I'm here waiting for youAletha Arabella
_
Dentuman bola serta gesekan sepatu dengan lantai saling bersahutan, menggema di setiap penjuru aula. Waktu seakan berjalan begitu cepat. Pertandingan sudah mulai memasuki waktu akhir. Akan tetapi Aletha sama sekali tidak melihat Agam di bangku penonton, atau berada di ambang pintu dengan wajah kakunya seperti biasa. Mungkin sebenarnya itu hanya asumsi cewek itu sendiri. Agam tidak pernah berbicara apapun mengenai ucapan Aletha waktu itu. Yang tersirat hanya pemaksaan yang jelas mengundang kekesalan pada diri Agam.
Entah Aletha tidak tahu kenapa ia sangat tertarik menggoda cowok itu. Sebelumnya ia tidak pernah mengejar seseorang sampai seperti ini, malah sebaliknya. Meski penolakan yang Agam berikan secara terang-terangan, Aletha justru lebih memilih bersikap abai.
Dan saat ini, bukanlah kesalahan Agam jika ia memilih tidak datang. Aletha tidak punya alasan yang tepat untuk marah pada cowok itu. Di sini ia yang terlalu memaksa.
Tania sedikit mengernyit, ia merasa aneh melihat Aletha yang sejak tadi memandang ke arah pintu masuk aula dengan gelisah.
Melirik sebentar Aletha, Tania lantas membuka minuman isotonic yang tergeletak di bawah kakinya. "Tha, dari tadi lo ngelihatin apaan, sih? Bingung gue. Sebentar-sebentar lihat pintu. Lo lagi kebelet makanya pengen cepet keluar?"
"Nggak, nggak penting. Si Laras mana?"
"Lagi ngomong sama pelatih,"
Hanya mengangguk paham, merespon seadanya. Aletha lantas melihat kembali ke tengah lapangan, di sana ia tidak sengaja melihat Aldo yang berlari membawa bola menuju ring basket.
Masih segar dalam ingatannya, bagaimana awal pertemuan mereka yang diawali dengan kekurangajaran Aldo kemudian berakahir dengan Faisal yang memukul Aldo di depan sekolah. Entah keberuntung darimana saat itu Pak Sapri tidak ada di pos jaga. Yang jelas akan menjadi masalah besar jika hal itu sampai terjadi. Mereka bisa berakhir di ruang BP. Dan satu lagi, nama Aletha akan ikut dibawa-bawa.
Meski begitu, setelah kejadian itu Aletha masih dibuat tidak habis pikir olehnya. Aldo masih mempunyai keberanian menggodanya sebelum pertandingan dimulai tadi. Seolah kata jera tidak pernah ada dalam pikiran cowok itu. Ia dengan santai meminta nomor telepon Aletha. Dan respon yang Aletha berikan, ia hanya mendengus kecil lalu berjalan menjauhi Aldo.
"Btw, lo sekarang rajin bawa mobil yah, tumben banget? Kata lo yang itu terlalu mencolok, kenapa nggak bawa yang satunya aja?" tanya Tania, menarik kembali perhatian Aletha padanya.
Aletha menenggak minumannya hingga habis, lalu menoleh ke arah Tania. "Bu Beti yang nyuruh. Gue mau diskorsing lagi kalau sampai telat terus-terusan. Lagian gue males berurusan sama si kumis. Kadar nyebelinnya semakin tinggi. Dan soal mobil, yang satunya dibawa Tristan."
Tania lantas tertawa kecil, lalu menggeleng geli. Setelah mencari tahu dengan benar, ternyata Pak Sapri yang melaporkan Aletha pada guru BP. Pantas saja Aletha terlihat menahan kesal pada Satpam itu.
Beralih mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia lantas kembali menoleh ke arah Aletha seolah mengingat sesuatu. "O iyah, apa lo mau ke Anomali nanti malam? Ada party, Jason bilang pengen ngelepas masa lajangnya sebelum nikah sama Chary."
"Gue dateng setelah urusan gue selesai," sedikit menyeka keringat di leher, Aletha masih melihat ke tengah lapangan. "Lo bareng Laras?"
"No, Gue kapok banget bawa Laras. Itu cewek kalau mabok parah banget, dia kayak orang gila. Belum lagi kalau gue kena omel Tante Fyrda, bisa ikut gila gue!" sergah Tania, bergidik ngeri mengingatnya.
Mungkin karena Laras pernah muntah di mobilnya sepanjang perjalan pulang dari club malam dan secara gila menjambak rambut Tania karena Laras berpikir Tania adalah selingkuhan mantan kekasihnya dulu. Bahkan Tania masih bisa mengingat rasa sakit bekas jambakan itu. Benar-benar tidak habis pikir Tania dibuatnya.
Aletha tertawa ringan. "Waktu itu dia habis putus. Wajar aja kalau si Laras kayak gitu. Lagian gue yakin tanpa lo jemput, dia bakal ikut party,"
"I know, dan saat itu terjadi gue kepikiran buat jadi teman durhaka nanti," ucap Tania. "Gue bakal pura-pura nggak kenal pas dia lagi mabok, Gimana gue pinter 'kan?" sambungnya lagi.
Namun respon yang Aletha berikan malah membuat Tania mencebikan bibirnya kesal.
"Dasar sinting," ucap Aletha.
Selang beberapa detik pertandingan berakhir. Aletha mendengus lirih memikirkan sesuatu, lantas berdiri menuju ruang ganti bersama Tania yang terus mengomel di sampingnya.
****
Berjalan menuju parkiran sekolah, Aletha melihat seseorang yang ia tunggu bersandar santai pada kap mobil berwarna silver. Aletha mendengus, bukannya masuk dan menemuinya Agam malah berada di parkiran dengan Sandra. Mereka terlihat akrab. Melihat kembali ke arah mereka, Sandra yang terlihat tersenyum malu, sementara Agam hanya menanggapinya dengan senyum ramah yang terkesan kaku. Ia terlihat begitu abai akan perasaan seseorang.
Aletha pernah berpikir ingin mencakar wajah kaku yang selalu bersikap judes di depannya itu. Namun ia mencoba sabar dan menahan amarah sampai titik nol. Sikap Agam begitu menyebalkan padanya. Apalagi saat ini Agam terlihat biasa saja dengan santainya tersenyum di depan Sandra. Seolah sama sekali tidak tahu jika Aletha sedang menunggunya di dalam seperti orang bodoh.
Rasanya segala jenis koleksi u*****n tak berkelas yang Aletha miliki ingin ia keluarkan saat ini juga. Ia menghela napas sekilas, mengusir pikiran gilanya untuk mengumpat di tengah keramaian, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran.
Beruntung Sandra sudah pergi ke arah gerbang meninggalkan Agam yang masih setia duduk di kap mobilnya. Dengan berpura-pura bermain ponsel, Aletha berniat mengabaikan Agam. Ia melewati cowok itu begitu saja, seolah Agam dan dirinya tidak saling mengenal. Dan
kebetulan sekali mobil Aletha berada di samping mobil silver milik Agam.
"Lo lama banget! Gue udah satu jam nunggu lo di sini,"
Aletha menghentikan langkahnya. Sebelum berbalik ia tersenyum sekilas, lalu berdehem menoleh ke arah cowok itu. "Siapa? Lo nunggu gue?"
Agam memutar bola matanya. Ia berdecak sembari membuka pintu mobil. "Gue tahu lo nggak sebego itu buat nanya lagi, cepet masuk!"
"Tunggu, gue emang nggak tahu. Bisa lo jelasin kenapa gue harus masuk mobil ini?" ucap Aletha memancing.
"Masuk atau gue tinggal?!"
Aletha memutar bola matanya, lalu masuk ke dalam mobil berwarna silver itu. "Dih, sewot bener. Lagian gue suruh lo nunggu dalem bukan di luar kayak gini," ucapnya kemudian.
"Terserah, yang penting gue nunggu lo. Sekarang mana hape gue?!" pinta Agam dengan posisi satu tangan menengadah ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Aletha berdecak menyerahkan ponsel Agam dengan rasa malas yang kentara. Agam benar-benar tidak lupa dengan benda miliknya.
Setelah mendapat apa yang ia inginkan, Agam dengan cepat melajukan mobilnya keluar arena parkir. Dan soal mobil, Aletha mungkin bisa menyuruh Tristan mengambilnya nanti sore.
"Tumben lo bawa mobil?" tanya Aletha sembari membenahi roknya yang sedikit tersingkap.
"Gue bawa lo soalnya, repot kalau sampai ngamuk di jalan," jawab Agam. Tanpa mengalihkan fokus dari jalan.
"Sorry aja yah, Lo pikir gue gila?!"
Agam hanya menghendikan bahu ringan, mendengar apa yang cewek itu ucapkan. Tidak begitu ambil pusing, meski tatapan tajam menghujam ke arahnya saat ini.
"Gue nggak bilang gitu, lo sendiri yang ngomong," jawab Agam santai. Bermaksud kembali fokus pada jalanan, Agam dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya menoleh kembali. Menarik atensinya sebentar untuk menatap Aletha dengan tawa yang tiba-tiba saja meledak penuh ejekan.
"Shut up! Gue nggak laper!"
Seperti menguji kesabarannya Agam semakin tertawa, ia pasti mendengar bunyi sesuatu yang berasal dari perut Aletha. Tentu saja, melihat bagaimana ia tertawa sekarang Aletha semakin yakin akan hal itu.
Agam mendengus geli. "Yeah, katakan itu sama perut lo,"
Ugh. Aletha ingin sekali merutuki perutnya sekarang. Ia dengan tidak sengaja melupakan makan siangnya tadi hingga harus terjebak dalam situasi yang memalukan seperti ini. Aletha benar-benar merasa Agam punya s*****a untuk mengoloknya dua hari ke depan.
Sial!
****
Ini sudah pukul satu dini hari, Agam baru saja menutup leptop dan beberapa buku yang masih berserakan di meja serta sofa miliknya. Merenggangkan ototnya yang terasa kram, ia berjalan menyusuri dapur kecil miliknya untuk mengambil sebotol air mineral dalam lemari pendingin.
Melangkahkan kembali kakinya menuju ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat menonton televisi. Betapa berantakannya ruangan itu saat ini. Membuat Agam menghela napas lelah, ia menggeleng tidak habis pikir akan ulahnya sendiri. Membereskan setumpuk bukunya di atas meja, lalu membuang bungkus cemilan yang ia beli di minimarket ke tong s****h. Agam bernapas lega melihat ruang tamunya sedikit lebih rapi dari sebelumnya. Besok ia tinggal merapikan karpet dan sofa yang bergeser. Lagi pula besok hari Minggu, Agam memiliki banyak waktu senggang sebelum Raka datang.
Kembali merenggangkan ototnya, Agam lalu berbalik, berjalan menuju kamar miliknya yang berjarak beberapa langkah dari ruang tamu. Sebelum bel rumahnya berbunyi beberapa kali yang membuat Agam terpaksa menghentikan langkahnya. Ia lantas mengernyit tidak suka karena terusik.
"Siapa yang bertamu jam segini?" ucap Agam bermonolog dan bergegas membuka pintu.
Agam cukup terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia mengerjab bingung.
"Maaf Mas, menggangu. Kata Mbaknya saya disuruh nganter ke alamat ini. Mas pacarnya 'kan?"
Agam memandang bingung Supir taxi itu kemudian beralih pada seseorang yang berjongkok sembari menunduk di bawahnya seperti anak kecil. Lalu kembali menatap Supir taxi itu sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Bapak salah orang," ucapnya kemudian.
"Maaf Mas, tapi alamatnya benar. Saya nggak tahu Mbaknya minta anterin ke sini,"
Agam melihat cewek itu kembali mencoba mengingat sosok yang tak asing menurutnya, semakin terkejut saat cewek itu mendongak dan menatapnya balik.
"Pacar! Gendong!"
"Oh s**t!"
Tahu betul siapa yang berani memanggilnya seperti itu. Tanpa sadar Agam mengumpat kesal, meski lirih tapi masih bisa didengar oleh Supir taxi itu. Lupakan hari Minggu, semuanya akan berubah jika bertemu Aletha. Ia sungguh membuat kesabaran Agam di ujung kepala. Bagaimana cewek itu tiba-tiba saja merangkulnya. Menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Agam seenaknya. Bau alkohol menyeruak begitu saja dalam indra penciuman Agam saat ini. Menandakan cewek yang ia rangkul sedang dalam keadaan mabuk.
"Bapak sudah dibayar?" tanya Agam ramah.
"Sudah Mas, tapi uangnya lebih," menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan, yang ditolak secara halus oleh Agam.
"Nggak usah pak, ambil aja kembaliannya. Terima kasih sudah mengantar teman saya,"
Sepeninggal bapak itu Agam menutup pintu dengan menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya lalu melirik ke arah Aletha. Cewek itu masih menenggelamkan wajahnya di leher Agam, sesekali menyamankan posisinya sembari merangkul leher Agam lebih erat.
"Lo darimana sih? nyusahin banget, bisa-bisanya mabuk malah ke rumah gue!" kesal Agam.
Setelah menggerutu dengan seribu u*****n, Agam memanggul Aletha seperti di parkiran waktu itu. Sangat tidak mungkin Agam membiarkan Aletha tidur di sofanya yang sempit terpaksa ia membawa Aletha ke kamarnya. Membantingnya begitu saja di atas tempat tidur miliknya.
"Duh. Sakit!" Aletha meringis sakit, memegangi punggungnya.
"Bodo!" jawab Agam. Cowok itu menggeleng baru sadar baju apa yang Aletha kenakan malam ini. Gaun berwarna hitam tanpa lengan dengan panjang mencapai batas paha. Melekat pas di tubuh cewek itu, memperlihatkan bagaimana bentuk tubuhnya secara keseluruhan. "Dasar cewek sinting! Baju apaan coba yang dipakainya?!" sambungnya sembari mengacak rambutnya frustasi.
Baru saja Agam akan menutupi tubuh Aletha dengan selimut, cewek itu tiba-tiba saja duduk.
"Panas, bukain baju gue,"
Agam mengerjab kaget, Aletha sudah merentangkan tangannya meminta Agam untuk segera melepaskan baju miliknya. Sungguh Agam ingin sekali melempar Aletha keluar, bagaimana bisa ia seperti itu. Dia cowok normal.
"Nggak! Gila aja lo!"
"Uhh panas! Gue buka sendiri kalau gitu," dengan gerakan khas orang mabuk Aletha mencoba melepas gaunnya asal.
Agam terkejut, ia segera mencegah Aletha melakukan hal gila di depannya. Benar-benar mati akal menghadapi cewek itu. Saat mabuk Aletha dua kali lipat lebih gila dan menyebalkan membuat Agam kewalahan.
"Tunggu! Lo boleh lepas baju lo setelah gue keluar!" Agam segera berbalik untuk berlari menghindari kegilaan Aletha, sebelum ia berhasil pergi cewek itu menahan tangannya, memaksanya untuk berbalik. "Apa lagi sekarang?" keluh Agam.
"Gue pengen pakek baju yang lo pake!" tunjuknya pada baju yang Agam kenakan dengan nada manja. Agam mengusap wajahnya frustasi. "Gue ambilin dari lemari,"
"Nggak! Gue mau yang itu!"
Benar-benar minta dilempar keluar cewek itu. Agam lelah, untuk itu ia mencoba mengalah, melepas bajunya di depan Aletha. "Nih! Jangan lepas baju lo di depan gue! Sakit mata yang ada gue,"
Aletha diam melihat baju berwarna abu-abu muda yang Agam pegang. "Pakein!"
Agam menggeleng, bukannya menyahut Agam lantas melempar bajunya ke muka Aletha. Menutupi seluruh kepala cewek itu, lalu meninggalkannya sendirian di kamar. Tanpa peduli Aletha akan memakainya atau tidak, yang jelas Agam harus cepat keluar. Sebelum pergi ia mengambil selimut dan remot pendingin ruangan. Menekan tombol off, lalu menutup pintu kasar.
Menghela napas sebentar setelah menutup pintu rapat, Agam berpikir kenapa ia tidak mengantar Aletha pulang ke rumahnya saja tadi? Entahlah, mungkin bodoh adalah kata yang tepat untuknya saat ini. Kini ia kembali mengusap wajahnya kasar, merutuki kebodohannya itu. Ada baiknya hal itu ia pikirkan besok, yang terpenting saat ini adalah tidur. Mengistirahatkan akal pikirannya untuk kembali berhadapan dengan Aletha besok pagi.