Malam di Jakarta selalu membawa dua aroma: wangi hujan yang masih tertinggal di udara, dan bau gosip yang menyebar lebih cepat dari asap rokok di bar. Ara duduk di sofa ruang tamu apartemen Richard, kedua tangannya masih dingin. Ponsel yang jatuh beberapa menit lalu kini tergeletak di karpet, layar retak di salah satu sudutnya. Suara dari telepon itu terus terngiang di kepalanya, seperti gema yang tak mau padam. Janin ini terdaftar atas nama Anda… dan— Nama itu. Nama yang bukan Richard. Nama yang bahkan Ara tak ingat pernah diucapkan di hadapannya. Ara menunduk, mencoba bernapas pelan. Tapi paru-parunya seperti menolak bekerja sama. Ia memejamkan mata, berharap ini hanya salah sambung atau permainan kotor Suryo. Namun bagian terdalam dari hatinya tahu—di perang sebesar ini, semua yang

