5 | Sebuah Batasan

2271 Kata
Ada sebuah batasan di mana seseorang bisa bermain dengan perasaan, tanpa terkecuali, meski seribu kata tidak senantiasa terucap. Agam Aldric - Akan ada saatnya di mana rasa menyesal melingkupi diri, meski hal itu telah ditepis sebegitu kuat, Agam tetaplah memikirkannya. Ia tahu berkata kasar pada seorang wanita bukanlah hal baik. Mungkin jika saat ini mamanya masih hidup, tentu ia akan mendapat petuah yang cukup panjang. Sejak beberapa hari yang lalu, ia sama sekali tidak melihat Aletha di sekolah. Entah kenapa hal itu begitu mengusiknya, Agam tidak tahu. Perasaan itu terlalu asing untuknya. Yang perlu ditertawakan saat ini adalah dirinya, mencuri dengar bukan sesuatu yang menjadi kebiasaannya selama ini. Ketidaksengajaan mungkin lebih tepat mengatakan situasi waktu itu. Berpapasan dengan teman Aletha yang sibuk berbicara di telepon, Agam jelas mendengar bahwa Aletha sudah membolos selama tiga hari. Ia sempat berpikir, kalau ucapannya di parkiran adalah penyebab utama membolosnya Aletha beberapa hari lalu. Mungkin meminta maaf adalah hal pertama yang harus Agam lakukan setelah ini, lantas berbicara baik-baik agar Aletha mau mengerti kalau ia hanya tidak ingin diganggu. Meski kata maaf tidak pernah terucap dari mulutnya, kali ini Agam akan mencoba untuk merendah. Berusaha berdamai dengan ego serta emosi. Ia menghembuskan napasnya pelan, lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti, membawa setumpuk buku paket dan beberapa novel yang baru saja datang untuk diletakkan di dalam perpus. Setelah bel istirahat pertama berdering, bu Dania sudah menugaskannya untuk menjaga perpus, menggantikan Mia teman sekelasnya yang ijin bertugas karena sedang sakit. Melihat seseorang yang sempat mengusik pikirannya beberapa hari ini, Agam menghela napas untuk kesekian kalinya. Langkahnya terhenti kembali ketika dua langkah dari pintu masuk, kaki jenjang berbalut sneakers putih menghalangi jalannya. "Move!" perintah Agam pelan. Melirik sebentar pemilik kaki yang begitu keras kepala, lalu berdecak karena merasa diabaikan. "Lo tahu seberat apa buku yang gue bawa? Jadi bisa singkirin kaki lo, gue mau lewat." Menggeser sedikit tubuhnya ke kanan, Aletha menghendikan bahu ringan. "Yang gue tahu sih, sejauh ini lebih berat ngegodain lo daripada bawa buku," ucapnya, mengikuti Agam masuk ke dalam perpus. "Kenapa sih, lo susah banget digodain? Gue jadi sangsi apa lo masih normal?" "Mengurusi kehidupan orang lain, apa sekarang itu hobi lo?" Berhenti tepat di belakangnya. Aletha melihat sekeliling sebentar, lalu kembali menatap punggung Agam. "Jadi lo benar-benar enggak normal, dong? Pantesan pas gue nyium lo kaku banget." ucapnya tidak nyambung. Agam memutar bola matanya, bosan. Meletakkan buku paket serta novel di depan Fadhil anak kelas X. Lebih memilih mengabaikan pemikiran gila Aletha untuknya. "Dhil? Murder On The Orient Express punya Agatha Christie udah dikembalikan belum?" "Belum, udah telat tiga hari sama sekarang." sahut Fadhil tanpa mengalihkan fokusnya pada layar komputer. Agam kembali menunduk, memisahkan buku novel dengan buku paket untuk ia tata di tempat yang berbeda. "Kalau udah dikembalikan lo simpen dulu, gue mau pinjem." Fadhil mengangguk paham, melirik sebentar seseorang di belakang Agam lalu berbisik lirih. "Pacarnya yah, Kak?" Agam tidak menjawab, kemudian ia kembali mengangkat buku paketnya. Berniat untuk melewati Aletha yang masih terlihat sibuk membalas chat dari Tania. Beruntung sepertinya cewek itu tidak mendengar ucapan Fadhil barusan. Agam mendengus melanjutkan langkahnya. Aletha bahkan terlihat baik-baik saja, tidak seharusnya ia berpikir bahwa Aletha akan tersakiti atas ucapan serta perilakunya yang lalu. Agam segera menepis jauh pikiran gilanya untuk meminta maaf pada cewek itu. Sama sekali bukan ide yang bagus untuk direalisasikan. "Mau ngapain lo ke sini?" tanya Agam tanpa ekspresi. Aletha berdehem, memasukan smartphone miliknya ke saku blazer, lalu mengikuti Agam berbelok ke rak buku bagian tengah. "Gue mau ngajakin lo pacaran." ucapnya begitu ringan. "The hell!" Agam menoleh terlalu cepat menanggapi apa yang ia dengar. Tidak habis pikir kenapa Aletha bisa berbcara seperti itu. Ia memilih mengumpat dalam hati, melihat Aletha tertawa mengejek di depannya. "Wow! Apa lo nggak tahu kalau dilarang mengumpat di dalam perpus?" tanya Aletha masih dengan seringai jail. "You think? Siapa penyebabnya?!" geram Agam lirih. Aletha menghendikan bahu, seolah hal seperti itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Lagi pula bukan salahnya kalau Agam sampai bersikap berlebihan seperti itu. Seharusnya ia merasa beruntung dari sekian banyaknya cowok yang mendekati Aletha, Agam adalah cowok pertama yang mendapat lampu hijau paling cepat. "Gue nggak nerima penolakan," ucap Aletha sembari menghadap Agam sepenuhnya. Sedikit memberi penekanan pada kalimatnya. "So, if you want to say no... gue bakal anggap itu yes. Lagian kita udah pernah ciuman dua kali," sambungnya sembari tersenyum miring. Agam mengangkat satu alisnya. "I'm not, just you. Kenapa lo ngungkit hal yang bahkan nggak pernah gue harapin?" "Kok gue kesinggung yah, padahal lo 'kan jelek," Agam berdecak kesal, meski begitu Aletha hanya tertawa melihatnya. "Balik kelas sana, jangan usil gangguin gue," melirik sebentar perban kecil di siku Aletha, Agam lekas mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Aletha tersenyum miring menyadari sesuatu. "Apa lo nggak merasa kalau perlakuan lo saat itu cukup kasar?" Aletha bisa melihat kalau tubuh Agam tiba-tiba saja menegang. Ia semakin tersenyum senang untuk mendalami actingnya. "Kalau aja lo bisa ngomong baik-baik, gue nggak bakal dapet luka kayak gini," Kalau boleh jujur, sebenarnya luka itu Aletha dapat saat belajar sepeda kemarin sore di halaman rumahnya bersama Tristan. Selama acara membolosnya tiga hari lalu, dua hari ia pergunakan untuk pergi ke Bali, menemani Tania pemotretan. Sedang sisanya ia gunakan untuk bermalas-malasan di rumah hingga mendapatkan luka gores cukup panjang di sekitar siku dan lengan. Ia benar-benar tidak menyangka kalau luka di sikunya akan bisa ia pergunakan untuk membuat Agam salah paham. Agam mendengus, menoleh sekilas ke arah Aletha. "Lo pikir gue bodoh? Gue ngelempar lo di dalam mobil bukan di aspal." terangnya. Agam jelas ingat kalau luka itu bukan hasil perbuatannya. Ia tidak sebodoh itu untuk termakan ucapan Aletha. Bersandar pada rak kayu di belakangnya. Aletha berdecak sembari bersedekap. "Oke, fine! Luka ini gue dapet pas jatuh kemarin. Dan soal di parkiran, gue 'kan cuma pengen pulang bareng calon pacar," "Sejak kapan gue nyalonin diri jadi pacar lo?" sergah Agam cepat. "Sejak kita jadi pasangan pertama yang masuk ruang konseling karena ciuman," Agam kembali mendengus. Ia menggeleng geli. "Oh, yah? Gue sempet mikir kalau itu adalah hari pertam            a gue ketempelan," seolah memberi tanda petik pada kalimatnya, Agam masih setia tersenyum mengejek. Membuka mulutnya untuk kembali bicara, Aletha dengan terpaksa mengurungkan niatnya, ia berdecak tidak terima sembari mengumpat kesal. Sebaliknya, Agam justru merasa senang, ia tertawa melihat Aletha yang menggerutu di sampingnya. "Denger, 'kan? Balik kelas sana, lo nggak diijini di sini terlalu lama, bel masuk udah bunyi." Aletha kembali berdecak, menghentakan satu kakinya untuk melampiaskan kekesalannya pada situasi. Namun sayangnya, hal itu hanya sesaat, sebelum semuanya hilang terganti dengan seringai mencurigakan. Ia lantas berlari pergi. Setelah mencuri satu kecupan ringan di bibir Agam secara cepat. Mungkin dari sekarang Agam harus bisa belajar menahan amarahnya. Segala hal yang menyangkut tentang Aletha akan membuat emosinya selalu di ujung tanduk. Menyesal sudah pernah merencanakan kata maaf pada cewek semenyebalkan itu. "Jadi bener itu pacar Kak Agam?" Agam