Wanita bermata coklat dengan rambut panjang terurai berdiri di depan kelas jurusan Bussiness Management, berpegangan dengan kedua tali ransel yang sedang di pakai, dia pun meninggikan leher untuk mengintip seseorang di dalam kelas itu.
Lagi dan lagi, wanita itu tidak masuk ke kelasnya dan memilih membolos dan kemudian menjemput seseorang disini. prinsip sederhana wanita itu adalah
Teknologi tidak perlu teori, tetapi praktek!
itulah sebabnya, wanita yang kuliah dengan jurusan Informatics Engineering ini malas sekali masuk kelas dan lebih memilih membuat program sederhana dengan bahasa pemograman yang dia pahami di sebuah cafe dekat kampus.
"Aaash.. kenapa lama sekali sih." keluh Lalisa yang mulai merasa gelisah dan pegal di kakinya.
Dia sudah berdiri disana 30 menit, tentu saja dia merasakan pegal. Setelah perjuangan di betis kakinya yang mulai melemah, wanita yang daritadi dia intip pun keluar dari kelas bersamaan dengan Profesor mereka.
Lalisa melihatnya, dia hanya melihat tanpa menghampirinya. Dia terlalu takut mendapat penolakan lagi, atau bahkan bentakan seperti yang Jennie lakukan semalam.
Jennie melihat Lalisa, sejenak dia tertunduk kemudian menghampiri Lisa, "Aku akan pergi lagi, tidak perlu menjemputku." Jelas Jennie pada Lisa.
Lalisa masih diam, sambil terus menatap wajah Jennie. Bahkan untuk bertanya saja Lisa enggan, dia terlampau khawatir akan reaksi Jennie apabila melakukan kesalahan dalam bertanya atau bicara.
Mino mendekati Jennie dari belakang, dan Lisa melihat kedatangan Mino karena mereka berhadapan. Berusaha menahan rasa cemburunya, Lalisa hanya mampu menundukan kepala dan mengeraskan rahangnya sejenak,
"Jennie... Ayo!" Mino berkata sambil merangkul Jennie.
Lalisa memejamkan mata melihat pundak Jennie di rengkuh pria lain, dadanya terasa perih dan nafasnya tersenggal menahan sakit.
"Aku akan pergi Lisa, sampai jumpa." Jennie berkata dan langsung membalikan tubuh melangkahkan kaki menjauh dari Lisa.
"Namaku LISA!" Teriak Lisa ke arah Mino, membuat Mino dan Jennie menghentikan langkah dan kembali membalikan tubuh.
Lalisa menghampiri keduanya, kemudian dia menjulurkan tanganya ke arah Mino, "Lalisa Manoban."
Mino menganggukan kepalanya pelan, bersikap seolah dia lebih cool dari Lisa dengan menepak tangan yang dijulurkan Lisa,
"Mino." ujar Mino singkat seraya menatap Lisa remeh.
Mino bergaya seperti dialah orang paling tampan di kampus, beberapa kali dia mengusap rambutnya yang bahkan tidak tertiup angin. Memasang wajah bak Jhon Lenon yang dipuja-puja banyak wanita, itu membuat Lalisa jijik melihatnya.
"Aku dengar kau punya tempat latihan bernyanyi." Lalisa bertanya dengan nada rendahnya, cukup tenang untuk menghadapi pria sok seperti Mino.
"Yups... Di perempatan Plaza Bundang, Wae-yo?"
Lalisa mengangguk mengerti, kemudian dia melirik Jennie yang sedang menatapnya khawatir.
"Apakah aku boleh gabung?"
Mino berdecih sinis, memalingkan wajah dan kemudian mendorong bahu Lisa pelan,
"Pergilah. Aku tidak ada waktu untuk mengajakmu." ujar Mino sombong.
Jennie menoleh kearah Mino, dia tidak menyukai sikap Mino pada Lisa. Mendorong bahu pada orang yang baru dikenal, itu sangat tidak sopan, tidak punya attitude.
"Mino-ssi! Kenapa kau mendorongnya?!" marah Jennie pada Mino sambil melepas rangkulan Mino.
"Ah? Ah Mianhe Jennie-yaa.. Aku hanya...., tidak ingin mengajaknya." Mino berucap dengan lesu dan merasa salah bertingkah di depan Jennie.
Tiba-tiba seorang wanita yang dikenal dekat oleh Jennie datang menghampiri mereka, kedatangan wanita ini karena dia melihat ada sedikit cek-cok antara Lalisa dengan Mino.
"Hei hei... apa yang terjadi disini??" Chahee bicara di tengah tengah antara Lisa dan Mino yang saling menatap sinis.
Sesaat kedatangan Chahee, Lalisa teringat akan permintaan Jennie semalam padanya. Chahee menyukai dia, dan dia harus memberikan kesempatan pada Chahee, itulah yang Jennie perintahkan pada Lalisa.
"Ah tidak ada apa-apa unnie, tidak perlu khawatir." Lalisa memecah kecanggungan dengan bicara sambil tersenyum pada Chahee.
"Ah.. begitu. omong-omong... kau disini lagi Lalisa?" tanya Chahee seraya mendekatkan tubuhnya pada Lisa hingga kulit lengan mereka bersentuhan.
Jennie melihatnya, bagaimana Chahee sengaja mendekatkan tubuhnya pada Lisa. Jennie berusaha acuh dengan tidak melihat kearah sana,
"Pulanglah Lalisa, aku akan pulang sore hari ini." Jennie berucap lagi pada Lalisa dengan lembut.
"Aku ingin ikut denganmu ke studio, apakah studio itu tidak terbuka untuk umum? Heum? " Lalisa membalas ucapan Jennie dengan wajah datarnya.
"Kau ingin ke studio itu Lisa? tempat Mino, Taeyang dan Bobby berlatih?" Chahee menatap Lisa dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Lalisa mengangguk yakin seraya membalas senyuman Chahee.
"Studio itu terbuka untuk umum! kau bisa menyewa ruanganya per jam jika kau mau. sepupuku berlatih disana!" jelas Chahee pada Lalisa.
Lalisa tersenyum puas, menyunggingkan bibirnya ke satu sisi sambil menatap Mino dengan tatapan sinis.
"Kalau begitu.. bisakah Chahee unnie mengantarku kesana??" ucap Lalisa dengan wajah imut dan nada mengayun pada Chahee, dia bahkan menggenggam kedua tangan Chahee seraya menatap mata Chahee dalam.
Chahee serasa melayang sesaat dia melihat Lisa bertingkah imut di depanya, mencubit pipi Lisa hingga kepala Lisa bergerak ke kiri dan ke kanan karenanya, "Tentu saja aku akan mengantarmu Lalisa hihihi" kikik Chahee kegirangan.
Lagi lagi Lalisa menatap Mino dengan tatapan kemenangan, di dalam hatinya Lalisa sedang menertawakan Mino yang sedang menatap dirinya kesal.
Mino ingin bersaing dengan Lalisa?
Tentu saja Lalisa akan mengikuti permainan Mino padanya.
"Baiklah... Unnie!" Lalisa memanggil Jennie, "sampai bertemu disana" ucap Lalisa sambil tersenyum lebar dan kemudian mengedipkan satu matanya pada Jennie.
Lalisa berjalan dengan lengan yang di peluk Chahee, Lalisa terlihat nyaman dengan itu, beberapa kali dia menoleh kearah kepala Chahee yang bersandar di pundak nya dan tersenyum.
Jennie melihatnya, dia mengepalkan tangan saat melihat betapa lengan Lisa yang sudah lama di klaim dirinya, kini sudah mulai terbagi dengan Chahee. Rasa kesal membludak di benak Jennie membuat bibir atas dan bibir bawahnya mengerat dan matanya membulat melihat mereka dari kejauhan,
Lalisa Pov
Pria belagu itu menantangku? Sudah gila apa dia? Dia bahkan bukan levelku!
Aku tak menyangka Jennie unnie punya selera yang buruk soal pria, cih!
Chahee unnie membawaku ke studio itu, ternyata studio itu bernama Kronis Studio.
Baiklah, aku akan mulai dari sini. Aku tau Jennie unnie akan sering kesini, dan aku tidak akan lengah pada dirinya.
"Aku tidak bisa masuk Lisa. Di dalam hanya untuk orang yang berlatih" Chahee unnie melepas pelukanya di lenganku.
Aku sedikit kasihan padanya, pasalnya dia kesini hanya untuk mengantarku, lalu pulang(?)
Ahh.. itu tidak sopan Lalisa.
"Unnie.. sebelum aku masuk, Ayo pergi makan denganku!" Ucapku menarik tanganya dan membawanya ke sebuah kedai tenda kecil di pinggir perempatan jalan.
Dia terlihat senang, senyumnya tak pernah hilang sejak aku dan dia pergi dari kampus.
"Unnie mau pesan apa?" Tanyaku sambil memegang lembar menu.
"Lisa.. disini tidak jual banyak jenis makanan. Ini hanya kedai tteobokki, kenapa kau repot repot membaca buku menu?" Chahee unnie menyenggolku dengan bahunya dan menggodaku dengan candaan dan juga matanya, karena wajah kami berdekatan saat ini.
"Eh iya kah?? Hahahahaha" Aku tertawa seraya menjauhkan wajahku darinya, memberi jarak dan kemudian memanggil ahjussi penjual untuk memesan ttobeokki.
Chahee unnie memang menyukaiku, aku bahkan bisa tau lewat tatapan nya ini.
Aishh.. dia mencoba menggodaku dengan itu.
Chahee unnie, mianhe! Tatapan paling menggoda bagiku hanyalah tatapan Jennie unnie.
Kami makan bersama sambil berbincang hal biasa, kesibukan, kabar, kuliah, dan hal hal tidak penting lain nya.
Setelah selesai makan, Chahee unnie mengelap bibirku dengan tissue. Aku sedikit gugup dengan itu, yaa... biar bagaimanapun seumur hidup aku tidak pernah dekat dengan wanita lain selain Jenchuchaeng.
Teman temanku yang lain mayoritas pria. Yaaa kalian tau, agak sulit membicarakan hal m***m dan bicara kotor jika bicara dengan wanita! Jadi semenjak aku puber, dan si Jun bertumbuh... aku memutuskan bergabung dengan teman pria di sekolah.
"Hehehe... gomawo unnie!" Ucapku mengambil tissue itu darinya dan mengelap sendiri.
Baiklah, ini saatnya berpisah dengan Chahee unnie dan masuk ke dalam studio.
Kurasa, aku cukup membayarnya dengan tteobokki, dia sudah terlihat sangat senang mendapatkan itu dariku.
"Apa ajakanmu soal aku ke apartment masih berlaku Lisa?" Chahee unnie bicara di depan studio sebelum aku masuk.
"Kau harus meminta izin Jennie unnie dulu, kau tau... dia sedikit sulit di tebak. Sebaiknya bicarakan dengan dia kalau kau ingin ke apartment." Balasku sambil tersenyum padanya.
Chahee unnie agak sedih mendengar ajakan ku kemarin ternyata masih perlu konfirmasi dari Jennie unnie, pasalnya dia kemarin sudah senang bukan kepalang saat aku mengajaknya ke apartment.
Melihat ekspresi sedih Chahee, Aku menjadi tidak enak hati, aku pun mencoba menghibur Chahee unnie dengan mengajaknya ke Bar Bae untuk mencicipi Wine campuran terbaru disana malam ini.
"Jjinjaa-roo Lisa-yaa?!!" Ucap Chahee antusias, dia sangat sumringah mendengar ajakanku.
Haahh... Lalisa, kau akan memberinya harapan karena ajakan ini, tapi.... mari kita coba!
Aku mengangguk pelan sambil tersenyum manis, "Jangan pasang wajah sedih lagi yah?" Ucap Lisa lembut.
Sejenak aku tertunduk lesu, sesuatu yang mengusik pikiranku sejak semalam,
"Jennie unnie yang menginginkan ini kan?
Dia ingin aku mendekatkan diri pada Chahee unnie ☹
Batin ku lirih mengingat betapa air mataku semalam tak berhenti karena permintaan Jennie yang menyakiti hatiku.
Aku mencintaimu Jennie unnie, apakah untuk mengatakan itu padamu saja..... aku tidak berhak?
Kau sengaja memotong pembicaraanku semalam, dan kau menyakitiku dengan permintaan ini.
Kau tau?? Jika kau tidak menyukaiku... kau tak harus menyuruhku melakukan ini juga.
Chahee unnie pun pergi, dan aku masuk ke dalam. Aku langsung mendatangi orang yang berada di depan meja kayu di depan pintu masuk,
"Anneyonghaseo... aku kesini untuk mendaftar menjadi trainner disini. Apakah bisa?" Aku bicara sopan pada wanita berpakaian olahraga ini.
Dia terlihat sexy dengan bra sport dan leging panjang berwarna hitamnya,
"Ah.. aku bukan yang bertanggung jawab soal itu. Tapi aku bisa membantumu jika ingin berlatih disini." Jawabnya ramah padaku.
"Iya.. aku mungkin membutuhkan bantuanmu. Namaku Lisa," ucapku memperkenalkan diri dan menjulurkan tangan padanya.
Dia meraih tanganku dan menggenggamnya, "Tzuyu, Chou Tzuyu." Ucapnya sambil tersenyum lalu melepaskan pegangan tanganya.
"Jadi kau ingin berlatih apa? Bernyanyi? Menari? Alat musik?" Tanya dia sambil menuntunku masuk kedalam studio.
Kami berjalan dan melewati jendela-jendela transparan yang memperlihatkan kegiatan orang orang di dalam ruangan.
"Aku bisa menari, dan bernyanyi." Jawabku dengan pelan, aku tidak ingin terkesan sombong atau angkuh di mata Tzuyu.
"Kalau gitu kita sama! Hehehe" jawabnya sambil terkekeh.
"Aku yang akan mengajarimu berlatih, apa kau keberatan??" Tanya nya sambil menoleh kewajahku.
Aku sontak menggelengkan kepala dan tanganku kepadanya, "Tidak tidak, aku tidak keberatan! Aku akan senang bisa dilatih olehmu. Terima kasih atas waktumu, Tzuyu." Ucapku sopan padanya sambil tersenyum.
Well, ini awal yang bagus. Aku berada di studio tempat Jennie unnie berlatih, dan aku mendapat mentor cantik, baik dan ramah seperti Tzuyu.
End Lisa Pov
~¤~
Jennie Pov
Lisa bertengkar dengan Mino, tapi... Lisa cukup bijak dengan tidak meladeni sikap sok jagoan Mino;untunglah.
Hal yang membuat aku kesal adalah.... Chahee tiba tiba datang menghampiri kami dan bersikap bak malaikat untuk Lisa.
Dia bertingkah seperti sudah sangat akrab dengan Lisa dengan selalu menyentuhkan tubuhnya pada Lisa, apalagi Lisa membalasnya dengan senyuman, arrghhh kesal sekali!
Lisa ingin berlatih di studio Mino, sejujurnya... aku senang dia ingin bergabung, tapi Mino melarangnya dan aku juga tidak bisa lancang mengajak Lisa kesana.
Chahee membawanya ke studio itu, harusnya mereka berhasil karena kata Chahee studio itu dibuka untuk umum.
Aku berjalan bersama Mino menuju studio. Aku tak nyaman berada disampingnya, tapi... dia cukup bisa diandalkan dalam mengajariku bernyanyi rap, jadi tidak ada pilihan selain menahan rasa risih di diriku saat ini.
Saat kami hampir sampai di studio, tiba tiba Mino mengalihkan perhatianku dengan berkata kalau Lisa berada di kedai tepi jalan bersama Chahee.
"Hoiiihh... apa Chahee mengincar wanita itu? Hahahha" Mino berkata sambil tertawa.
Aku melihat Chahee mengusap bibir Lisa, dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Aku tidak bisa melarang Lisa,
Aku yang memintanya untuk melakukan ini pada Chahee.
Tapi... aku benar benar belum rela membagi Lisa dengan Chahee
"Ayo jalan!" Ucapku ketus pada Mino dan langsung berjalan meninggalkan Mino yang masih tersenyum melihat Lisa dan Chahee.
Mino berlari mengejarku, dan aku mengacuhkanya hingga kami sampai di depan studio. Kami melihat Tzuyu sedang memeriksa beberapa kertas trainner di ruang tunggu studio, dan Mino dengan seperti biasa bertingkah tengil di depan Tzuyu,
"Hai Tzuyu!" Sapa Mino dengan tersenyum bangga merangkulku.
Ingin rasanya ku pelintir tangan Mino di pundak ku, tapi mau gimana lagi... aku membutuhkan dia!
"Hai...." Tzuyu membalas sapaan Mino, dan kemudian melihatku sambil tersenyum, "Hai Jennie, kau datang lagi... hehe" Tzuyu menyapaku ramah, aku bertemu denganya kemarin dan harus kuakui... dia wanita yang menarik.
Aku membalas pertanyaan Tzuyu dengan tersenyum manis sambil menangguk padanya.
"Baiklah... kami akan berlatih, sampai jumpa Tzuyu!" Mino berkata dan kemudian kami masuk untuk berlatih.
1 jam lebih aku berlatih bersama Mino. Aku kesulitan dalam melafalkan lirik dengan campuran bahasa inggris dan korea, dan kata Mino aku harus sering senam wajah agar mulutku lebih elastis untuk bergerak cepat.
Aku keluar ruangan bersama Mino, dan ternyata teman teman Mino menunggu kami di depan pintu.
"Kalian sudah selesai?" Taeyang bertanya sambil menepuk pundak Mino dengan senyum menggoda.
"Kau berhasil mengajak dia jalan, hebat juga kau! Hahahaha" Bobby bicara ikut menggoda Mino dan melirik diriku.
Cih... Mino pasti merasa bangga karena ini, tapi sorry Mino... kita disini untuk berlatih, bukan jalan!
Aku melihat senyum bangga Mino pada temannya, aku tau... mereka pasti sering membicarakan aku akhir akhir ini.
"Jennie... teman mu sedang berlatih bersama Tzuyu yah? Aku melihatnya di room B" Taeyang menunjuk room B untuk memberitahuku kalau Lisa berada disana. Awalnya aku hanya mengangguk biasanya, aku tau Lisa akan kesini dan ikut berlatih, sampai akhirnya aku terkejut saat Bobby berkata kalau Tzuyu dan Lisa terlihat mesra di dalam.
"Apa maksudmu Bobby-ssi?!" Aku bertanya dengan tegas, aku tak percaya Lisa bermesraan dengan wanita.
"Y-Yaaaaa..... tadi aku lihat mereka sedang asik berdansa berdua. Mereka terlihat akrab dan serasi saat berdansa," Bobby sedikit ragu menjawabku, tapi dia lancar menjelaskan padaku kalau Lisa sedang berdansa.
Jennie... sabar.... sabar...
Jangan terlalu mengamuk, kau harus menahan emosi mu Jennie Kim!
"Yaakk Jennie-yaa, apa temanmu itu seorang Player?? Kita baru saja melihat dia mesra dengan Chahee, lalu sekarang dia bersama Tzuyu?? Woahh... daebak!" Mino bertepuk tangan sambil tertawa sinis membicarakan Lisa. Aku berlari menuju room B, aku tak akan percaya sampai aku liat dengan mata kepalaku sendiri. Hingga akhirnya aku melihat Lisa sedang menggendong Tzuyu di punggungnya dan berjalan keluar ruangan.
Seketika hatiku membeku, dadaku merasakan perih teriris, dan hanya bisa terdiam melihat betapa wajah Lisa kini berdampingan dengan wajah Tzuyu yang bersandar di bahunya.
"Gwencana, aku akan bawa kamu ke klinik!" Lisa bicara dengan tergesa-gesa sambil menoleh ke wajah Tzuyu dan berjalan melalui ku begitu saja, dia bahkan tidak memerhatikan diriku yang tengah berdiri menatapnya.
Nyesssssss
Sesak di dadaku semakin terasa sesaat Lalisa benar benar tidak kembali, dia pergi bersama Tzuyu dengan cara menggendongnya.
Are you kidding me, Lalisa?!!
Kau mencium bibirku kemarin, dan sekarang kau menghiraukan aku demi seorang wanita yang bahkan baru kamu kenal hari ini!
Asshole!!!
Aku berlari meninggalkan Mino di studio. Aku menangis di sepanjang jalan menuju apartement, air mata ini terus jatuh dan aku hanya mampu menyeka nya sambil terisak,
Apa yang kau lakukan padaku Lisa??
Kenapa aku menjadi lebih sakit dari sebelumnya??!!
Aku hanya mengizinkan kamu dengan Chahee, tidak untuk Tzuyu!
Tzuyu terlalu berat untuk menjadi sainganku.
End Jennie Pov
"Kau harus berhati hati, untunglah kaki mu tidak apa apa." Lalisa memapah Tzuyu turun dari ranjang pasien di klinik.
"Gips nya jangan di lepas sampai kakinya tidak bengkak ya." Pesan dokter pada Tzuyu yang kini kakinya di balut Gips.
"Ne... Kamsahamida." Tzuyu menundukan kepala dengan wajah meringis sakit di kakinya.
"Aku akan memapahmu sampai taxi." Lalisa memapah tubuh Tzuyu keluar dari klinik.
"Maafkan aku Lisa, kau jadi repot karena diriku." Tzuyu menolehkan wajahnya menghadap Lisa, seketika dirinya terpana dengan wajah rupawan Lalisa. Matanya tak berkedip menatap bibir, hidung dan mata Lisa dari samping.
"Ya Tuhan, Sempurna" Batin Tzuyu terkagum dengan paras yang Lalisa miliki.
"Stop stop!!" Lalisa mengangkat tangan kearah taxi yang lewat di jalan besar.
Mobil sedan berwarna kuning itu pun berhenti di hadapan Lalisa dan Tzuyu. Sesaat Lalisa menolehkan wajahnya, membuat Tzuyu membuyarkan lamunanya tentang wajah Lisa, Lisa pun mengarahkan tubuh Tzuyu untuk masuk ke dalam.
"Pulanglah dengan selamat!" Lalisa tersenyum dan melambaikan tangan,
"Ne... aku akan tetap ke studio! Kau harus datang untuk menemuiku lagi. Kita belum selesai latihan, Ingat!" Tzuyu berkata dengan semangat untuk berlatih lagi bersama Lisa, walaupun kakinya bahkan belum bisa di gerakan.
Lalisa hanya tersenyum dan mengangguk pada Tzuyu.