Kalau saja waktu bisa berubah hilangkan ingatan yang menyisakan luka
Aletha Arabella
-
Kalau saja menolong seseorang membutuhkan pemikiran keras terlebih dahulu, siapa yang harusnya kita tolong, musuh atau teman? Apa hal seperti itu harus dipikirkan terlebih dahulu? Lebih besar mana egoisme ketimbang rasa kemanusiaan yang sudah mengdarah daging? Entah, yang jelas hal paling disesali Agam adalah kenapa dia harus dipertemukan dengan cewek gila seperti Aletha. Membawanya masuk ke dalam hal yang paling ingin dijauhinya selama bersekolah di sini, ruang konseling. Mengingatkan akan kenakalannya dulu, dan satu hal lagi yang membuat Agam merasa dipecundangi dicium oleh cewek tidak dikenal tanpa melakukan perlawanan.
Andai saja jika waktu itu sepulang sekolah ia tidak mampir ke minimarket dekat kompleksnya, kejadian itu tidak akan pernah terjadi, masih segar dalam ingatan Agam ketika cewek itu berada dalam pelukannya. Dingin, dan rapuh. Sayangnya cewek itu benar-benar gila di luar penglihatan, terjebak dalam situasi menggelikan seperti ini, berciuman di dalam perpus. Agam tahu jelas itu semua hanya rencana licik cewek itu. Meskipun ia dulu berandalan sekolah tetap saja wanita adalah mahkluk yang harus dihormati, ia tidak akan mencium wanita secara sembarangan, mereka bukan pemuas nafsu lelaki. Dan Agam tahu betul itu, apalagi ia lahir dari rahim seorang wanita, hal utama yang harus diingatnya.
"Saya tidak habis pikir.. hukuman apa yang harus saya berikan untuk kamu. Bahkan skorsing tidak membuat kamu jera!" seolah hanya angin lalu, ucapan bu Beti yang terdengar tegas, tidak berefek sama sekali pada pendengaran Aletha saat ini. Ia sudah kebal.
Melirik Bu Beti sekilas, Aletha lantas mendengus. Agam sendiri duduk dengan tenang di sebelah cewek itu, memasang wajah sedatar mungkin, seperti sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini, ruang sidang konseling.
"Dan kamu.. bukannya kamu murid baru?" melihat Agam dengan sorot mata mengintimidasi bu Beti membenahi kacamatanya. "Apa kalian tidak punya rasa malu sama sekali?!" sambungnya sembari memijat pelipis yang berdenyut sakit, sepertinya kadar gula darah bu Beti mulai naik akibat ulah dua remaja yang duduk manis di depannya.
Agam mencoba membela diri, ia tidak bersalah, dalam hal ini cewek itu yang memulai bukan dirinya. "Maaf, Bu. Ini murni bukan kesalahan saya, bahkan saya tidak tahu siapa cewek ini,"
Wanita yang hampir memasuki usia kepala empat itu memandang curiga Aletha, dia tahu muridnya yang satu ini suka sekali mencari gara-gara.
Aletha menjawab dengan nada santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali. "Ibu percaya.. dengan ucapan maling yang sudah tertangkap basah?" ucap Aletha sembari tersenyum miring ke arah Agam.
Kalau bukan karena ada Bu Beti di depannya saat ini, sudah pasti semua koleksi u*****n tak berkelas ia keluarkan. Cewek ini benar-benar membuat Agam ingin menggilingnya sekarang juga.
Berniat membela diri, bu Beti terlebih dahulu membuka suara. "Saya pusing! Untuk saat ini saya bisa mentolerir perbuatan kalian, meski begitu, saya tetap mencatatnya dalam buku pelanggaran. Dan kamu Aletha bagaimanapun hal ini harus saya lapo--"
Seperti tidak ingin mendengar apa yang akan dibicarakan oleh guru itu, Aletha berdiri, berjalan menuju pintu keluar, ia sudah tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berakhir.
Masih dalam keadaan membelakangi kedua orang yang memandang ke arahnya dengan penuh tanda tanya, Aletha meremas ganggang pintu itu kuat-kuat, seolah mencari kekuatan di sana.
"Seseorang akan benar-benar peduli jika tahu perannya di mana."
Oleh Aletha pintu itu dibuka, lalu keluar dari ruangan tanpa berniat mengucap salam.
****
Dari balik pintu ruang konseling Agam keluar menutup pintu itu pelan, Aletha yang sejak tadi menunggunya sambil bersandar di tembok bertumpu pada satu kaki, tersenyum senang melihat Agam yang memandangnya curiga.
"Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Sakit lo?" seperti telinga Aletha tersumbat sesuatu yang bernama kotoran, hingga ia tidak mendengar nada sinis dari cowok itu padanya.
Aletha melangkah maju menyusul Agam yang sudah berbalik meninggalkannya.
"So, nama lo Agam?" tanya Aletha sembari menghadang jalan Agam, membaca name tag yang tertera. Sedikit mengeluarkan tenaga untuk menyamai langkah cowok itu yang panjang.
Agam berhenti, kedua alisnya saling bertautan merasa tidak nyaman berdekatan dengan Aletha seperti ini. Memandang Aletha dari atas ke bawah dengan tatapan tidak suka, rasanya ingin sekali ia meminjamkan bajunya untuk Aletha, cewek ini benar-benar membuat mata para lelaki salah fokus.
"Kenapa? Ada yang salah sama gue?" mengikuti pandangan Agam mencoba meneliti diri sendiri. Aletha dibuat bingung olehnya.
"Lo kurus banget sih!" itu yang Agam ucapkan, sebelum bergeser pergi menuju parkiran tanpa peduli cewek itu akan tersinggung.
Aletha membeo tidak habis pikir, what the hell bukannya bentuk badannya sudah pas dan tidak kurus sama sekali, lalu kenapa cowok itu mengatakan kalau dia kurus?
Aletha lantas berdecak, lalu berbalik menyusul Agam yang sudah menjauh. Berdiri di depan motor besar berwarna merah milik Agam sembari bersedekap, Aletha tersenyum miring. "Apa lo lagi bohongin gue?"
"For what?" tanya Agam santai. Tangannya sibuk memasang jaket.
Aletha menekuk bibirnya dalam, lalu menghendikan bahu. "Lo yang tahu itu."
"Minggir, badan lo ngalangin jalan."
Bukannya menyingkir cewek itu malah semakin keras kepala. Ia membatu di tempat dengan tangan bersedekap.
"Apa lo nggak ada kerjaan lain selain gangguin gue?" Agam menatap tajam ke arah Aletha, ia mulai kesal.
"Kerjaan gue sekarang ya nagih lo bilang maaf."
Agam mendengus geli. "Maaf? Atas apa?" melihat Aletha memutar bola mata Agam memasang wajah geli. "Atas lo yang nabrak gue atau lo yang ngelempar tutup s****h ke kepala gue?" sambungnya menyindir.
Aletha diam merasa hilang kata-kata, bagaimana pun juga di sini dirinyalah yang bersalah atas apa yang terjadi tadi pagi. Namun, ia terlalu egois untuk mengakuinya.
"See, lo nggak bisa jawab," ucap Agam sembari tersenyum miring.
Aletha berdehem sekilas. "Oke, fine! Anterin gue pulang kalau gitu!" ucapnya tanpa rasa malu sama sekali.
Agam yang sedang memasang helm melirik Aletha sebentar, lalu menggeleng tidak habis pikir. Gila dan tidak tahu malu adalah kata yang tepat untuk cewek itu. Dua alasan kuat bagi Agam untuk menjauhinya.
"Gue heran, apa lo ngerasa kita sedekat itu buat pulang bareng? Dan satu lagi, gue minta sama lo jauhin gue. Anggap aja kita nggak pernah ketemu." ada nada penekanan disetiap kata yang ia ucapkan.
Melajukan motornya meninggalkan Aletha yang berdiri mematung, masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, seorang Aletha tidak pernah merasa tidak diinginkan seperti ini oleh seorang cowok.
Saat tersadar Agam sudah menghilang di balik gerbang sekolah. "Berengsek! Gue dipaksa lupa."
Masih tetap menggerutu akan perkataan Agam barusan. Bagaimana dia bisa lupa? Agam adalah cowok pertama yang menolaknya, seperti mati rasa akan pesona Aletha sebagai cewek paling diminati di sekolah. Ia memang sering sekali mendapat pernyataan cinta dari cowok-cowok di sekolahnya, tapi tidak seperti ini. Agam justru berbeda dari mereka, cukup menarik perhatian walau sebentar. Ia tahu betul dari semua cowok yang ia temui, mereka hanya manis di luar, bahkan Aletha tahu bahwa ia pernah dijadikan bahan taruhan. Entah mereka bertaruh Aletha masih virgin atau tidak sampai siapa yang bisa membuatnya pacaran lebih dari lima hari. Asal tahu saja, Aletha sangat membenci angka lima. Ada cerita tersendiri dari angka itu, dan Aletha berniat menyimpannya sendiri tanpa ada orang yang tahu. Yeah. Tentunya sekarang, ia tidak tahu nanti, masih menunggu orang yang tepat untuk berbagi luka.
Aletha tahu betul mengharap cinta di kehidupan ini adalah mimpi yang mustahil baginya. Kasih sayang? Omong kosong. Dia sudah banyak kali menjalin hubungan, tapi semua berakhir dalam waktu lima hari tepat pada titik bosan, bosan melihat senyum palsu berkedok nafsu. semua lebih melihat fisik yang sempurna tanpa mempedulikan rasa yang tulus. Ia tahu luka itu masih ada, dan tidak akan sembuh begitu saja. Entah sampai kapan, Aletha tidak tahu. Masih tertata rapi dalam ingatan, membekas melalui bayangan disetiap peristiwa masa lalu yang tergores. Jelas saja semua itu menyisakan sesuatu yang belum hilang, luka batin.
****
Berjalan beberapa meter dari gerbang sekolah, Aletha melihat Faisal kelas XII IPA 1 dan teman segengnya sedang berbicara serius dengan segerombolan siswa dari sekolah lain. Anggap saja Faisal adalah ketua keamanan sekolah, pentolan SMA Erlangga dalam hal tawuran antar sekolah, selama ini sekolah aman di tangannya tidak ada yang berani mengusik.
Merasa berada dalam situasi dan tempat yang tidak tepat. Aletha berusaha untuk tidak terlibat. Ia memutar arah, akan tetapi mendengar sebuah suara yang ia kenali, membuatnya terpaksa menoleh, memastikan sesuatu.
Dengan nada setenang mungkin Aldo mencoba berbicara. "Udah gue bilang, gue nggak mau cari ribut! Ada urusan gue sama anak sekolah lo," ucapnya menahan diri.
"t*i! Itu jadi urusan gue juga!" Faisal mendekat ke arah Aldo berbisik tepat di depan wajah cowok itu. "Dengar, ini masih wilayah kekuasaan gue, lo bisa mampus kalau nyari perkara di sini."
Aldo lantas mendengus, lalu tersenyum miring menatapnya. Seolah meremehkan ucapan Faisal.
"Gue nggak takut!" seperti menyulut api dalam situasi ini, Aldo merasa Faisal terlalu keras kepala untuk mengerti maksud ucapannya.
Aletha bersedekap berdiri di samping Faisal, berdecak sekilas melihat cowok di halte bus yang menggangunya waktu itu. Ia mulai jengah.
"Mau ngapain lo?"
Faisal memandang Aletha heran. "Lo kenal?"
"Akhirnya ketemu juga, bisa kita bicara?" ucap Aldo menyela.
"Nggak! Enak aja lo, mau ngapain sok kenal gitu,"
Aldo berdecak malas. "Sal, lo bisa diam nggak! Ini soal harga diri,"
"Gue nggak pedu--"
"Harga diri yang mana?" Aletha memotong ucapan Faisal, lalu melirik ke bawah. "Yang itu maksud lo?"
Faisal mengikuti arah pandang Aletha, ia lantas tertawa meremehkan ke arah Aldo. "Gue nggak nyangka, lo benar-benar mengecewakan. Gue lebih senang kalau lo ngajak gue adu jotos."
Aldo tidak menghiraukan ucapan Faisal yang terdengar merendahkan, ada urusan yang lebih penting daripada meladeni cowok itu. Melihat Aletha dari atas ke bawah. Aldo tersenyum miring. "Gue bukan mau cari ribut, gue cuma memastikan satu hal yang seharusnya nggak gue lepas gitu aja." tangannya mengelus surai cokelat milik Aletha lancang.
Aletha hanya diam, masih menunggu apa yang akan dilakukan cowok itu padanya. Sementara Faisal sudah menggeram kesal di sampingnya. "Gue nggak ngerti maksud lo." ucap Aletha memancing.
"Cewek cantik kaya lo sayang banget kalau dibiarin lepas gitu aja," Aldo menyeringai basa-basi sembari mencium surai panjang Aletha. "Gue bakalan lupain kejadian kemarin asal lo mau jadi pacar gue. Gimana?"
"Pacar dengkul lo!" desis Faisal tidak terima. Menarik kerah baju Aldo. "Enak aja lo bilang kayak gitu di depan pacar gue!"
Aletha memutar bola mata bosan mendengar ucapan kakak kelasnya itu. Faisal sudah lima kali menyatakan cinta pada Aletha. Meski seribu u*****n pernah ia lontarkan tapi Faisal tetap saja memasang muka tembok. Tidak peduli akan penolakan Aletha. Dan sekarang cowok itu jelas hanya mengaku-ngaku. Bukan apa-apa, Aletha malas beradu mulut dengan kakak kelas bernama Jessy yang selalu mendatanginya akhir-akhir ini, memintanya untuk menjauhi Faisal mantan pacarnya. Memang Aletha yang mengejar Faisal?
Menulikan pendengarannya, Aletha berucap sembari menepuk bahu Aldo pelan, membenahi kerah cowok itu yang terangkat. "Kalau gue nggak mau?"
Aldo tersenyum miring, ia masih punya seribu cara untuk mengejar cewek ini. "Gue nggak suka penolakan." ucapnya mutlak.
"Dan gue nggak suka paksaan."
Setelah itu Aletha pergi meninggalkan Aldo yang mengumpat karena menerima penolakan lagi.
****
Ini sudah pukul tiga sore, Aletha baru saja sampai di daerah kompleksnya. Memandang sekitar, kawasan kompleksnya cukup ramai. Kompleks ini berbeda dari yang lain, ada satu rumah besar yang berisikan anak-anak yatim piatu tepat di barisan pertama dekat gerbang kompleks. Melihat kembali rumah besar itu, Aletha merasa hatinya kembali berdenyut sakit mendengar kata panti asuhan.
Mengabaikan itu semua, Aletha melanjutkan langkahnya melewati satu blok. Di sana tepat tiga rumah setelah belokan, ada sesuatu yang menarik atensinya untuk berhenti di depan rumah minimalis dengan halaman luas berlantai satu, Aletha sempat berpikir kalau pemilik rumah itu benar-benar pecinta bunga lily. Seluruh pekarangannya berisikan tanaman bunga lily berwarna putih, meski masih terdapat tumbuhan lain yang ikut merambat di atas garasi. Tunggu! Aletha merasa mengenal motor besar yang terparkir di sana. Dan satu lagi bukannya dua Minggu yang lalu rumah ini masih terlihat kosong?
"Bukannya itu motor si mata empat?" ucapnya bermonolog.
Selang beberapa detik Aletha menyeringai, diambilnya batu kerikil di bawah kakinya. Lantas melihat ke kanan dan kiri berusaha bersikap waspada. Ia bersiul, melemparkan batu kerikil itu tepat mengenai kaca rumah di depannya. Setelah itu ia berjongkok.
Mengintai seseorang yang keluar begitu mendengar kaca jendelanya berbunyi nyaring.
Aletha tertawa dalam hati, melihat Agam masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintunya kembali setelah melihat tidak ada siapa pun di pekarangan rumahnya.
Masih dalam keadaan berjongkok, Aletha tersentak kaget. Dikejutkan oleh suara klakson mobil.
Tristan mengangkat sebelah alisnya.
"Ngapain lo kayak orang b**o gitu?"
Bukannya menjawab, Aletha mengumpat sejadi-jadinya dalam hati. Lantas berlari memasuki mobil Tristan dan menyuruhnya untuk cepat pergi. Mengabaikan serentetan pertanyaan yang cowok itu lontarkan padanya, Aletha lebih memilih diam. Yang terpenting saat ini cepat pergi sebelum Agam melihatnya.