mengambil kesempatan

1396 Kata
Mawar yang baru bangun dari tidur nya mencari- cari telfon nya yang berdering. Don di sebelahnya masih lagi tidur dengan lena. Mawar yang membaca pesanan whatapp dari Barbara terus membangunkan dirinya. Mawar tidak sangka, walaupun Danial di masukkan ke dalam penjara dirinya masih juga dapat mencapai hasrat untuk memiliki kemewahan. " Apa..?? Apa gadis ini bodoh.." " Kenapa sayang?" " Gadis kaya itu menawarkan aku dan Melati tinggal bersamanya ". " Apa benar?" " Benar la.. coba di baca pesanan whatapp nya ini.. ". Don segera membaca pesanan yang di kirim oleh Barbara kepada Mawar. " Mungkin kerna dia terlalu mencintai Danial.." "Cinta yang akan membuatkan dirinya merana.." Mawar tersenyum membayangkan kemewahan yang dia nikamati sebentar lagi. " Apa kamu setuju untuk tinggal di sana.."? " Sudah semestinya Don.. Aku ngak perlu lagi menjual bunga untuk menyara hidup.." " Tapi kau boleh tinggal di sini bersamaku.." " Don.. sudah ku katanya sebelum ini pada mu bukan.." " Baiklah jika begitu.." Don segera bangun dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri. Don sebenarnya marah kerna Mawar tidak mahu tinggal bersamanya. Mawar yang masih berada di kasurnya masih membayangkan diri kini menjadi seorang jutawan. ************ Melati juga telah sedar dari tidur yang panjang. Kini melati berada di sebuah kamar yang indah. Banyak perhiasan mewah yang ada di kamar itu. Kasur yang dia tiduri juga sangat nyaman. Tidak seperti kasur yang ada di rumahnya yang sudah lama dan keras. Melati perlahan - lahan bangun dari tempat tidurnya. Dia melihat keseluruhan kamar itu dan Melati menyukai nya. Seseorang telah mengetuk pintu kamar Melati. tokk..tokkk.. Melati segera membukakan pintu kamarnya. Seorang pria yang agak tampan berada di hadapannya. Tetapi Melati perasan wajah lelaki itu mirip dirinya. " Mari sarapan Mel.." " kamu siapa.. Dimana aku."? " Tanya sendiri kepada bunda mu.." Don tersenyum mesra kepada Melati.. " Apa bunda juga di sini..??" "Iya.. Mari ke ruang makan.. Bunda juga sedang menunggu mu." Melati mengikuti Don ke ruang makan. Melati melihat Bundanya tengah menunggu nya di ruang makan. Mawar sebenarnya sedang membalas pesanan whatapp Barbaara. *to Barbara - Maafkan tante Bar.. Semalam tante lagi keluar sebentar.. Bila aja tante pulang. Rumah lagi kosong.. Tante fikirkan Danial lagi ngantar kamu pulang.. Tapi ada jiran yang memberitahu tante Danial di bawa ke kantor polisi.. Penyakit Tante terus menyerang kembali . Mujur ada yang bantu bawa ke rumah sakit. Tante sedih Danial di tangkap polisi.. Ngak tau salahnya apa.. Tante ngak mau juga menyusahkan kamu Bar.. Apa ngak apa- apa tante dan Melati adiknya Danial tinggal di sana.? Barbara tidak mengambil masa yang lama untuk membalasnya. Kerna dia sememangnya menantikan Balasan dari Mawar. *From Barbara - Apa Tante baik- baik aja.. Mau aku melawat Tante di sana..? Tenang aja tante.. Ngak akan ada siapa yang melarang aku membawa sesiapa pun di rumah ini.. Kamar di rumah ku juga banyak.. Jadi ngak perlu risau tante.. Kapan tante keluar rumah sakit.. Aku jemput ya.. Tante boleh terus ke rumah ku.. *To Barbara- Ngak perlu susahkan kamu Bar.. Esok pagi tante bisa keluar.. Ngak payah menjemput tante.. Cuma bagi alamat kamu.. Nanti tante dan Melati datang ke sana.. Barbar pun merasa senang mendengar Mawar akan tinggal bersamanya. Barbara tidak tahu akan bahaya yang menantinya nanti. " Bunda.. Bunda..?" " Iya Mel.. Ada apa??" " Sibuk bangat deh.. Di panggil dari tadi ngak dengar.." " Esok kita akan tinggal di villa Barbara.." " Iya.. Gimana?? owhh ya.. Kak Danial mana??" Melati baru teringat pada Danial apabila Mawar menyebut nama Barbara. " Di tangkap polisi.. " " Apa.. ? Kenapa Bun.. Aku mau melawat kakak di sana sekarang.." Melati segera bangun dari kursinya dan ingin pergi tapi di cegah oleh Mawar.. " Kemana kamu?? Kita sekarang ini lagi di tengah hutan. Mau naik apa kamu ke sana.. ? Duduk dulu.. Bunda mau bicara.." " Apa kata kita sarapan dulu sebelum kamu berdua ingin berbincang." Don akhirnya bersuara. Dia sudah menunggu dari tadi untuk bersarapan. " Bunda.. Pria ini siapa.. Kita di mana? Melati hampir lupa untuk menanyakan keberadaan mereka dan pria yang ada bersama mereka. " Emm.. Kita sarapan dulu Mel.." Akhirnya mereka bertiga bersarapan tanpa berbicara sedikit pun. Sesudah sarapan. Pembantu segera mengemaskan meja makan itu. Don membawa Mawar dan melati ke ruang Tamu untuk berbicara. "Jadi om ini siapa Bun?" " Aku bukan om mu.." Tegas Don kepada Melati.. Don tidak mahu anaknya sendiri memanggilnya dengan panggilan om. Melati terus mendiamkan dirinya dan memandang bundanya. "Ini teman bunda Mel.. ngak perlu kamu tau dia siapa. Cukup aja pria ini teman Bunda.." " Apa teman tidur bunda.. " Don hanya tersenyum mendengarnya.. " Diam kamu Mel.. bukan sekarang mau berdebat Mel.." " Aku bukan mau berdebat bun.. Tapi aku bingung.. Sekarang aku di mana? Kenapa aku berapa di sini..? Kak Danial di penjara pun aku ngak tau.." " Danial di penjara kerna di percayai positif narkabo." Mawar memberitahu Melati apa yang telah Don beritahu padanya. Don mempunyai mata- mata di kantor polisi. Kerna itu dia selalu sahaja lolos dari di tangkap. " Narkoba.. ? Aduhh.. Bukan Kak Danial sudah lama berhenti Bun.." " Mana bunda tau.." " Kenapa kita harus tinggal di villa gadis itu.. kenapa ngak di rumah kita aja.. " " Kamu fikir rumah itu bayarnya pakai apa.. Uang nya turun dari langit.." " Atau kita boleh tinggal di sini bun.. Tinggal bersama TEMAN bunda ini.." Melati memandang Don yang dari tadi hanya mendiamkan diri mendengar perbualan mereka. " Ngak.. sini terlalu jauh dari kota.. Barbara sudah berjanji akan menjaga kita dengan baik.. kamu faham apa maksudnya kan.. ?" " Apa kita akan menjadi orang kaya.. " " Bijak kamu sayang.." "Terus.. bila kita akan ke sana bun.." " Besok pagi aku akan hantar kamu ke sana.. Untuk hari ini kamu berdua istirehat saja di sini. " Akhirnya Don memberikan kata putus dari perbicaraan Mawar dan melati. ********* Akhirnya Mawar dan Melati tiba ke villa Barbara. Barbara menyambut mereka berdua dengan gembira sekali. " Silakan masuk tante.. Dan kamu pastinya Melati kan.. Kenalin Aku berbara.." " Makasih Bar.. Ini barang- barangnya mau taruh di mana Bar.." " Bentar lagi ada pembantu yang mengangkatnya di kamar kalian.. Aku menempatkan tante dan Melati satu kamar setiap sorang.. Atau mau bersama aja?" " Aku ngak mau satu kamar dengan bunda.. Apa ada kamar mandi di dalamnya. ?Aku ngak mau kamar mandinya di luar" Mawar memandang Melati dengan tatapan marah.. Mereka baru sahaja datang.. Tapi Melati sudah meminta macam-macam. " Iya Mel.. Ada kamar mandi sekali di dalam nya. Kalian sudah sarapan ngak.. Kalau belum mari sarapan dahulu.." "Baik Bar.. " Mawar dan Melati mengikut Barbara ke ruang makan. Alangnya terkejutnya Mawar pelbagai jenis makanan telah terhidang. Mereka berdua segera duduk di meja makan dan mengambil makan tanpa segan silu. Para pembantu hanya berpandangan antara satu sama lain. " Maaf ya Tante Mel.. aku ngak dapat menemani kamu berdua sarapan. Anggap saja rumah ini macam rumah kamu sendiri ya.. Aku pergi ke kantor dulu." "Baik Bar..." Barbara pun pergi meninggalkan mereka berdua. Ketika Barbara berada di dalam mobil.. Mawar datang dan mengetuk cermin mobil itu.. " Ada apa tante?" " Bar.. begini.. Tante kan mau memberi baju segala.. tapi kan uangnya tante....." "Bentar tan..Ini ambil kad aku.. kamu berdua boleh belanja apa yang kamu mau. kata laluan nya nanti aku whatapp ke tante." " Baik Bar.. makasih ya.." Supir yang menggantikan Pak Anton yang sedang bercuti hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak berani untuk menegur tindakan Majikan nya. Hanya Pak Anton yang berani menegur Barbara. Selesai bersarapan. Mawar mengarahkan seorang supir untuk membawa mereka ke mall untuk membeli belah. Mawar mengatakan itu adalah arahan dari Barbara sendiri. Supir itu terpaksa menurut kehendak Mawar. Mawar dan Melati hampir memborong keseluruhan pakaian, tas branded ,sepatu dan bermacam - macam lagi barangan branded. Barbara yang masih berada di kantor terkejut mendapat bill yang bernilai puluhan juta di belanjakan oleh Melati dan Mawar. Tapi Barbara tetap bersangka baik mengatakan mungkin itu cara Mawar melupakan kesedihan kerna anaknya di tangkap polisi. Barbara sempat melawat danial di penjara sebelum pulang ke rumahnya. Alang kah terkejutnya Barbara melihat barang- barang yang memenuhi rumahnya. " bik.. Barang siap ini.. kenapa begitu banyak sekali..?" " Ini kepunyaan bu Mawar dan non Melati non.." " Ya udah.. simpan ke dalam kamar lain nya.. Aku ngak mahu barang- barang ini memenuhi rumah.." " Baik non.." Barbara terus masuk ke kamarnya. Dia sangat lelah untuk memikirkan pelbagai masalah.. Akhirnya Barbara tertidur di atas kasurnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN