Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
لَمْ أَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
Saya belum pernah melihat solusi untuk dua orang yang saling jatuh cinta, selain nikah (HR. Ibnu Majah 1847, Mushannaf Ibn Abi Syaibah 15915 dan dishahihkan Al-Albani).
Fajar dan Lail rutin mengunjugi makam kedua orang tua mereka, untuk sekadar bercerita mengenai hari-hari yang mereka lalui, apa yang mereka lakukan dan betapa rindunya mereka kepada orang tuanya.
Jika saja orang tua mereka masih hidup pastilah mereka akan menjadi keluarga yang bahagia. Ibunya akan memasakkan makanan yang enak, ayahnya akan mendengarkan celotehan panjangnya untuk kemudian diberikan petuah-petuahnya.
Masih teringat dulu sewaktu dia SMP, teman-temannya merasa iri karena melihat keluarga Lail yang perekonomiannya tergolong biasa-biasa saja. Tetapi, kasih sayang yang diberikan keluarganya tidak pernah kurang satu apapun.
Setelah memanjatkan do'a untuk mereka, Lail memutuskan untuk menepati janjinya kepada Zahra. Lagipula dia sedang tidak ada pekerjaan ataupun janji yang lain.
"Kakak mau pergi sama Haidar dan anaknya, mungkin nanti sore mbak sudah pulang."
"Lah, kok mbak jalan sama Mas Haidar. Nanti bisa timbul fitnah loh kak, mas Haidar kan sudah lama beristri" ucap Fajar yang tahu bahwa Haidar sudah lama menyukai kakaknya namun harus pasrah dengan perjodohan kedua orang tuanya.
"Kakak bareng Fira kok, nggak mungkin dong kami cuma berdua, dia juga bawa Zahra, anaknya. Lagipula kami tidak punya hubungan spesial."
"Hmm, kirain. Fajar nggak mau nanti kakak jambak-jambakan karena dikirain perebut suami orang." Lail menyenggol bahu adiknya
"Nggak akan lah, toh mereka juga sudah bercerai" ucap Lail, Fajar menatap penuh arti.
"Jangan-jangan dia ngajakin mbak Lail jalan karena mau dijadiin istri, ibu tirinya Zahra lagi." Lail melotot ke arah adiknya itu.
"Hush, sembarangan. Ya udah, gih kamu berangkat duluan nanti ketinggalan bus. Mbak dijemput Fira kok di sini." Fajar mengangguk dan melambaikan tangan ke arah Lail
"Fajar pergi ya kak, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam." Jawab Lail
***
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, Fira dan Haidar datang, tentu saja dengan si kecil Zahra yang sudah duduk manis dan memegang boneka barbienya. Zahra kemudian berlari memeluknya dan memberikan kedua tangannya untuk digendong
"Aku rindu tante" ucap anak yang bahkan belum genap berumur enam tahun itu
"Tante Lail, aku udah hafal surah An-Naba sampai ayat lima loh" ucap Zahra antusias menaikkan kesepuluh jarinya.
"Oh ya? Masyaa Allah pinter Zahra. Kalau begitu coba dibacakan, tante mau dengar"
Zahra mengangkat kedua tangannya dan memulai dengan istiadzah "Audzubillahi minassyaitonirrojim, bismillahirrohmanirrohim, amma yatasaa'aluun a'nin-naba'il-a'ẓiim, allazii hum fiihi mukhtalifuun, kallaa saya'lamun, tsumma kallaa saya'lamun" Zahra dengan semangat melantunkan surah An-naba hingga ayat kelima belas dengan tajwid yang baik, Masyaa Allah. Diam-diam dibalik kaca spion Haidar melihat interaksi antara Lail dan Zahra dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Fira pun diam-diam melihat bagaimana pandangan Haidar terhadap sahabatnya, dia tersenyum dan menyenggol bahu Lail "Kenapa Fir?"
"Nggak" ucap Fira tersenyum penuh arti, Lail hanya mengernyitkan dahinya.
Mereka sampai di pantai yang sangat indah, dua jam duduk di mobil terbalaskan dengan keindahan pantai ini. Lail lupa kapan terakhir dia merasakan desauan angin di pantai dan indahnya laut. Di sebelah kanan pantai ada sebuah hiasan dengan banyak mawar putih dengan sebuah meja berwarna putih serta tiga kursi, satu untuk penghulu dan dua untuk mempelai perempuan dan mempelai lelaki. Sepertinya ada pesta pernikahan, kemudian di pinggir laut banyak anak kecil bermain bola, membuat istana pasir dan para keluarga yang menikmati indahnya laut.
Mereka berempat menggelar karpet dan menyusun bekal yang Haidar sengaja siapkan, berbagai macam buah dan s**u cokelat untuk Zahra.
"Aku mau ke sana dulu ya, mau foto-foto" ucap Fira membawa topi pantai miliknya, Lail mengangguk
"Nanti aku nyusul" ucapnya, Fira melambaikan tangan dan membawa kamera polaroid yang dia ambil diam-diam di meja belajar adiknya, kalau adik perempuannya tahu pastilah adiknya akan mengamuk.
"Sekarang, Zahra makan dulu, habis itu baru boleh main ya" ucap Haidar lembut
Zahra menggeleng "Main dulu ayah, baru makan" ucapnya
"Zahra cuma makan roti dari pagi, sekarang makan dulu baru boleh main" ucap Haidar tegas namun tetap lembut.
"Benar kata ayah, Zahra makan dulu ya sayang, kalau Zahra sudah selesai makan, kita buat istana pasir yang besar" bujuk Lail
"Istana pasir besar?" Lail mengangguk "Besar banget kan?" Lail mengangguk sekali lagi. Haidar lagi-lagi tersenyum, bahkan sekarang anaknya itu lebih menuruti perkataan Lail dibanding perkataannya.
"Sekarang dibuka mulutnya, Aaa'" ucap Haidar, Zahra menutup kedua mulutnya dengan tangannya yang kecil.
"Maunya disuapin tante Lail" Haidar pura-pura cemberut dan memberikan sendok dan mangkuk makanan Zahra kepada Lail, bahkan Haidar lupa kapan terakhir Zahra makan dengan lahap dan gembira seperti ini.
***
Syafiq mengendarai mobilnya menuju tempat pernikahan Suster Manda, dia sendiri. Tadinya Yasmin menawarkan diri untuk menemaninya, tetapi dia menolak halus, tidak baik bagi mereka untuk berduaan di dalam mobil dengan perjalanan yang ditempuh sekitar dua jam.
Syafiq mengenakan jas biru tua dengan dasi berwarna maroon, begitu sampai di pesta, tentu saja para suster dan dokter muda menahan napas melihat pesona anak dari Dokter Adnan tersebut.
"Woyy" Leo berteriak dan melambaikan tangan ke arah Syafiq, mengisyaratkan untuk ke sana.
"Lama banget lo sampainya" ucap Leo
"Macet" jawab Syafiq singkat "Aira mana? Gue kira lo bareng dia" tambah Syafiq
"Ruangan pengantin, mereka ternyata sahabatan waktu SMA" jawab Leo, Syafiq mengangguk seadanya.
"Assalamualaikum Warohmatullohi wabarakatuh" ucap pembawa acara "Baik, para hadirin kami persilahkan untuk duduk di kursinya masing-masing karena acara akan segera dimulai" ucapnya
"Pertama-tama kita akan membuka acara ini dengan sama-sama mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim" para hadirin bersama-sama mengucapkan bismillah "Puji syukur kehadirat Allah Subhanawata'ala yang telah mempertemukan saudari Amanda Humairah Latief dengan saudara Muhammad Yusuf Nabil"
"Untuk itu kami persilahkan mempelai pria untuk maju ke meja akad untuk mencapan ijab qobul" mempelai pria maju dengan gagah, dia menjabat tangan penghulu dan mengucapkan ijab qobul.
Setelah ijab qobul selesai, Suster Manda dengan balutan kebaya berwarna putih dan jilbab senada menuju lelaki yang kini resmi menjadi suaminya, mencium tangannya dan mempelai pria mencium dahi istrinya.
Para hadirin bersorak dan bergembira menyaksikan ikatan suci kedua mempelai. Syafiq keluar untuk mencari udara segar, dia menyampirkan jasnya di bahunya, sesekali dia mengamati anak kecil yang tengah bermain bola, tetapi pandangannya teralihkan melihat wanita yang sudah lama tidak ditemuinya, namun selalu ada di dalam pikirannya, Lail, Laila Syauqia.
Sementara Lail berlari mengejar seorang anak kecil yang lucu, dia tersenyum dan sangat berbahagia. Fira masih asik berfoto ria, tak lupa mengabadikan foto Lail, Zahra dan Haidar, alasannya sebagai kenang-kenangan. Sementara, Haidar ke toilet sekaligus membeli juz strawberry kesukaan Zahra.
Syafiq menyisiri pantai, melihat pemandangan dan beberapa kapal yang terlihat kecil di tengah laut karena jarak mereka yang teramat jauh.
Dahulu, waktu keluarga mereka masih lengkap, ayah kandungnya, ibu dan dia selalu mengisi hari liburnya dengan berenang di pantai, pada sore hari mereka akan melihat senja sembari membakar ikan hasil tangkapan ayahnya dan diakhiri dengan salat magribh berjamaah. Ayahnya adalah seorang nelayan, meskipun mereka tidak memiliki harta yang bergelimang tetapi mereka selalu menjalani hari dengan senyuman. Namun, semua berubah ketika badai menghantam kapal nelayan milik ayahnya, ayahnya tak ditemukan berhari-hari, kemudian saat mereka menemukan ayahnya, wajahnya sudah tidak dikenali.
Hingga akhirnya kurangnya biaya hidup membuat ibunya tak kuasa hingga harus menikah dengan lelaki jahat, lelaki yang tega merenggut nyawa ibunya.
"Yaaaah, bolanya" ucap Zahra melihat bola miliknya jatuh ke laut
"Tunggu di sini ya, Zahra jangan ke mana-mana. Tante ambilkan" ucap Lail masuk ke dalam laut, karena ombak makin lama makin besar, bola milik Zahra perlahan menjauh dari jangkauan Lail.
Tangan Lail mencoba menjangkau bola itu perlahan, tak terasa dia sudah sangat jauh, bahkan air pun sudah sampai didadanya, tetapi tidak tega melihat wajah sedih Zahra di ujung sana, dia mencoba menjangkau bola itu lagi, kali saja masih terjangkau.
Hingga ombak besar datang dan membuatnya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya "Tolooooooong, toloooong" ucapnya, dia tidak bisa berenang, ingatannya membawanya pada waktu umurnya masih tujuh tahun, karena dia ingin mengambil bola milik Fajar dia nyaris tenggelam.
"Tolooooong" air mata mengucur dipipinya, hingga semua terasa gelap, ayah, ibu apakah hari ini kita akan bertemu?
Syafiq tanpa sengaja melihat tangan yang kemudian hilang di tengah laut, dia berlari dan melempar jasnya sembarang tempat dan berenang untuk menyelamatkannya.
Di bawah laut, Syafiq melihat wajah itu, wajah seseorang yang berhasil membuatnya merasa tenang. Lail sudah menutup wajahnya.
Syafiq membawanya je pinggir laut dan memberikan pertolongan pertama kepada Lail, dia memeriksa mulut dan hidungnya untuk memeriksa apakah Lail mengeluarkan udara atau tidak dan juga memeriksa pergerakan dadanya. Selanjutnya, dia memeriksa denyut nadi di leher Lail selama 10 detik. Hasilnya nihil, tidak terdapat denyut nadi, Syafiq bahkan gemetar, tetapi dia tetap fokus dan mencoba menyelamatkan Lail dengan pertolongan cardiopulmonary resuscitation (CPR) atau resusitasi jantung paru dengan menekan telapak tangan di bagian tengah d**a. Dengan menggunakan dua tangan yang saling tumpang tindih. Dia menekannya sedalam kurang lebih 5 cm dengan hati-hati, sebanyak 30 kali dengan rata kecepatan sekitar 100 kali tekanan per menit. Dengan kata lain, menekan sebanyak 30 kali dalam waktu sekitar 20 detik.
Lail terbatuk dan mengeluarkan banyak air "Lail?" Ucap Syafiq sedikit berteriak "Apakah anda mendengar saya?" Lail mengangguk "Bagian mana yang sakit?" Lail memegangi dadanya.
"Tetap bertahan, saya akan membawa anda ke rumah sakit terdekat" tambah Syafiq
Ya Allah maaf, karena hamba menyentuhnya, tidak ada hal lain yang ada di dalam pikiran hamba selain untuk menyelamatkannya, semoga engkau memahami apa yang hamba lakukan Ya Allah.
Syafiq menggendong Lail dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata dengan tangan gemetar, dia takut, dia takut kehilangan seseorang yang bahkan bukan miliknya, rasa ini sudah tidak bisa dikendalikan, rasa ini membawanya menuju satu jalan, obat dari jatuh cinta adalah pernikahan.
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN