Burn masih tidak berpuas hati dengan penjelasan Barbara. Burn tidak mahu Barbara hanya di bohongi oleh Danial dan keluarganya. Burn merasakan Mawar seperti berniat buruk terhadap Barbara. Tapi Burn tidak mempunyai bukti. Burn telah mengarahkan seseorang untuk menyelidik tentang Danial.
Burn ini menuju ke kediaman Pak Anton. Burn ingin Pak Anton kembali bekerja di villa Barbara.
" Permisi... Ini rumahnya Pak Anton..?"
"Iya.. Sebentar ya.. Boleh saya tahu anda ini siapa..?
" Beritahu Pak Anton, Burn ingin menemuinya. "
" Baik Pak Burn.. Sila tunggu sebentar ya.."
Ivan yang sedang menyiram pokok bunga segera memanggil Pak Anton di dalam rumahnya.
" Om... Om.. Ada tamu mau jumpa Om.."
" siapa Tamu nya.. "
" Katanya namanya Burn.."
" Owhh.. Tuan Burn.. Itu om kepada Nona Barbara.. Ajak Tuqn Burn masuk Van.."
Ivan mengajak Burn masuk ke dalam rumah sementara menunggu Anton. Ivan juga telah menyiapkan air dan camilan sementara Burn menunggu.
" Pak.. Sila minum air nya.. Saya Ivan. Anak saudara nya Pak Anton. Saya minta izin mau sambung menyiram bunga dulu ya pak.. Permisi..."
" Baiklah Ivan.. silakan.."
Burn berfikir di dalam hatinya sambil melihat Ivan berlalu..
'Lebih baik aku menjodohkan Barbara dengan anak saudara Pak Anton ini.. Berbudi bahasa, baik dan tampan juga .. Keluarga nya juga sudah di kenal..Dari pria entah mana- mana yang di sukai Barbara itu..
" Tuan Burn.. Tuan Burn.."
" Iya.. Iya. "
" Lagi merenung apa Tuan.. "
" Ngak apa- apa.. Maafkan saya pak kerna datang ke mari tidak memberitahu Pak Anton.."
" Ngak apa- Apa Tuan.. Ada apa Tuan datang ke mari.."
" Saya ke inti nya saja pak.. Saya mau Pak Anton kembali bekerja untuk menjaga anak saudara saya.."
" Tapi Tuan.. Nona Barbara sepertinya tidak memerlukan saya lagi. "
" Barbara masih muda Pak.. Dia tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya.."
" ermmm.. saya fikirkan dahulu Tuan.. Saya memang sayangkan Nona Barbara seperti anak saya.. Tapi nona Barbara tidak percaya kepada saya. Ibu kepada pacarnya itu ngak benar tuan.. mereka hanya mau harta Barbara.."
" Bagaimana Pak Anton tau??"
" Sebenarnya Pak anton yang menyuruh polisi menangkap Danial pacarnya Barbara dan ibunya kerna memberikan Barbara obat terlarang. Tapi bila kasus ini sampai ke kantor polisi.. Hanya Danial yang di dakwa kerna penyalah gunaan narrkoba."
" Ada buktinya pak Danial itu memberikan Barbara obat terlarang."
" Seharusnya ada Pak.. Sudah di ambil oleh polisi. tapi polisi hanya membuktikan Danial positif narkoba.. itu Sahaja.. ivan juga ada menanyakan teman nya yang bekerja di sana.. Teman nya memberitahu bukti- bukti itu telah hilang."
Pak Anton menarik nafas panjang.
" Saya juga sedang mencari info tentang Keluarga Pacarnya Barbara itu pak.. Ternyata mereka ini sangat licik ya.. Saya mohon pak.. kembali lah bekerja untuk melindungi putri alyarham kakak saya itu.. Pak Anton ngak perlu berbuat apa- apa untuk menghalau mereka.. Cuma tolong saya awasi gerak geri mereka.."
" Tuan.. saya juga ada menyelidik tentang mereka itu.. Tuan lihat foto- foto ini semua.. Mereka itu bukan keluarga yang baik- baik tuan.. Lagi pula Danial itu Pacaran sama anaknya Mawar.. Danial itu hanya anak angkat. Saya juga curiga dengan gambar ini.. Tuan kenal kan siapa pria ini.."
Burn melihat beberapa foto di atas meja. Ada foto Danial bersama Melati yang berpelukan di bar, Foto mereka makan malam dan akhir sekali foto Mawar bersama seorang pria yang di kenalinya. Burn menggenggamkan jari jemarinya. Burn tidak akan melupakan pria itu. Pria yang telah membunuh Kakaknya Benjamin Ayah kepada Barbara.
" Barbara pasti ngak akan percaya semua ini jika saya memberikan bukti sekali pun.. Saya ingin Barbara sendiri yang melihatnya dengan matanya sendiri pak.. Emm.. Pria ini.... Saya ngak mungkin melupakan pria b******n itu.. Sehingga sekarang dia masih lagi menjadi buronan polisi... Apa b******n itu pacarnya Mawar pak..?"
"Menurut info yang saya terima.. Melati itu anak kepada pria itu tuan.."
" Saya akan menangkap b******n itu pak.. Dia ngak akan terlepas dari hukum."
Burn merahsiakan kematian ibu dan ayah Barbara kepada nya. Dia tidak mahu Barbara bertambah tertekan kerna ibu dan ayahnya telah di bunuh.
Burn melutut di depan Pak anton..
" Pak.. tolong pak.. Saya mohon..Lindungi anak saudara saya. Sehingga saya boleh menangkap pembunuh itu."
" Bangun tuan.. ngak perlu begini.. Iya tuan besok pagi saya akan segera ke sana."
" Boleh ngak saya ikut sekali.."
Ivan yang sedari tadi mendengar perbicaraan mereka tiba- tiba bersuara. Burn tanpa berfikir panjang terus setuju.
" Tapi kamu kan.."
" Boleh.. ngak jadi masalah.. esok saya juga akan menunggu kalian di villa Barbara.
Akhirnya Burn meminta diri untuk pulang setelah meyakinkan pak anton untuk pulang ke villa Barbara semula.
" Apa yang kamu lakukan Ivan.. Apa kamu juga mau bekerja di sana.. ?"
" Ngak.. Aku cuma numpang aja.. seperti ibu pacarnya Barbara itu. "
Pak anton hanya menggelengkan kepalanya. dia tidak tahu apa yang di fikirkan oleh anak saudaranya ini.
***********
Keesokkan harinya.. Burn terlebih dahulu datang ke villa Barbara.. Barbara kaget meliat om nya telah datang ke rumahnya pada awal pagi..
" Om.. Awal sekali datangnya.. Mari sarapan bersama ku.. "
" Bentar.. Om menunggu seseorang ni.. "
" siapa om.."?
Semua mobil datang ke villa Barbara.. Barbara melihat pak Anton dan seseorang yang pernah dia lihat. Tapi dia tidak ingat di mana..
" Bar.. hari ini Pak anton akan kembali bekerja seperti biasa menjadi KEPALA pembantu di rumah ini.. Yang itu anak saudaranya Ivan yang akan menjaga Pak Anton.. Mulai hari ini juga pak anton dan Ivan akan tinggal di Villa kamu. bukan di rumah pembantu.."
Burn sengaja menguatkan suaranya pada perkataan Kepala itu.. Kerna ketika itu Mawar juga sedang melihat mereka dari beranda kamarnya. Barbara kaget mendengar kata- kata yang barusan keluar dari mulut om nya.
" Om.. Apa aku salah dengar..? Tapi om.. Villa aku ini...."
Belum sempat Barbara menghabiskan bicaranya. Burn segera mengatakan sesuatu.
"Villa kamu kan besar.. Kamar nya juga banyak.. Pak anton juga ngak sihat. ngak salah kan menumpang di villa kamu.."
Burn seperti memulangkan kembali kata- kata yang di bicarakan Barbara kepadanya kelmarin.
Barbara ngak mau berdebat dengan omnya.. akhirnya dia bersetuju.
"Ya udah. Tinggal aja di mana- mana kamar yang mereka suka.. aku masuk dulu om.. Permisi... "
Barbara segera masuk ke villa nya untuk bersarapan. Dia ngak mau ribut di hadapan orang.
" Ya udah.. Pak Anton dan Ivan.. sila masuk.. Bawa barang- barang kalian ke kamar. Bik.. sudah di bersihin kamarnya.."
" Udah tuan.. Silakan masuk Pak anton dan mas ganteng.."
Bibik malu- malu ketika melihat Ivan yang tampan itu.
" Baik kamu sama aku aja bik.. "
Pak Anton bercanda dengan bibik itu..
Burn dan Ivan sama- sama tertawa melihat wajah bibik yang merah.
************
Burn mengikuti Barbara untuk bersarapan pagi . Pak Anton dan Ivan tidak mengikut mereka. Kerna beralasan sudah bersarapan pagi.
" Nati kamu ke kantor dengan om aja".
"Teserah om.."
Barbara terus memakan sarapanya tanpa peduli akan omnya.
Akhirnya Barbara dan Burn menuju ke kantor bersama - sama. Barbara masih mendiamkan dirinya.
" Kamu marah sama om"
" sepatutnya om bincang dulu kan sama aku.. Pak Anton memang lah aku kenal.. Tapi itu anak saudaranya aku ngak kenal.. Tinggal di villa ku lagi segala.."
" Tapi om kenal Ivan Bar.. Kamu juga menumpangkan orang lain tanpa om tau kan.."
" Aku malas berdebat sama om.. "
Burn hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Barbara memeluk dirinya sendiri dan memandang keluar jendela .
*******
Mawar dan Melati bersarapan agak lewat. Sejak berada di villa Barbara mereka sering kali bangun lewat dan bermalas - malasan .
" Bunda .. hari ini kita shopping yuk.. "
" Apa kamu ngak mual- mual lagi.. "
" Ngak lagi bun..Mari yuk bun.. "
" Iya .. iya.. Lepas ini kita ke mall.."
Mawar mencari- cari supir untuk membawa mereka ke mall.. Kerna Mawar mahupun Melati tidak bisa mengetir.
" Kemana semua orang di villa ini.. ??"
Selepas mereka bersarapan. Mawar baru perasan tidak ada seorang pun pembantu di villa ini..
" Mungkin lagi cuti bun.. "
" Ngak mungkin kan cuti mendadak semuanya.."
" kita naik taksi aja bun.. aku malas mau menunggu - nunggu.."
" iya.. iya.. Awas mereka smua nanti aku pulang dari mall. "
Akhirnya mereka berdua menaiki taksi menuju ke mall..
***********
Sementara di villa Barbara. Pak Anton , Ivan dan semua pembantu ,koki, supir dan tukang kebun berkumpul d rumah pembantu.
" Maafkan saya memanggil anda semua di sini. Nama saya Ivan Saya mewakili Tuan Burn untuk memanggil kamu semua di sini. Saya ingin kamu semua bekerjasama. Atas permintaan Tuan Burn kamu semua harus menjadi mata- mata kepada Tuan Burn.. iaitu memberitahu segala pergerakan atau perbualan dari Mawar dan Melati.. Apa semua setuju.."
" kami setuju pak.."
Mereka sebulat suara setuju dengan kata- kata Ivan.
" Pak.. Boleh kami melawan kata- kata mereka pak.. soalnya mereka itu selalu aja memerintah kami.. menyuruh itu ini".
Tanya seorang koki yang sering di marahi Mawar.
" Ermm.. Kamu boleh aja memberi alasan tanpa perlu melawan.."
" Kami akan cuba pak.. Tuan burn mau mengusir mereka ya pak..?"
" itu saya tidak pasti.. Tapi saya harap kamu merahsiakan semua ini dari sesiapa pun.."
" Baik pak.. Mereka itu memanfaatkan harta nona Barbara aja.."
Kata supir yang sering membawa Mawar ke mall.
" Sekarang boleh bekerja seperti biasa.."
" Baik pak.."
Jawab mereka serentak.