6 | Tertangkap Basah

2044 Kata
Kali ini apa?" Aletha menatap ke sekeliling, lalu melihat Tristan yang mengambil jaket serta topi bertuliskan 'black darker' di kursi belakang penumpang. Biasanya Tristan tidak akan berpenampilan se-detail ini, ia lebih terbilang cuek soal penampilan. Berada di arena balap pukul 01.00 dini hari adalah hal yang sering Aletha lakukan jika Tristan memiliki job di tempat itu. Mungkin hal seperti ini bukan sesuatu yang wajar bagi seseorang yang menyandang status pelajar seperti dirinya. Tapi bagi Aletha dunia malam sudah menjadi teman-nya sejak lama. "Seperti biasa, menjadi repoter dadakan. Tapi kali ini gue kepikiran buat lebih terlihat keren." jawab Tristan sembari menenteng sebuah tas kamera lantas membuka pintu mobil pelan. "Gue tinggal, Oke? Lo bisa cari kesenangan sendiri. Tapi please! Jangan buat ulah." Aletha memutar bola mata, bosan. Ia tahu betul apa maksud Tristan, untuk kesekian kalinya selama setengan jam perjalanan Tristan mengatakan hal yang sama pada dirinya. Setelah apa yang terjadi dua Minggu lalu, Aletha sempat membuat keributan di tempat ini dengan memukul cowok mabuk yang terang-terangan menggodanya secara lancang. Membuat balapan terpaksa di hentikan karena Josh sebagai penanggung jawab balapan tidak suka kalau ada yang mengotori arena balap dengan sesuatu yang berbau alkohol. Itu peraturan yang dia buat dan harus dipenuhi. Arena balap hanya untuk para pengagum aspal, bukan untuk hal lain. Tentu itu hanya alasan kecil untuk menutupi maksud sebenarnya Josh. Ia tidak ingin ada kecelakaan. Tristan sudah berjalan menjauhi mobil, sebelum cowok itu terlihat berhenti, lalu berbalik kembali untuk mengatakan sesuatu pada Aletha. "Oh yah, si Radika juga ada di sini, lo bisa temu kangen kalau lo mau," ucap Tristan sembari tersenyum jail, lantas melanjutkan langkahnya melihat Aletha yang hanya menghendikan bahu tak acuh. Sama sekali tidak terusik. Ia hanya tidak peduli meskipun Radika berada di sini, yang terpenting sekarang cowok itu tidak mengganggunya seperti sebelum-sebelumnya. Aletha sudah jengah. Fokusnya kini teralihkan, menyadari benda dalam saku celananya bergetar berulang kali. Ia mengernyit heran. Ini seratus kelima belas kali Raka menelpon Agam dalam kurun waktu seharian penuh. Membuat Aletha jengkel dan sempat mematikan ponsel milik Agam. Benar ponsel itu milik Agam, ia mencurinya tadi siang. Tepat setelah cowok itu tertidur pulas di sampingnya saat di uks. Melihat benda itu tergeletak di atas meja membuat tangannya gatal ingin menyentuhnya tanpa ijin. Sebetulnya ia berniat meminta nomer telepon Agam, bukan secara langsung, ia tahu betul Agam tidak akan memberikan nomernya dengan mudah. Untuk itu Aletha mencurinya. Tapi satu hal yang menjadi masalah saat itu, ia mengumpat pelan melihat bagaimana layar ponsel Agam yang terkunci menggunakan password, ia langsung memasukannya ke dalam saku blazer tanpa berpikir Agam akan marah besar atas ulahnya yang terkesan lancang. Aletha berdecak sekilas, dengan terpaksa mengangkat telepon dari Raka meski rasa tidak suka ia tunjukan secara terang-terangan. "Ha.." "Woi! Ini hape orang balikin nggak! Wahh.. kalau lo nemu atau gimana seharusnya lo angkat! Lo tahu gue nelpon berapa kali?! Niat nyolong lo yah?!" Segera Aletha menjauhkan telinganya mendengar ucapan Raka yang tidak jelas dengan suara yang terdengar nyaring, lalu menjawabnya dengan nada satu oktaf lebih tinggi. "Berisik! Ngapain sih lo nelpon Agam jam segini?" "Wah.. jadi yang nyolong hape lo cewek, Gam." Aletha bisa mendengar Raka berbicara dengan seseorang di sebrang sana. Ia mengernyit heran, sedikit bingung akan keberadaan Agam di samping Raka saat ini. "Gue Aletha," "Gam, namanya Aletha.." lapor Raka pada Agam masih tidak sadar, sampai ia terkejut sendiri secara tiba-tiba mengetahui siapa pemilik suara itu. "What?!" Mendengar seseorang mengumpat di sebrang sana, tentu saja Aletha mendengus geli, membayangkan bagaimana ekspresi Agam saat ini jika berada di hadapannya. "Balikin hape gue," pinta Agam tenang setelah ponsel Raka berpindah padanya. Berbanding terbalik dengan emosinya saat ini. "Night too, boyfriend," "Mau lo apa sih?!" geram Agam, mendengar nada bicara Aletha yang terdengar santai, seperti tidak merasa bersalah sama sekali. "Gue baru tahu kalo cowok kayak lo hobinya begadang, kenapa belum tidur?" Agam berdecak. "Jangan ngalihin pembicaraan. Apa yang mau lo lakuin sama hape gue?" Aletha kembali mengernyit, mendengar suara motor serta keramaian yang Aletha kenal. Ia sedikit merasa curiga akan sesuatu. "Ada di mana lo sekarang?" "Tidur di rumah Raka, lo tahu ini jam berapa?!" Aletha memutar bola mata, ia mengedarkan pandanganya ke sekeliling sembari mengetuk setir mobil dengan jari telunjuk. Ia sedang mencari sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang dapat membuktikan dugaannya. Dan benar apa yang ia lihat saat ini membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Good, jadi ini yang disebut tidur?! Aletha benar-benar merasa malam ini akan jadi menyenangkan. Ia lalu keluar dari dalam mobil menuju seseorang yang ia kenal dengan langkah setenang mungkin. "Tidur sambil duduk di atas motor gitu maksud lo?" Agam bergumam lalu mengumpat merasa ketahuan, Aletha sudah berada di sampingnya sembari tersenyum mengejek menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Cewek itu bersiul mengitari Agam yang masih duduk di atas motornya, Raka lebih memilih menjauh mengambil jarak tiga langkah ke belakang, tidak mau ikut campur urusan kucing dan tikus yang sudah mengakar pinak di depannya ini. "So, apa lo baru aja mencoba dunia malam? Kenapa bisa cowok dari perpustakaan bisa ada di tempat seperti ini?" "Gue nggak perlu jawab. Itu bukan urusan lo," melepas helmnya, Agam membenahi kacamata bulatnya yang turun. Ia mengganti kacamata perseginya yang rusak terinjak Faisal denga kacamata bulat tebal. "Lo sendiri ngapain tengah malam di sini?" Aletha menghendikan bahu, ringan. "Yang pasti gue nggak ngikutin lo," jawab Aletha, melihat Agam memandangnya dengan tatapan penuh selidik. Menoleh ke samping, Aletha tidak sengaja melihat Radika berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Aletha sontak berlari ke samping motor Agam lalu berjongkok. Menyembunyikan diri dari seseorang yang selama ini ia hindari. Agam mengangkat sebelah alisnya, bingung. Selang beberapa detik seseorang datang menghampirinya denga setelan casual yang terlihat keren. "Lo Agam 'kan? Apa lo masih inget gue?" sapa Radika pada Agam yang masih memandangnya bingung. "Kita ketemu di rumah sakit satu bulan lalu, gue belum ngucapin terima kasih atas pertolongan lo waktu itu. Jadi thanks, udah ngasih darah lo ke adek gue." sambungnya lebih jelas. Agam mengangguk lantas tersenyum kecil. "Nggak masalah. Darah gue cukup banyak buat disumbangin, apa adek lo udah sembuh?" "Yah, begitulah.. untuk ukuran anak kecil yang udah bisa lari-lari." jawab Radika. "Oh, yah. Gue ada urusan lain, semoga lain kali gue bisa traktir lo makan," sambungnya, melangkah pergi setelah dipastikannya tidak ada seseorang yang ia cari. Sebetulnya sejak tadi Agam sendiri sedang menahan tawanya. Bukan soal Radika tapi soal Aletha, cewek itu terus mengumpat kesal di bawah sana karena Radika tidak kunjung pergi. "Oh s**t! Gue benci nyamuk!" umpat Aletha lagi setelah Radika terlihat menjauh. Berjongkok di bawah motor Agam membuatnya digigit nyamuk karena terlalu lama menunggu. "Bagus. Gue malah sebaliknya. Mungkin dia tahu mana orang yang harus digigit karena sifatnya yang menyebalkan dan keras kepala." ucap Agam sembari tersenyum miring, berniat menyindir. Aletha hanya memutar bola mata menanggapinya. "Ex-boyfriend?" "Cuma dua Minggu. Dan gue baru tahu kalau dia punya tunangan. Bodoh 'kan?" jawab Aletha sembari membenahi topinya menghadap ke belakang. "Nyesel mutusin dia?" tanya Agam. "Dia cuma salah satu dari mantan-mantan gue," jawabnya santai sembari menghendikan bahu. Agam mendengus. "Gue nggak kaget kalau lo punya mantan yang banyak." Tersenyum miring lantas mengalungkan kedua tangannya pada leher Agam. Aletha kembali berucap. "Kenapa yah gue ngerasa lo jealous? Apa sekarang lo udah mulai suka sama gue?" Agam mendorong dahi Aletha dengan telunjuknya tanpa melepas tangan Aletha yang berada di lehernya. "Butuh ketertarikan khusus buat suka sama seseorang.. dan itu nggak gue dapet dari lo." "Lo terlalu cepet ngomong kayak gitu," bisik Aletha mengecup bibir Agam secara kilat dua kali. Agam segera menjauhkan kepalanya melihat seseorang berjalan mendekat lalu melepas tangan Aletha pada lehernya. "Sorry, apa gue ngelewatin sesuatu?" Raka tersenyum canggung, ia baru saja membuang air kecil di semak-semak sekitar. "Kenapa kalian ngelihat gue kayak gitu?" sambungnya bingung. Beralih menatap Aletha, dengan malas Agam meminta barang miliknya. "Sekarang balikin hape gue." "Gue nggak mau ngasih ini cuma-cuma," ucap Aletha menyeringai. Kali ini Agam benar-benar diuji kesabarannya. "Mau lo apa sih sebetulnya?!" "Dateng ke pertandingan besok, jadi pacar yang baik nungguin gue sampe pulang, gimana?" Ia kembali mengalungkan tangannya pada leher Agam. Agam mengernyit tidak suka. Ia berniat menyahuti ucapan cewek itu sebelum beberapa orang datang menghampiri mereka. "The hell. Baru gue tinggal bentar lo udah gandeng cowok lain. Tunggu, apa sekarang gue ganggu?" Aletha berdecak, tanpa menoleh ke belakang ia tahu itu suara siapa. Tristan. Abangnya datang di waktu yang tidak tepat. "Thanks yah, Tan. Buat elo yang ngerusak kesenangan gue," ucapnya setalah menghadap Tristan sepenuhnya. "Hallo, my crazy girl," sapa seseorang dari belakang Tristan, kemudian berdiri di samping Tristan bersama yang lain. "Long time no see," "Mau ngapain lo?!" Aletha mundur satu langkah menghindar, melihat Gavin berniat memeluknya. "No see, my a*s. Dengar, Fanya masih sahabat gue kalau lo lupa, jadi jangan coba-coba meluk gue!" sentak Aletha sembari menendang kaki Gavin. "Duh. Dasar cewek barbar!" ringis Gavin mengelus kakinya yang sakit. "Siapa dia?" Tristan menunjuk Agam dengan dagunya. "Pacar gue," "Loh, kalian pacaran? Sejak kapan kok gue baru tahu lo pacaran sama ini bocah." ucap Gavin tiba-tiba. Aletha mengernyit bingung. "Lo kenal dia?" "Raka adek gue. Jelas gue kenal Agam. Dunia dan seisinya memang sempit." terang Gavin berlebihan, masih sedikit terkejut atas pengakuan Aletha barusan. "Lebih sempit lagi tahu kalian pacaran." sambungnya bergumam. Agam hanya menghendikan bahu malas, melihat Aletha menatap ke arahnya meminta pembenaran. "Oke, terus sekarang ngapain kalian ngumpul di sini?" Tristan baru mengingat tujuannya menemui Aletha. "Kita mau ke Anomali, Jeremi baru aja menangin balapan, lo mau ikut?" "Nggak, gue mau pulang bareng pacar gue," jawab Aletha sembari tersenyum miring ke arah Agam. Dan benar, Agam merasa salah pergi ke arena balap malam ini. Hell. **** Berhenti di depan rumah mewah bercat putih, Agam tahu betul cewek itu bukan orang biasa, terlihat bagaimana luasnya rumah Aletha sekarang ini, orang-orang jelas tahu kalau cewek itu adalah anak orang berada. Anehnya, Agam sedikit heran, di dalam sana seperti tidak ada siapa pun. Terlihat sepi dan tak berpenghuni. Mungkin karena ini masih pukul 03.00 dini hari, sangat wajar jika ternyata keluarga Aletha masih bergelung di bawah selimut tebalnya. Dan satu lagi yang membuatnya sangat terkejut dan merasa tidak beruntung, mengetahui Aletha tinggal satu kompleks perumahan dengannya adalah hal terakhir yang Agam bayangkan. Banyak hal yang membuatnya khawatir, salah satunya, kemungkinan besar Aletha akan mengetahui tempat tinggalnya karena jarak rumah mereka hanya terhitung beberapa blok saja. Tentu hal itu akan membuat hari-harinya semakin kacau. Turun dari atas motor dengan santai Aletha mengabaikan keterdiaman Agam. "Thanks," ucapnya lalu mengikuti ke mana arah pandang Agam, tanpa bertanya pun Aletha tahu apa yang ada dalam pikiran cowok itu saat ini. "Gue tinggal berdua sama Tristan." terangnya tanpa diminta. "Gue nggak tanya." ucap Agam tak acuh. "Yeah, bilang itu sama mata lo. Lagian gue bisa baca pikiran lo sekarang," balas Aletha bersedekap. Agam mendengus geli, tidak mau percaya begitu saja. "Lo pikir gue percaya?" Aletha memutar bola mata, lalu berdecak. "Gue belum dengar lo bilang iya atas tawaran gue." "Siapa mereka?" tanya Agam tiba-tiba, melirik sebentar mobil avanza hitam yang terparkir di dekat rumah Aletha. Aletha mengernyit tidak suka, melihat Agam mengabaikannya. Ia ikut memandang beberapa orang berjas hitam yang berdiri di depan rumah sederhana bergaya Eropa. Salah satu di antara mereka memarkirkan mobilnya di dekat rumah Aletha. "Itu anak buah Mr. Thomas, mereka selalu kayak gitu 24 jam penuh," balasnya malas. Ia kembali berdecak sekilas melihat raut wajah Agam yang meminta penjelasan lebih. "Kenapa? Apa lo mikir mereka ngawasin kita? Dengar yah, gue bukan anak artis atau seseorang dengan kekuasaan tinggi buat dapet pengawalan kayak gitu. Itu terlalu terhormat buat gue," sambungnya lagi. "Terserah," melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, Agam turun dari atas motor. Aletha pikir, ia akan mendapat setidaknya satu ciuman selamat malam atau semacamnya akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. "Lepas helm gue. Hape gue juga!" perintah Agam pelan. Dengan terpaksa Aletha melepas helm itu, lalu memberikannya pada Agam. "Nggak semudah itu. Hape lo gue sita, besok gue tunggu di pertandingan kalau hape lo pengen balik," setelah itu ia langsung berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Agam menghela napas sejenak, ia terlihat tidak peduli lantas membawa motornya begitu saja menjauhi rumah Aletha. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar Aletha kembali lagi ke gerbang lalu mengumpat kesal atas sikapnya yang terkesan tak acuh. Agam mendengus kecil, sebelum berjalan menjauh ia melirik sebentar rumah bergaya Eropa dengan penjagaan penuh itu, lalu kembali fokus mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN