Tangannya masih terasa sakit, dan dia masih jijik dengan sentuhan Revan semalam. Brian memperlakukannya seperti anak kecil yang rapuh. Menyelimutinya dengan perlahan, dan menjaganya hingga dia terlelap. Dan saat keesokan paginya membuka mata, sudah ada roti bakar dan s**u hangat yang tersaji di atas nakas di samping tempat tidurnya. Brina tersenyum mendapati sikap manis Brian itu. Selalu pria itu bisa mengalihkan semuanya. “Sudah bangun, Yank?” Itu suara Brian saat Brina mulai terduduk di atas kasur. Sepertinya hari masih sangat pagi karena Brina menatap tirai kamar yang belum dibuka dan cahaya lampu temaram dari kamar mereka. “Kenapa tahu aku sedang kelaparan?” Brina mengambil nampan yang berisi roti bakar dan s**u hangat itu. Langsung meneguk s**u hingga setengahnya dan melahap roti b