menoleh sekilas, menatap Fadhil yang masih fokus menatap kepergian Aletha, lantas meninggalkannya begitu saja dalam keheningan tanpa menjawab pertanyaan Fadhil. **** "Kenapa muka lo kayak jemuran kusut belum disetrika gitu?" Menghempaskan tubuhnya di bangku samping Raka, Agam melotot kaget saat tiba- tiba Yoga menatapnya begitu dekat sembari bersedekap. "What the... apa-apaan muka lo itu, Yog?!" pekik Raka, ikut kaget. Kalau saja Yoga tidak mengenakan kacamata hitam dengan kumis bulan sabit terbalik, mungkin Agam dan Raka tidak akan sekaget ini. Apalagi melihat topi yang dia kenakan bertuliskan 'Lelaki Tampan Limited Edition'. Entah harus tertawa atau prihatin atas tingkat percaya diri Yoga yang berlebihan. Menegakkan kembali tubuhnya, Yoga memberi isyarat Raka untuk diam sembari menempelkan satu jarinya di bibir. "Ssstt, gue lagi dalam misi mengamati wajah Agam." "Emang kenapa?" Raka mengernyit bingung, ucapan Yoga mengundang rasa penasaran, yang secara tidak sengaja ikut membuatnya meneliti wajah Agam dari dekat. "Gue mau tahu, kenapa cewek secantik Aletha bisa suka sama dia? He've ugly!" ucap Yoga, menggosok dagunya dengan jari meniru gaya detektif. "Damn, I agree with you," segera menutup mulutnya adalah hal pertama yang Raka lakukan secara reflek saat Agam meliriknya tajam, akan tetapi hal itu hanya sebentar, Raka kemudian terlihat menahan tawa sekarang. Agam memutar bola matanya, melihat Yoga mulai melanjutkan kegilaannya yang lain. Lantas memukul kepala Raka yang terus menahan tawa di sampingnya meski Agam sudah menghujamnya dengan tatapan tajam. "Lou! Sini bentar!" panggil Yoga setelah melihat ke sekeliling, mencari siapa yang cocok untuk mengikuti pikiran gilanya. Lou sempat bingung, namun akhirnya ia hanya bisa menurut berjalan mendekat ke arah mereka. "Kenapa? Lo mau bayar kas?" tanya Lou polos. "Atau denda karena nggak piket kemaren?" Yoga berdehem kikuk, ia tahu kalau hutang kasnya sudah sangat menumpuk. Ditambah satu lagi dirinya yang melupakan tugas piketnya kemarin. "Bukan itu kunyuk! Gue mau tanya ganteng mana gue sama Agam?" Lou mengernyit heran, lalu menatap Yoga dan Agam secara bergantian. "Gantengan gue," Agam mendengus geli, bersamaan dengan Raka yang tertawa sembari memukul meja. Mereka tidak menyangka bahwa Lou akan memberikan jawaban seperti itu. Lou keturunan Indo- Cina, satu sekolah juga tahu kalau bendahara kelas sekaligus kapten tim basket itu memiliki paras yang cukup rupawan. "Aishh. s****n lo, pergi sana!" ucap Yoga kesal. Lou malah tertawa ringan. "Awas lo nggak bayar kas. Gue lipatin baru tahu rasa lo. Sekalian tuh sama denda yang kemarin." "Iya.. iya gue bayar. Dasar rentenir lo!" sungut Yoga. Masih melanjutkan perdebatannya dengan Lou soal uang kas dan denda piket. Mengalihkan pandangannya dari Yoga di depan kelas, Raka berbisik lirih di samping Agam. "By the way, kuping gue masih free buat ngedengerin penjelasan lo." Agam mengangkat satu alisnya, lalu memutar bola matanya, mengetahui apa yang Raka maksud. **** Entah Agam harus bersikap seperti apa sekarang ini, melihat Faisal dan keempat temannya sedang merokok di toilet sekolah, melaporkan adalah hal paling mudah sekarang. Mungkin hal itu akan terjadi jika Agam tidak berpikir bahwa ia akan mendapat masalah setelahnya. Agam terpaksa diam. Bersikap tak acuh pada sekitar, ia pura-pura tidak melihat mereka sekarang. Dan sialnya matanya tidak sengaja menatap Faisal di kaca wastafel, Agam melirik malas Faisal yang menatapnya balik. Ia membasuh tangannya cepat lalu melangkah keluar, akan tetapi Faisal dengan sengaja menyegal kakinya. Membuat Agam terjatuh dan menabrak tembok. Ugh. Agam bisa merasakan rasa perih tiba-tiba menjalar di sudut pelipisnya sebelah kanan. Faisal dan keempat temannya tertawa pongah. "See, gue benar-benar nggak ngerti. Kenapa si nerd, loser and ugly ini bisa jadi pacar Aletha?" ucapnya membuang putung rokok ke lantai. "Gue bahkan belum memukulnya, tapi lihat.. dia udah limbung duluan." sambungnya berlalu pergi, sebelum keempat temannya membersihkan sisa kenakalan mereka. Sial! Ia mengumpat di dalam hati, saat kaki Faisal secara sengaja menginjak kacamata persegi berframe tebal miliknya yang terjatuh, lantas melewatinya begitu saja. Tidak ada pukulan atau semacamnya, Faisal hanya menyegalnya saja tadi. Sialnya hal itu membuatnya mendapat luka di sudut pelipisnya karena terlalu keras menabarak pinggiran tembok toilet. Selang beberapa menit, Raka datang. Ia bersiul melihat suasana toilet yang cukup rusuh, ia ingin bertanya apa yang terjadi. Akan tetapi hal itu berganti cepat setelah melihat Agam membasuh mukanya. Raka tentu terkejut tiba-tiba pelipis temannya itu mengeluarkan darah, ia segera berlari membawa temannya itu ke uks. Meski begitu Raka hanya bisa menggeleng menyadari Agam masih bisa tersenyum santai mendengar dirinya berteriak marah. "Kenapa dia?" "Jatuh di toilet. Gue masih ada kelas, bisa tolong lo temenin dia?" pinta Raka sembari melangkah pergi, meninggalkan Agam bersama Aletha. Sementara penjaga uks sedang pergi ke toilet dengan tergesa-gesa setelah menjahit luka Agam tanpa menutupnya dengan perban. Turun dari ranjang uks sebelah Agam. Aletha memijat pangkal hidungnya sebentar, memperhatikan luka jahitan di pelipis cowok itu. Ia jelas tidak habis pikir kenapa cowok ini begitu ceroboh? Kebetulan sekali saat dirinya sedang tidur di uks, ia mendengar keributan yang Raka buat memanggil petugas uks. Tidak menyangka, sesuatu yang Aletha dapatkan malah membuatnya terkejut. Terlukanya Agam yang sama persis dengan luka Sandy beberapa hari yang lalu. Aletha memhela napas sembari bersedekap. "Kalau ngomong sama gue aja lo pedes. Kenapa bisa sih? Kok lo diam aja gitu? Gila yah, cowok bukan sih lo?" tanyanya beruntun. Telinga Agam sudah berdenging sakit mendengar omelan Raka sepanjang jalan tadi. Sekarang ia harus memijat pelipisnya, kepalanya ikut pusing karena suara Aletha. "Bisa lo diam? Gue jatuh bukan dibully." "Yeah. Terserah lo, yang jelas muka lo tambah jelek sekarang," "Thanks, kalau lo nggak mau bantuin gue, pintunya masih belum di tutup. Lo bisa keluar lewat sana." ucap Agam dingin. Tangannya sibuk membuka kacamata miliknya yang sudah retak. Baru dua minggu lalu ia mengganti kacamatanya dan sekarang sudah rusak. Kali ini Aletha diam, duduk di samping Agam dengan kotak perban di tangannya. Ia menarik seragam cowok itu pelan, berniat meminta perhatian darinya sepenuhnya. "Aletha!" teriak Agam saat Aletha menekan lukanya secara sengaja. Bukan tidak ada alasan Aletha melakukan itu. Agam memperhatikannya terlalu intens, membuatnya jengkel dan secara sengaja menekan luka cowok itu cukup keras. "Gue tahu kalau gue itu cantik. Ngapain sih lo ngelihatin gue sampai kayak gitu?" ucapnya sembari memasukan perban ke dalam kotak lalu meletakkannya ke lemari obat. Agam terdiam cukup lama, ia sedang berpikir sembari memperhatikan Aletha. Menghela napas sejenak untuk kembali bersuara. "Bisa hentikan permainan lo?" pintanya dengan nada lelah. Aletha mengernyit bingung membalas tatapan Agam. "Permainan apa?" Agam menggeram, Aletha hanya pura-pura bodoh untuk mengerti ucapannya. "Jangan belagak b**o! Semua ada batasannya, Tha! Jangan main-main sama perasaan!" nada bicaranya terdengar kesal. Aletha terdiam lalu tersenyum miring. Berjalan mendekati ranjang, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Agam. "Asal lo tahu.. gue nggak pernah seserius ini sebelumnya." jawabnya berbisik lirih, mengeliminasi jarak di antara mereka berdua untuk kembali mencium Agam. Namun Agam segera menjauhkan kepalanya, melepas kedua tangan Aletha pelan. "Gue mau istirahat," ucapnya tanpa menatap mata Aletha. Kemudian berbaring, berbalik untuk memunggungi cewek itu. Karena Agam tahu. Semua yang berawal dari hal sepele akan menjadi besar di kemudian hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN