4 | Sebuah Kehebohan

2107 Kata
Ini yang dinamakan tidak seimbang, cantik saja tidak cukup kalau otaknya hilang Agam Aldric - Memandang pintu bercat cokelat di depannya, Aletha mendengus lalu masuk setelah mengetuk pintu dua kali sebagai formalitas sesaat. Berjalan mendekati meja panjang di samping lemari buku, ia melirik sekilas seseorang yang duduk di sana. Wanita itu masih sibuk menunduk, membaca beberapa berkas di depannya. Aletha tersenyum miris, harus seperti ini dulu baru wanita ini mau menemuinya. Aletha tahu betul perbuatannya tadi memang keterlaluan. Tapi bukan salah Aletha juga, ini semua terjadi karena Sandy, mantan pacarnya mengintipnya di toilet. Jelas saja Aletha marah, ia lantas menyiram cowok itu dengan air setelah memukulnya membabi buta. Beruntung Aletha belum melakukan apa pun di dalam sana. Sandy langsung berlari keluar demi menghindari amukan Aletha lagi. Entah bagaimana cowok itu bisa terpeleset hingga kepalanya membentur tempat duduk di depan toilet. Aletha sempat melongo karena terkejut, sekaligus meringis ngeri melihat darah mengalir dari sudut kepala cowok itu. Dan di sini ia sekarang, berada di ruang kepala sekolah dengan wajah malas. Menarik kursi di depannya, Aletha duduk tanpa permisi. Mengabaikan tatapan penuh intimidasi dari kepala sekolah untuknya. Annita. Mamanya. Melepas kacamata bacanya, Annita menatap gadis di depannya dalam diam. Beberapa detik dalam keheningan, Annita menghela napas kecil, berharap sesuatu dalam hatinya akan ikut memudar. Remaja di depannya ini benar-benar mirip dengannya secara keseluruhan, kecuali mata itu, mata yang mengingatkannya akan seseorang yang ia benci. Dan Annita tidak suka itu. Seolah menguak masa lalu yang pahit. "Apa kamu tahu Sandy itu siapa?" tanya Annita memecah keheningan. Aletha tersenyum miring, lalu membuang muka tak acuh. Bukannya dia tidak tahu, Aletha cukup tahu akan hal itu, dia mantan pacarnya. Sandy Prabu, anak dari kepala polisi Prabu Raksa. Menggeser duduknya, Aletha mendongak menatap lawan bicaranya malas sembari mengangguk sesaat. Annita menarik napas dalam, berusaha untuk sabar. "Apa sebenarnya yang kamu cari? Bersikaplah seperti remaja normal." menjeda ucapannya Annita kembali memakai kacamata bacanya. "Sangat mencoreng nama kelurga! Setidaknya berikan rasa terima kasihmu!" Aletha mendengus, lalu tertawa miris. Pembicaraan ini benar-benar membuatnya malas. "Anda membuat saya tertawa," jawab Aletha sembari tersenyum miring. Annita mendengus tidak suka mendengarnya. "Bukannya saya tidak terdaftar dalam keluarga terhormat anda?" sambungnya kemudian. Menggeser kursinya, Aletha lantas berdiri membawa kakinya untuk pergi, tidak ingin terlalu lama berada satu ruangan dengan wanita itu. Dua langkah di depan pintu, satu kalimat pedas terlontar untuknya. "Seharusnya aku tidak pernah melahirkanmu!" Mendengar itu Aletha mengangkat sudut bibirnya kaku, menengok ke belakang dengan senyum mengejek sembari bersedekap. "Terserah, saya tidak peduli." Annita menatapnya tajam, ia menggeram tidak suka. Berbanding terbalik dengan Aletha yang merasa tidak terusik sama sekali. Aletha masih berdiri tegak, ia lebih memilih melangkah pergi meninggalkan ruangan itu tanpa berniat menengok ke belakang lagi. Aletha tidak peduli wanita itu akan bicara sekasar apa pun padanya, ia sudah kebal. Hanya sebuah kalimat pedas semacam itu tidak akan menjatuhkan air matanya, ia tidak akan meraung meminta belas kasihan. Ini bukan seberapa, yang lebih dari ini sudah pernah ia lalui. Aletha kuat, ia bukan anak tujuh tahun lagi yang dipukul akan menjerit, dicaci akan menangis. Masa lalu merubahnya, maka dari itu Aletha tidak akan pernah menangis lagi. Tidak akan. Berjalan menuju kantin, tatapan penuh ketidaksukaan Aletha dapatkan, ia hanya memutar bola mata lalu melotot garang segerombolan siswi yang berbisik lirih di sampingnya. Melanjutkan langkahnya yang terhenti, sesekali mengacungkan jari tengah pada mereka yang meliriknya sinis. Orang lain cuma jadi penonton mereka hanya pandai berspekulasi sendiri tanpa tahu fakta sebenarnya. Lucunya beberapa dari mereka menunduk takut padanya. Memang Aletha menggigit? Menggelikan. Dari pintu masuk kantin, Aletha melihat suasana kantin yang ramai, ini bukan jam istirahat akan tetapi meja kantin hampir terisi penuh oleh para siswa. Entah mungkin guru sedang rapat, atau mogok mengajar Aletha tidak tahu. Berjalan masuk menghampiri dua temannya di deret tengah, Aletha duduk di sisi kiri Laras, lalu meminum lemon tea cewek itu yang belum tersentuh sama sekali. "Ya ampun, gue belum minum, Aletha!" rengek Laras. Meratapi minumannya yang tinggal setengah. Dari tadi Laras hanya sibuk dengan majalah yang ia baca. Entah kali ini apa yang Laras cari, terakhir yang Aletha tahu Laras mencari informasi fasion terbaru dari Voya Paris. Menggeser gelasnya, Aletha memperhatikan Laras yang kembali fokus pada majalahnya. "Kali ini tentang apa? Zodiak? Atau idola?" Tania menghendikan bahu, menunjuk Laras dengan dagunya. "Sedang mencari jodoh mungkin," "Mulut lo minta difilter," ucap Laras tidak terima, merapikan ikat rambutnya yang mulai mengendur. "Ini majalah Mama gue. Isinya beda dari yang biasanya, gue lihat dari covernya. Bukan majalah kesehatan yang kayak biasa," terangnya panjang lebar. Mengetahui isi majalah tante Fyrda yang tidak jauh dari kata kedokteran, Aletha dan Tania mengangguk paham. "Terus?" tanya Tania. "Gue pengen tahu aja gosip terbaru para pengusaha sukses. Yang lagi rame sekarang berita pengusaha hotel and resort, Aldrian Aldric." menjeda ucapannya untuk minum, Laras melihat Tania dan Aletha bergantian. "Publik penasaran sama anaknya. Soalnya nggak pernah muncul di majalah atau koran manapun, berasa lagi sembunyi gitu." sambungnya lagi. Tania berdecak. "Lo nggak ada kerjaan banget. Sekalian aja lo kumpul sama tukang sayur kompleks biar nyambung," "Hell. Lo kira gue ART alay! Terserah lo pada, gue mau baca jangan ganggu gue!" ucap Laras kesal. Tania tertawa kecil, beralih menatap Aletha. "Gimana? Apa lo dapat skorsing lagi?" tanyanya. "Sayangnya ... cuma dapat ceramah aja." jawab Aletha. "Dipikir lagi lo emang nggak salah, si Sandy aja yang gila! p*****t banget ngintip lo di toilet." Laras menimpali, mengabaikan majalahnya sebentar. Aletha menyibak rambutnya ke belakang. "Dia lagi taruhan, yang berhasil dapat foto gue di toilet bakal menang." "Gila! Mantan lo emang nggak ada yang beres, Tha." Tania mengangguk setuju, lalu tertawa melihat Aletha berdecak kesal. "Kalau si Sandy ngomong ke bokapnya gimana, Tha? Gue cuma ngingetin aja, bokapnya itu Kepala Polisi." "Nggak masalah, tinggal pasang wajah melas aja. Seolah-olah gue korban yang paling dirugikan di sini," jawab Aletha santai. Laras menggeleng geli. "Dasar cewek licik," Aletha menghendikan bahu tak acuh, lalu melihat ke satu titik yang membuatnya cukup tertarik. Agam. Cowok itu membawa air mineral dan sebungkus roti keju berjalan menjauhi kantin. "Mau ke mana lo?" tanya Tania melihat Aletha berdiri untuk pergi. "Nanti chat gue kalau udah di kelas." jawab Aletha sembari melangkah pergi. Menyusul Agam yang mulai menjauh, meninggalkan dua temannya yang menatap aneh ke arahnya. **** Aletha tidak tahu kalau taman belakang sekolah akan sebagus ini, ada sebuah green house hidroponik berisi berbagai macam sayuran yang segar menghias asri taman itu. Dan yang membuatnya lebih heran lagi, taman ini tidak sepi sama sekali, malah terlihat ramai. Ada meja dan kursi terbuat dari kayu yang saling berhadapan di sana. Pantas saja taman ini ramai para siswa, ini terlihat seperti cafe kecil menurut Aletha. "Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Agam membuyarkan lamunan Aletha. Mengikat rambutnya tinggi, Aletha tersenyum menanggapi pertanyaan Agam. "Gue bosan," Melirik sebentar beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka penuh minat. Agam berdecak sekilas. "Lo kira gue jasa penghilang rasa bosan lo," Aletha memutar bola matanya, lalu menumpukan kedua tangannya di atas meja. "Pulang bareng siapa nanti?" Agam menulikan pendengarannya memilih membaca novel yang ia pegang. Berniat mengabaikan pertanyaan Aletha yang Agam tahu ujung pembicaraannya akan ke arah mana, sebelum sebuah tangan usil merusak kesenangannya. Membuatnya mendongak, menatap tajam seseorang yang menjahilinya. "Apa?" Aletha berucap sembari tertawa kecil, bahunya yang ramping sedikit bergetar. "Jangan ngacangin gue makanya," sambungnya lagi. Agam mendengus, melihat Aletha yang tersenyum membuatnya semakin kesal. Ia lantas mengambil air mineralnya lalu meminumnya dengan sekali tenggak. Melihat satu anak cupu berkacamata tebal memandang Aletha dengan tatapan aneh, Agam menghela napas. "Duduk sini lo." Aletha menaikan sebelah alisnya, Agam memutar bola mata lalu berdecak ringan. "Jangan salah paham, salahin rok lo yang kependekan. Lo lihat anak itu ngelihatin lo sambil ngiler. Padahal badan kurus krempeng kayak gini, nggak ada bagus-bagusnya sama sekali." ucap Agam pedas. "Mata lo minus berapa, sih? Gue itu body goals. Enak aja lo bilang krempeng," Agam tersenyum miring. "Kalau badan lo kayak Bu Beti, gue masih bisa pertimbangin omangan gue barusan," "s**t. Bu Beti itu over, gila aja!" bela Aletha kesal. Agam melihat seseorang menghampiri mejanya dengan tatapan tidak bersahabat. Ia kembali mendengus, cewek di depannya ini benar-benar sumber masalah. "Aletha! Ngapain lo bareng si cupu ini?!" geram Faisal membawa Sandy dan dua temannya mendekat. "Sal, kebiasaan banget lo dateng marah-marah," melirik sebentar Agam yang terlihat tak acuh di depannya. Aletha menunjuk Sandy dengan dagunya. "Ngapain lo bawa si sinting itu ke sini?" sambungnya kemudian. "Ehh, cupu pergi sana! Mata gue sepet lihat lo!" usir Faisal pada Agam seenaknya. Agam menatap Faisal sekilas lalu melangkah pergi dengan santai. Lagi pula Agam juga tidak ingin berada di antara pembuat masalah seperti mereka, ia hanya ingin sekolah dengan tenang. "Faisal! Lo apa-apaan main ngusir orang gitu aja!" geram Aletha tidak suka. Ia lantas berdiri menyusul Agam sebelum Faisal mencekal tangannya terlebih dahulu. "Dengerin gue, Sandy mau minta maaf sama lo," Aletha mengibaskan tangan Faisal asal. Menatap Sandy dengan perban di kepalanya, Aletha tahu cowok itu hanya basa-basi meminta maaf. "Bodo. Gue nggak peduli sama dia. Gue ada urusan yang lebih penting." "Penting? Lo suka sama si cupu? Ngapain mau nyusul dia segala?" Faisal mendesis tidak suka. Aletha menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "He's my boyfriend. Jadi stop gangguin gue!" ucapnya berlalu pergi. **** Aletha masih sibuk mendengarkan omelan Tristan di telepon. Ia baru saja berhenti bermain karate bersama Tristan. Tentu saja Tristan tidak setuju, masalahnya Aletha berhenti karena ada Radika bukan karena kemauannya sendiri. Meski alasan utamanya, ia malas meladeni cowok itu yang terus-menerus mengganggunya. "Tan, keputusan gue udah bulat. Lagian gue capek pulang pergi kampus lo." Aletha lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak. Melihat Agam berjalan menuju parkiran bersama Raka, Aletha tersenyum miring. Ia tertarik menghampiri Agam yang sedang memasang helm sembari mendengarkan Raka yang sibuk berbicara di samping motornya. Dan satu hal yang membuat Aletha senang, Agam pulang sendiri. "Jadi lo pulang sendiri?" tanya Aletha tiba-tiba yang lebih terdengar seperti pernyataan. Agam berdecak kesal, merasa terganggu dengan kehadiran cewek itu di belakangnya. Entah bagaimana Aletha sudah naik ke atas motor Agam dengan mudah tanpa meminta persetujuan dari sang pemilik. Tentu saja hal itu membuat Agam terkejut termasuk Raka yang melihat tingkah Aletha yang cukup di luar dugaan. "Turun!" geram Agam sembari menatap tajam Aletha. Aletha bergeming, seolah ucapan Agam untuknya tidak pernah ia dengar. Cewek itu malah terlihat menyamankan posisi duduknya di atas motor Agam. "Nggak, gue mau pulang bareng lo!" ucap Aletha sembari bersedekap. "Turun, selagi gue bersikap baik sama elo!" desis Agam. Aletha malah tersenyum menantang ke arah Agam. Tentu saja hal tesebut menyulut emosi cowok itu, tanpa pikir panjang lagi Agam turun dari motornya. Melihat Aletha sebentar, lalu mendengus kasar. Aletha terkejut Agam tiba-tiba saja memanggulnya di bahu tanpa peduli seramai apa parkiran sekarang. Sementara Raka yang melihat kejadian itu langsung bertepuk tangan dengan wajah melongo tidak karuan. Keberanian Agam patut diacungi jempol. Itu yang ada dipikiran Raka s           aat ini, meski serentetan pertanyaan muncul di kepalanya, Raka mengabaikannya dan memilih diam. "Holy s**t! Apa yang lo lakuin? Cepet turunin gue!" geram Aletha. Tangannya sibuk memukul bahu Agam. Seperti mati rasa cowok itu tidak merasa sakit sama sekali. Agam terus berjalan membawa cewek itu ke mobilnya meski beberapa pasang mata menatap mereka terkejut. Merasa malu akan apa yang terjadi, Aletha berbisik penuh penekanan. "Turunin gue, atau gue jambak rambut lo sekarang!" Agam tidak peduli, mobil Aletha sudah ada di depannya, ia lalu membuka pintu kasar. Ini yang benar-benar harus Aletha ingat, Agam membantingnya. Cowok itu melemparnya begitu saja di dalam mobil. "s**t, sakit b**o! Lo bisa alusan dikit nggak, sih?!" sentak Aletha sembari mengelus bagian belakang miliknya. Bertumpu pada kedua sisi pintu mobil, Agam mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dengar, berhenti cari gara-gara sama gue. Gue udah nggak suka deket sama lo, jangan bikin itu semua berubah jadi benci. Gue harap lo ngerti." ucapnya penuh penekanan, lalu berbalik menghampiri motornya. Aletha mengerjab, baru sadar dengan apa yang terjadi. Bukannya sakit hati dengan ucapan Agam, Aletha malah merasa tertantang. Mungkin mencoba sesuatu yang baru akan sangat menyenangkan, apalagi respon Agam padanya benar-benar membuatnya tertarik. "Nggak suka ya? Oke. Kita lihat sampai kapan lo bisa kayak gitu." ucap Aletha di dalam mobil, tersenyum miring atas pemikirannya sendiri. Di lain sisi, Agam bersikap tidak peduli pada sekitar, melajukan motornya mengabaikan berbagai macam tatapan yang terhujam lurus ke arahnya. Aletha benar-benar merusak niat awalnya bersekolah di sini, Agam hanya ingin cepat lulus seperti siswa lainnya. Bersembunyi dari keramaian lalu menghilang, itu rencana yang Agam susun. Tapi Aletha, cewek itu mengusiknya secara terang-terangan. Agam tidak bisa memungkiri bahwa cewek itu memang cantik, meski hal itu tidak seiimbang dengan kewarasannya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, Agam tidak tahu. Menarik napas lelah, Agam menambah kecepatan motornya melewati mobil Aletha begitu saja, membelah parkiran sekolah lalu menghilang di balik pintu gerbang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN