Bab18

1160 Kata

Jakarta, keesokan malamnya, tampak seperti kota yang menyimpan rahasia di balik kilauan lampu jalan. Dari kejauhan, lalu lintas di Sudirman mengalir seperti arus sungai berwarna merah-kuning—lampu rem, lampu sein, bercampur dalam tarian yang tak pernah berhenti. Tapi di sebuah kafe kecil yang terletak di lantai bawah hotel bintang lima, suasana jauh lebih sunyi, seperti ruang tunggu yang menahan napas. Bella datang tepat waktu. Gaun saten warna emerald yang ia kenakan memantulkan cahaya lampu gantung, membuatnya terlihat seperti seseorang yang selalu tahu bagaimana memanfaatkan pencahayaan demi keuntungan personal. Tapi malam ini, tatapannya tak seangkuh biasanya. Ada sedikit kegelisahan di matanya. Damar sudah duduk di meja sudut, mengenakan jaket kulit hitam dan kemeja putih tanpa dasi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN