3 | Mulai Mengganggu

2134 Kata
Cewek rese, diusir malah makin deket Agam Aldric -             Seseorang bisa dikatakan mengusik jika benar-benar mengganggu ketentraman orang lain secara tiba-tiba. Dan kini Aletha merasakannya. Cewek itu sedang duduk bersila di bangkunya, matanya terpejam dengan headphone bertengger manis di telinga. Berusaha menyembunyikan diri dari keramaian sekitar. Sebelum semua itu hilang, dirusak oleh tamu tidak diundang yang masuk ke dalam kelasnya tanpa permisi. Memandang kesal sang pelaku yang berdiri di sampingnya. Aletha berdecak membenahi duduknya. "Gue udah pernah bilang ya, b***h! Jangan deketin Faisal lagi! Muka Faisal bonyok gara-gara lo kemarin!" desis Jessy. Yang Aletha tahu mantan Faisal ini sangat tidak ingin kedudukannya digantikan oleh orang lain. Dalam arti dia ingin Faisal kembali menerimanya. Aletha tahu betul, sepeninggalnya kemarin Faisal berkelahi dengan Aldo yang terang-terangan memintanya menjadi pacar. Tidak habis pikir kenapa masalah sesepele itu harus diselesaikan dengan k*******n. Aletha benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka. "Slow aja kali! Masuk kelas orang grasak-grusuk ngatain orang b***h, nyari rusuh lo?!" Tania melotot tidak terima. "Shut up! Gue nggak ngomong sama lo!" sergah Jessy, matanya memicing kesal. Aletha hanya memutar bola mata jengah mendengar perdebatan dua orang dengan sifat berbeda itu. Bisik-bisik tidak suka menghujam ke arahnya. Aletha sudah biasa, tidak penting menurutnya mengurusi kehidupan orang lain. Merogoh saku roknya, Aletha mengambil ponsel miliknya lalu mendiall nomor yang tertera. "Hallo bab- " "Ke sini lo, bawa cewek lo pergi." tanpa berniat basa-basi, Aletha memotong ucapan Faisal lalu menutupnya cepat. Sudah jengah akan tingkah Jessy yang terus-menerus menggangunya selama ini. Entah apa yang membuat Faisal memutuskan cewek itu. Jessy bahkan tidak kalah cantik dengan Aletha, hanya itu semua tertutup oleh sikap manja, dan suka menindas. Tahu siapa yang baru saja bicara dengan Aletha, Jessy memandang Aletha tajam. "b******k! Lo manggil Faisal?!" Aletha menghendikan bahu tak acuh. Selang dua detik Faisal sudah masuk membawa tiga kawanannya menghampiri meja Aletha. "Jessy! Apa yang lo lakuin di sini?!" geram Faisal. Meraih tangan Jessy asal. Benar-benar tersulut emosinya melihat tingkah kekanakan Jessy. "Gue cuma kasih pelajaran sama bitchy ini supaya jauhin lo!" Tania tertawa mengejek sembari bersedekap. "Good... drama akan segera dimulai," Mendengar itu Jessy melotot ke arah Tania, berniat maju untuk menjambak rambut cewek itu kesal. Beruntung tangan Faisal menghalanginya melakukan hal bodoh itu. "Stop bersikap kekanakan kayak gini! Ikut gue sekarang!" tanpa menunggu persetujuan darinya, Faisal langsung membawa Jessy pergi menjauh. Dari kejauhan cewek itu masih sempat mengacungkan jari tengah sebelum menghilang di balik pintu kelas bersama Faisal. Aletha mendengus kecil, memasang headphonenya kembali, memejamkan mata mencari kedamaian. Sebelum kerusuhan lain muncul dan memaksanya kembali membuka mata. Aletha berdecak tidak suka. "Aletha!!" Laras berlari membawa setumpuk kertas ulangan bersama Udin. "Lo nggak kenapa-napa? Mak lampir itu nggak macem-macem'kan sama elo?!" sambungnya beruntun mengguncang bahu Aletha berlebihan. "Gue nggak papa," jawab Aletha santai. Laras menghela napas lega sekaligus kecewa. "Duh. Gue kira bakal ada luka cakar di pipi lo, nggak seru banget." "Bercanda," ucapnya cepat melihat Aletha melotot marah ke arahnya. Laras lantas tertawa kecil menuju bangku Udin meletakkan setumpuk kertas ulangan di meja cowok itu. "Aletha?" panggil Tania lirih melihat Aletha memejamkan matanya kembali, yang hanya dibalas gumaman oleh cewek itu. "Lo belum cerita cowok yang nolong lo waktu itu siapa." Aletha memandang Tania sebentar, menurunkan kakinya, membenahi rok yang tersingkap. "Anak baru kelas sebelah," Tania mengerjab bingung, masih berpikir siapa yang Aletha maksud. Dan sekelebat ingatan muncul di kepalanya. "Seriously! Jangan bilang cowok cupu dengan kacamata tebal itu?" "Kalian ngomongin siapa?" Laras berucap dari balik punggung Tania. Aletha mengangguk sekilas menjawab pertanyaan Tania barusan. Mengabaikan Laras yang menautkan kedua alisnya, bingung. "Siapa yang kalian maksud?" tanya Laras lagi. Menyandar pada sandaran kursi di belakangnya, Tania menoleh. "Agam, si cupu dari kelas sebelah," "Oh my god.. dunia sempit banget," duduk di sebelah Aletha Laras menaruh ponsel miliknya di atas meja dengan posisi terbalik. Ada foto boy band Korea di sana. Dengan tulisan hangul besar di bawah lensa kameranya, bertuliskan EFF (EXO-L Forever Fans) disertai satu buah tanda tangan asli. Aletha masih ingat dengan jelas bagaimana cara Laras mendapatkannya sampai menyeretnya dan Tania untuk ikut mengantri bersama lautan manusia saat jumpa fans EXO ke Jakarta satu tahun lalu. "Nah loh! Kenapa lo tiba-tiba senyum sendiri?!" tunjuk Laras spontan. Lantas mulutnya terbuka lebar atas apa yang ia pikirkan kemudian. "Lo suka sama si cupu?!" teriaknya begitu saja. Menarik perhatian yang lain untuk mencuri dengar. "s**t, mulut lo! Mana mungkin gue suka sama Agam," bela Aletha. Melirik sekilas Tania yang masih diam di depannya, terlihat tidak berminat mengintrogasi Aletha lebih lanjut lagi seperti yang Laras lakukan. "Terus kenapa lo keliatan seneng gitu ditolong si cupu? Gue yakin mata gue masih sehat seratus persen. Apalagi lo baru putus sama Radika. Lo mau ganti selera, Tha?" "Gue seneng sampai detik ini masih bisa bernapas. Gue juga nggak bisa milih ditolong siapa. Kalau bisa gue mau ditolong Sean O'pray atau Manu Rios." terang Aletha. Tania tertawa, Aletha kembali bersuara melihat Laras membuka mulutnya protes. "Dan Radika nggak ada hubungannya sama sekali." Laras berdecak kesal. "s****n! Kalau itu gue juga mau, nggak kebayang aja kalau sampai lo suka sama Agam." menjeda ucapannya sebentar Laras kembali bersuara. "Yang gue maksud, dari Radika prince charming turun selera jadi the beast. Kecuali lo emang mau syuting beauty and the beast, gue setuju aja asal happy ending," "Udah, deh. Ngapain bahas Agam, apa nggak ada topik yang lain?" Tania memutar bola mata malas, menghela napas sebentar beralih menatap Aletha. "Soal Radika, apa lo udah kasih pelajaran buat dia? Gue pikir lo udah nyaman sama Radika, melihat kalian pacaran dua Minggu, itu rekor terlama yang pernah lo pecahin." Meletakkan headphonenya di atas meja, Aletha mendengus sekilas. "Radika nggak semesum cowok lain, itu aja. Gue nggak mengategorikan itu sebagai sesuatu yang romantic." cewek itu mengangkat kedua jarinya membentuk 'V' seperti memberi tanda petik pada kalimatnya. "Radika terlalu baik buat gue. Dan kebohongan Radika gue pergunain buat mutusin dia," "Baik dari Hongkong! Mana ada cowok baik yang udah punya tunangan malah selingkuh. Seharusnya lo nampar dia kayak di sinetron-sinetron." Aletha memutar bola mata bosan. "Gue udah kasih pelajaran yang lebih menyakitkan," Kedua temannya memandang Aletha penuh tanya. Cukup tahu saja, Aletha sudah membalas perbuatan cowok itu dengan menjauhinya. Menganggap mereka tidak pernah saling mengenal, mungkin terdengar biasa. Tapi sangat berefek untuk orang yang benar-benar memiliki perasaan khusus semacam cinta. Dan alasan paling mendasar, jauh dalam diri Aletha, cowok itu tidak pernah memiliki arti yang khusus semacam itu di dalam hatinya. **** "San, ini buku yang gue pinjem kemarin, apa ada buku baru yang datang hari ini?" Agam berdiri di depan konter, memberikan beberapa buku yang ia pinjam tiga hari lalu pada Sandra. "Belum ada.. mungkin besok." ucap Sandra, masih terdengar malu-malu melihat Agam berdiri di depannya. Mengingat sesuatu yang harus ia sampaikan pada cowok itu, Sandra tersenyum, memilin tangan gugup. "Agam, selamat. Bu Dania menawarimu untuk menjadi anggota perpus. Apa kamu mau menerima tawaran beliau?" Aletha baru saja masuk saat Agam akan menjawab tawaran Sandra tadi. Entah sejak kapan ia mulai tertarik untuk masuk ke dalam tempat itu, yang selama bersekolah di sana tidak pernah sekalipun Aletha menginjakan kakinya masuk ke dalam perpus. Melirik ke arah Aletha sebentar Agam berdecak, lalu melihat Sandra sembari tersenyum ramah. "Gue terima tawaran beliau. Tolong sampaikan rasa terima kasih gue, ke Bu Dania." Sandra membalas senyuman Agam dengan malu, lalu mengangguk mengiyakan ucapan cowok itu. Sementara yang diabaikan sejak tadi hanya bersedekap, kedua alisnya saling bertautan, memandang curiga pada Sandra. "Kenapa pipi lo bersemu merah?" tanya Aletha tiba-tiba. Sontak Sandra merasa terkejut, cewek itu membenahi kacamata bulatnya yang turun karena gugup. Lantas berdeham membuang rasa canggung di antara mereka. Memilih mengalihkan pembicaraan. "Ada yang bisa aku bantu, Tha?" Agam menoleh sekilas, lalu pergi ke rak belakang mencari buku yang ia butuhkan. Bermaksud mengabaikan Aletha yang berdiri di depan konter bersamanya tadi. Aletha mendengus tidak percaya. Cowok itu benar-benar bersikap antipati. Di saat cowok lain ingin dekat dengannya Agam malah sebaliknya. "Gue cari Bu Dania," "Hari ini beliau tidak masuk, mungkin kamu mau titip pesan?" "Nggak perlu, apa ada novel karya Kahlil Gibran di sini?" "Sebentar, aku cek dulu," Sandra menjeda ucapannya sebentar, lalu mengalihkan perhatiannya pada layar komputer. "Ada di rak bagian belakang bersebrangan sama buku Paket Sejarah dan Biologi." Aletha mengangguk paham, lalu berjalan menuju rak bagian belakang perpus. Mencari novel karya Kahlil Gibran yang ingin ia baca sejak lama. Melihat Agam duduk menautkan kedua alisnya lucu, Aletha lantas mendekat. Merasa tertarik untuk menggoda cowok itu. Agam terlalu fokus dengan bukunya hingga ia tidak sadar Aletha berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah pelan. "Hay, mata empat," sapa Aletha sembari menarik kursi di depan Agam. Agam mendengus tidak suka, Aletha mengabaikan ucapannya waktu itu. Agam sudah memperingatinya dengan keras untuk menjahuinya. Dan meluPakan bahwa mereka saling mengenal. Melirik Aletha sekilas, Agam kembali fokus pada bukunya. "Biasanya orang yang suka mengabaikan orang lain, di luar dugaan pengen dapet perhatian lebih dari orang itu, contohnya sekarang," Agam memandang Aletha dengan alis terangkat. "Cuma cewek nggak ada kerjaan di depan gue yang suka berasumsi sendiri, menutup fakta sebenarnya dengan teori nggak berdasar. Dan lagi jangan SKSD." Aletha tersenyum miring. "Gue nggak SKSD, hanya bersikap ramah sama orang paling jelek di sekolah," menjeda ucapannya sebentar Aletha menopang dagu dengan satu tangan menatap Agam geli. "Dan apa yang gue omongin itu bukan nggak berdasar, itu teori yang gue kembangin pas lihat lo yang sering ngacangin gue," Melihat Agam melotot marah, Aletha lantas tertawa. "Apa? Lo emang jelek dan nggak good looking banget." Mengabaikan Aletha, cowok itu memilih fokus pada buku Paketnya lagi. Berkutat dengan rumus-rumus yang membingungkan. "See, lo ngacangin gue lagi, gue jadi berpikir teori asal gue itu bener," Tidak mendapat respon dari cowok itu, Aletha terdiam mengawasi setiap inci wajah Agam dalam hening. Bulu mata lentik tertutup kacamata persegi dengan frame tebal, hidung mancung dengan wajah berahang tegas. Aletha tahu cowok itu menutupi wajah rupawannya dibalik kata cupu. Masih ingat dengan jelas pertemuan pertama mereka di minimarket waktu itu. Aletha tersenyum kecil karenanya. Kini pandangannya jatuh pada bibir tipis milik Agam. Ugh. Seperti kehilangan fokus saat mengingat rasa bibir cowok itu, membuatnya ingin mengulanginya lagi. "Apa lo baru pertama kali ciuman?" Menggeram kesal Agam memijat pelipisnya, memandang tidak suka cewek di depannya. "Pergi! Apa lo nggak punya urat malu?!" desis Agam. Aletha tersenyum miring melihat reaksi Agam. Ia lantas berdiri dari duduknya untuk pindah ke sisi kiri cowok itu. Melihat bagaimana responya yang secara langsung menolak untuk didekati, membuat Aletha semakin tertarik menggoda cowok itu lebih lanjut. "Mau ngapain lo? Sana pergi!" Yang diusir tetap pada tempatnya, tidak terganggu malah semakin merapat ke sisi cowok itu. Agam yang merasa risih terus bergeser, Aletha tersenyum jail lalu mengikuti Agam untuk bergeser. Merasa kesal Agam pindah ke meja lain, Aletha terus mengikuti Agam untuk kembali duduk di sampingnya. Terus merapat ke sisi cowok itu hingga membuatnya benar-benar tidak nyaman, menggeser duduknya kembali sampai Agam terjatuh dari kursi dan menimbulkan suara gedabum yang keras. Agam mengumpat kesal, sembari melotot marah ke arah Aletha. "Lo sengaja bikin gue jatuh?!" Aletha tertawa keras memegangi perutnya. "Lo lucu banget, siapa yang nyuruh elo geser? Lo jatuh sendiri." Agam sudah berdiri saat bell masuk berbunyi. Melangkah pergi meninggalkan Aletha begitu saja untuk kembali ke kelas. Masih terus menggerutu, mengumpat pada cewek di belakangnya yang masih sibuk menertawainya tanpa henti. "Stop! Jangan ikutin gue!" Gerakan berhenti tiba-tiba dari Agam membuat cewek itu membentur punggung Agam yang kokoh secara tidak sengaja. "Duh, badan lo keras banget! Gue jadi penasaran gimana rasanya meluk lo," Agam pura-pura tidak mendengar ingin sekali ia benturkan kepala cewek itu ke tembok di sampingnya. Benar-benar tidak punya rasa malu! "Jauhin gue! Jangan deket-deket apalagi nyoba meluk gue. Ngerti!" Masih dalam posisi sangat dekat dengan Agam, Aletha tersenyum miring melihat seberapa keras penolakan Agam padanya. Aletha merasa terkejut. Tentu saja, baru pertama kali ada cowok yang menunjukan rasa tidak sukanya pada Aletha secara gamblang. Agam memicing curiga, merasa ada yang aneh. "Ngapain lo senyum-senyum?" "Lo cerewet banget," Menarik kerah baju Agam, Aletha memotong jarak di antara mereka secara tiba-tiba, cewek itu mencium Agam tepat di bibirnya. Hanya menempelkan bibirnya pada bibir Agam sedikit lebih lama dari waktu itu. Cara ini yang terlintas dipikirannya untuk membukam mulut Agam. Dan anehnya rasa cowok itu benar-benar membuatnya ingin melakukan hal lebih. "Apa lo gila!" geram Agam, mendorong bahu Aletha untuk menjauh. "Ini tempat umum, lo mau ada yang lihat?!" sambungnya melotot marah. Aletha menghendikan bahu santai. Membuat Agam benar-benar kesal melihatnya, ia langsung berbalik pergi meninggalkan Aletha yang masih tersenyum penuh kemenangan. "Kalau gitu lain kali kita lakuin di tempat tertutup." teriak Aletha tiba-tiba di tengah koridor yang sepi. Agam terkejut, berhenti sebentar untuk menengok ke belakang. Menatap sang pelaku tajam dengan mulut menggerutu tidak jelas. Seribu u*****n tak berkelas ia tujukan untuk cewek itu, kemudian berbalik melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan raut wajah yang luar biasa kesal. Dan Aletha hanya memandang geli itu semua. "I like your mouth,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN