menang tadiii..." Suga memaki Taehyung dengan suara lengking nya.
Taehyung mengarahkan telunjuk ke bibirnya memberi kode pada Suga untuk tidak berisik, dan kemudian tatapan Taehyung dan Suga terfokus pada Lalisa.
~¤~
15.00 KST di Banpo Bridge,
"Kau tau.... mungkin dia hanya bergaul!" Suga merangkulkan tanganya di pundak Lisa sambil duduk di atas besi pembatas jembatan.
Yaaaa.... Mereka bertiga memutuskan menjauh dari kampus dan disinilah mereka berada, di sebuah jembatan panjang yang di tengahnya ramai lalu lalang mobil dengan kecepatan tinggi, dan di sampingnya ada aliran sungai panjang menuju Sungai Han di pusat kota.
"Cihh~, pria itu menyukai Jennie!" Lalisa berdecih sinis, kemudian dia meminum soju dalam kemasan kaleng di tanganya.
Lalisa frustasi, mendapati Jennie untuk pertama kali mengacuhkan dirinya demi seorang pria;itu membuatnya cemburu.
"Hei.... Kau jelas lebih baik dari pria itu! Lihatlah dirimu..." Taehyung meloncat dari pagar besi dan kemudian memperhatikan Lalisa, dia mengarahkan tanganya kearah Lisa dari atas sampai bawah, "Kau sempurna! Cantik sekaligus Tampan." Taehyung memuji untuk menenangkan Lisa.
Itu berhasil. Lisa menyungging senyum saat Taehyung memberikan kepercayaan diri padanya, tapi ketika dia mengingat sikap Jennie hari ini, dia pun kembali murung.
"Yaaakk Ace! Berhenti memasang wajah putus asa itu! Kau terlihat Lemah." Suga melepas rangkulan dan mendorong pundak Lisa pelan.
"Kau tidak tau, Jennie unnie tidak pernah begini padaku!" Lisa berkata dengan kekesalan di dalam dirinya.
"Kau juga tidak pernah begini padanya!" Sahut Suga cepat, "Ace! Sejak kapan kau menyukainya? Jujurlah pada kami." Imbuh Suga dengan meletakan tanganya di pundak Lisa.
Lisa terdiam, sejenak dia mengingat sejak kapan dia mulai bertingkah manis dan bersikap seperti kekasih Jennie, yaa.. walaupun mereka memang benar benar hanya sebatas sahabat.
Dia menyungging senyum sambil menatap sungai dari atas Banpo Bridge dan mulai bercerita....
#Flashback On
Saat itu Jennie dan Lisa masih duduk di bangku Junior High School, tepatnya saat itu belum ada peraturan di persahatan Jennie, Lisa, Rose dan Jisoo. Mereka semua satu sekolah walaupun beda tingkat.
Jennie berjalan bersama teman temanya menuju cafetaria dan Lisa jelas melihatnya berjalan dengan aura dingin nya dan duduk di meja yang berada di sampingnya.
Lalisa duduk bersama 2 orang teman pria nya, dan Jennie duduk bersama 4 orang teman wanitanya.
Jennie melihat Lisa dan tersenyum kearahnya,
"Apa harimu baik?" Jennie bertanya pada Lisa yang berada di meja sampingnya, dan kebetulan bangku mereka pun berdampingan, hanya dibatasi dengan jalur berjalan saja.
Lalisa mengangguk pasti kearah Jennie sambil tersenyum.
Interaksi singkat itu menyita perhatian teman teman Jennie. Mereka semua mengerubungi Jennie dengan mendekatkan wajah mereka,
"Yaaakk! Siapa itu?? Dia sungguh cantik maksudku... dia juga tampan, apa dia punya kekasih?" Salah satu teman wanita Jennie bertanya dengan penasaran.
"Jennie-yaa... Kenalkan pada kami, please! " salah seorang lain nya ikut bicara.
Jennie merasa risih dengan teman teman nya ini, kemudian dia melirik Lisa yang sedang berbincang dengan teman temanya.
"Lisa.... apa Jun mu sudah berfungsi sekarang?? Hayolahh... kita semua sudah Junior High, dia pasti sudah bereaksi kan??? Hahahaha" teman pria Lisa bicara cukup keras di mejanya, hingga beberapa meja di sampingnya bisa mendengarnya.
Lalisa merentangkan sebelah tangan merangkul bangku di sampingnya, tersenyum puas sambil menaik dan turunkan alisnya "Kau akan terkejut saat dia bereaksi!" Lisa berkata dengan seringai di wajahnya.
Teman teman Jennie kembali dibuat takjub dengan perbincangan mereka. Mereka semakin tertarik pada Lisa saat mengetahui Lisa ternyata memiliki Jun.
"Jennie??! Apa aku tidak salah dengar? Dia memiliki Jun?!" Salah seorang teman Jennie yang awalnya tidak bicara, kini ikut bersemangat menanyai Lisa.
Jennie mengeraskan rahang mendengar ocehan teman temanya soal Lisa, rasa kesal mulai mempengaruhi pikiran dan tindakanya.
"Li... hentikan pembicaraan itu!" Jennie berucap ketus pada Lisa disampingnya.
Lisa tersentak saat tiba tiba Jennie menegurnya, dia memasang wajah bodoh dengan tersenyum dan kemudian mengangguk pelan, "Mianhe unnie.."
Jennie menyilangkan tangan di atas perut dan memasang wajah kesalnya, namun tak terduga... ke 4 teman Jennie menghampiri Lisa ke mejanya dan kemudian kompak meraba pundak Lisa dengan seringai menggoda,
"Heii... apa kami boleh berkenalan??" Ucap seorang wanita sambil mengedipkan sebelah mata kepada Lisa.
"Kau adik tingkat kami yah?? Hehehe.. kami teman unnie mu," seorang lain nya merangkulkan lenganya di pundak Lisa dan melirik Jennie untuk memperjelas kalimatnya barusan.
Lisa melirik Jennie yang sedang memasang wajah kucing garong ke arahnya, kemudian dia tersenyum paksa kepada 4 orang wanita di depanya,
"Ne... " Lisa menjawab sekena nya, dan kemudian berusaha mengacuhkan ke 4 nya.
Namun, salah seorang lagi tiba tiba mendekatkan wajahnya pada wajah Lisa membuat Lisa refleks memundurkan wajah seraya menatap wanita itu.
Wanita itu mencium pipi Lisa kilat membuat Lisa membulatkan mata dan kemudian memegangi pipinya.
"Yaaaaakkkk!!!!" Teriak Jennie keras sambil berdiri kasar mendorong bangku di dudukanya.
Teman temanya kaget melihat reaksi Jennie, kemudian Jennie menghampiri mereka dan mendorong ke 4 teman nya menjauh dari Lisa.
Lisa berdiri dan menahan pundak Jennie untuk menenangkanya "unnie unniee.. gwencana, jinja gwencana."
Jennie menoleh kearah Lisa yang wajahnya tepat di samping kepalanya, dengan wajah kesalnya dia menampar pelan pipi Lisa yang tadi di cium,
Plaakk
Lisa kaget, dia sontak memegang pipinya yang baru saja di tampar Jennie;untung saja pelan.
"Katakan pada mereka siapa dirimu,
sebelum aku mencium mu di depan mereka!" Ucap Jennie dengan nada marah pada Lisa.
Lisa berkerut dahi keheranan, mendekatkan wajahnya pada wajah Jennie untuk membaca pikiranya. Dia melihat mata Jennie memicing dan nafas hangatnya menyerbu wajah Lisa, jelas sekali... Jennie sedang murka karena pipi Lisa dicium.
Sejenak Lalisa berfikir, apa yang harus dia jawab untuk menghentikan ke 4 teman teman Jennie, dan kenapa pula Jennie harus mencium dirinya(?)
"U-un-unnie... a-aku sungguh tidak mengerti." Bisik Lisa di telinga Jennie.
Jennie sontak menolehkan wajahnya kearah Lisa hingga wajah mereka saling berdekatan. Mereka saling tatap membuat suasana menjadi hangat diantara mereka berdua, tapi tidak dengan ke 4 teman teman Jennie yang tengah memandangi keduanya dengan tatapan dingin dan sinis.
"Apakah aku harus menciummu agar kau mengerti, Lalisaaaa???" Jennie berkata dengan penuh penegasan di setiap kalimat, lalu dia mengayunkan nada saat dia menyebut nama Lalisa, Jennie bahkan menggertakan gigi atas dan bawahnya seraya meloloti Lisa;mengerikan.
Lisa menelan ludah, dia masih terpaku pada mata indah Jennie yang saat ini intens menatapnya. Tak perduli seberapa garang wanita di depanya, dia tetap cantik dimata Lisa.
Muaaaccchhhhh
Jennie mencium pipi Lisa, membiarkan bibir lembut nya berada beberapa detik di pipi Lisa membuat Lisa hampir pingsan dibuatnya..
Murid yang berada di cafetaria kompak meneriaki mereka yang dengan seringai "Wwuuuuuuuu so sweet...."
Ini adalah pertama kalinya Jennie mencium Lalisa. Selama persahabatan mereka terhitung dari Lisa berumur 3 tahun, tidak pernah sekalipun mereka melakukan hal ini, apalagi di depan umum seperti ini.
"Dia kekasihku, perkenalkan... Lalisa Manoban!" Jennie dengan bangga berkata di depan teman temanya.
Lagi lagi kalimat Jennie membuat seisi cafetaria tersenyum iri melihat kemesraan keduanya "wwwwaaaawww..."
Lisa tentu saja melebarkan mulut saat dia mendengar Jennie memperkenalkan dirinya sebagai 'kekasih', masih tak percaya! Dia membulatkan mata seraya melihat Jennie yang kini mengklaim lenganya dipelukanya.
"Yaaakkk!! Jennie-yaa! Tidak mungkin!" Teriak teman Jennie yang masih syok dengan apa yang di dengarnya.
Lisa melingkarkan tanganya di pinggang Jennie, menarik lebih erat padanya "nngh" lenguh Jennie kaget dengan tindakan Lisa.
"Hmm... unnie tidak mengetahui nya??" Lalisa berkata pada mereka, dan kemudian menoleh kearah Jennie lagi "Aaaah... aku rasa kita harus memperlihatkan hubungan kita pada publik sayang." Lalisa bicara dengan nada imut pada Jennie.
Jennie yang memulai ini, tiba tiba gugup mendapati sikap Lisa padanya. Dia menelan ludah sambil menatap Lisa, dia mengangguk pelan dan tersenyum tanggung pada Lisa.
~¤~
Semenjak itulah, sikap Lisa pada Jennie sangat manis! Semua orang menduga mereka benar benar berkencan. Jennie sejak dulu tidak menyukai jika ada seseorang mendekati Lisa, dan Lalisa selalu menuruti apapun yang Jennie inginkan, termaksud menjauhi wanita wanita yang menggodanya.Jisoo dan Rose tentu saja mendengar rumor itu di sekolah, dan mereka ikut syok mendengarnya.
Mereka lekas menanyai Lisa dan Jennie, namun jawaban cukup melegakan karena Jennie dan Lisa kompak menjawab kalau itu hanya sandiwara.Setelah kejadian itu, Rose dan Jisoo berinisiatif untuk membuat peraturan di persahabatan mereka 'untuk tidak saling mengencani satu sama lain'.
#End Flashback
"Semenjak Jennie mencium mu di sekolah?" Celetuk Suga membuyarkan cerita penuh penghayatan dari Lalisa.
Lalisa mengangguk dan kemudian menoleh menatap Suga "Mungkin~" jawab Lalisa yang tidak begitu yakin.
Tiba tiba Lisa lompat dari pagar besi jembatan Banpo Bridge, dan kemudian menghela nafas lega. Setidaknya dia merasa lebih baik setelah bercerita dengan teman temanya.
"Aku harus pulang. Para unnie akan marah jika aku pulang terlambat!"
Taehyung dan Suga melihat jam di tangan mereka, "tapi ini masih pukul 18.00 KST. Kita tidak jadi ke Bar Bae??" Tanya Taehyung heran.
Lalisa menggelengkan kepala sambil tersenyum, "aku lebih baik pulang sekarang! Lagipula... aku sudah minum soju 2 kaleng, aku takkan mampu meminum wine di Bar Bae lagi."
Kemudian Lalisa pergi begitu saja meninggalkan Taehyung dan Suga.
~¤~
Jennie Pov
Aku baru selesai latihan di studio bersama Mino. Ini sungguh menakjubkan! Studio itu benar benar hebat!
Mereka memiliki ruang rekaman, dan ruang band, bahkan ruang menari. Aku tak menyangka bisa menemukan itu disini!
Aku memiliki mimpi ini sejak kecil, tapi Mommy memintaku untuk belajar bisnis agar bisa meneruskan usaha keluarga kami, dan dengan berat hati... aku menerima permintaan Mommy ku.
Aku berjalan bersama Mino menuju gedung apartment. Dia terus mengajak ku berbicara, yaaa... selama topik pembicaraan seputar dunia musik, aku akan terus menanggapinya.
"Kau tau Jennie, kau punya bakat menjadi rapper!" Mino memuji ku, dan aku senang mendengar pujian yang jarang aku dengar itu.
"Tidak... aku masih belajar Mino." Jawabku malu malu.
Saat aku berada di taman apartement, aku berpas pas'an dengan Lisa yang baru pulang juga.
Kami sama sama menghentikan langkah kami dan saling melihat dari kejauhan.
Baiklah..
Aku tau aku berlebihan tadi di kampus.
Aku harus minta maaf karena sudah mengacuhlanya.
"Mino, aku sudah sampai di gedungku. Kau bisa pulang sekarang.." ucapku pada Mino, dan dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum padaku.
"Aku akan mengajakmu ke studio lagi nanti."
Aku tersenyum lebar mendengar ucapan Mino tadi, dan kemudian dia melangkah mundur menjauh dariku, hingga akhirnya dia berlari meninggalkan gedung ku.
Aku menghampiri Lisa yang masih terdiam sambil melihatku. Ketika aku sudah hampir sampai padanya, tiba tiba dia melangkahkan kakinya cepat menjauh dari ku, dan aku agak kaget dengan itu.
Aku mengejarnya dengan langkah kaki pendek ku, "Lalisa!!!" Teriak ku padanya, namun dia mengacuhkanku.
Dia berdiri menunggu lift, dan disitulah aku berhasil menghampirinya.
"Hahh hahh hahh... aku memanggilmu! Kenapa tidak berhenti!" Omelku padanya dengan nafas lelahku.
Dia hanya melirik ku sekilas, dan kemudian memalingkan wajahnya.
Sabaarr.. sabarr..
Jennie, kau duluan yang mengacuhkan nya, dan kini dia membalas nya padamu.
Pintu lift terbuka, dan kami masuk ke dalam. Kami memencet angka 27 sebagai lantai dari apartement kami. Di dalam lift, perlahan aku mendekatinya, menyentuhkan lenganku ke lenganya berdempetan. Dia menjauhiku, dan aku terus mendekatkan diriku.
"Aku ingin minta maaf Li..." ucapku lirih tanpa menoleh padanya.
"Kenapa?"
"Karena mengacuhkanmu saat di kampus tadi." Jawabku dengan menundukan kepala.
Bruuuugghhh
Lalisa tiba tiba mendorongku ke pojok lift, memegang erat kedua tanganku, dan matanya menyorot ke mataku.
Aku kaget. Aku hanya bisa melihat betapa ekspresinya belum pernah aku lihat sebelumnya, nafas hangatnya begitu menyerbu wajahku,
"Huuhh huhh..." deru nafasnya sambil menatapku dalam.
Wajah kami sangat dekat, hanya beberapa senti, bahkan nafas kami beradu saat ini.
Dia terus mendorongku, membuat aku susah bergerak. Perlahan aku melihat matanya turun dan melihat bibirku,
Oh...my..god!
Apa ini?? Apa yang akan dia lakukan??
Dia benar benar serius, dia memajukan bibirnya mengarah ke bibirku, dan jantungku berdetak tak normal karenanya. Aku ingin mendorongnya dan menghentikan ini, tapi.... tapi yang terjadi adalah aku menutup mataku erat.
Chuuuuupphhh
Bibir kami bersatu, menempel dan merasakan lembut satu sama lain. Aliran darahku berdesir cepat, dengkul ku lemas, dan tanganku menggenggam erat tanganya yang sedang memegangiku.
Lalisa memainkan bibirku, dia menggerakanya! Dia menarik bibir bawahku membuat aku mendesah tertahan, "mmmhhh...."
Dia terus menempelkan tubuhnya padaku, dan aku sudah tidak tahan lagi! Aku mendorongnya menjauh dariku,
Tiingggggg
Pintu Lift terbuka, dan aku langsung lari dari dalam lift. Aku hampir pingsan tadi! Sial.
End Jennie Pov
Tiiliittt tiliitt
Door Sensor Apartment terbuka, Jennie dengan kasa menutup pintu apartment
BRAAAKKK
Suara kencang itu membuat perhatian dari Rose dan Jisoo yang sedang melanjutkan nonton TV Series Walking Dead Seasson 7.
Jennie melepaskan sepatu tergesa gesa dan langsung masuk kamar melewati begitu saja Jisoo dan Rose yang sedang melihatnya. Tak lama kemudian, Door Sensor Apartment kembali berbunyi.
Tiliitt littt...
Kali ini wanita jangkung berwajah lusuh masuk dengan lunglai kedalam apartement,
"Aku pulanggg~~" ucap Lalisa tanpa melihat kedua teman nya yang sedang memperhatikanya.
Lalisa langsung masuk ke dalam kamar tanpa menyapa Jisoo dan Rose.
Jisoo dan Rose pun saling lirik, dan saling mengangkat bahu melihat keanehan dari Jennie dan Lisa.
"Biarkan saja... biar mereka istirahat dulu.." Jisoo berucap sambil mengangkat alis nya pada Rose,