Bab20

1226 Kata

Malam di Jakarta tak pernah benar-benar tidur. Jalanan yang basah karena hujan sore tadi memantulkan cahaya lampu kendaraan, seperti serpihan kaca yang disusun rapi di atas aspal. Dari balkon apartemen Richard, Ara masih memandangi kota itu dengan hati yang semakin resah. Pesan singkat di ponselnya—undangan dari orang misterius—berputar di kepalanya terus-menerus, membuat setiap detak jam terasa seperti ancaman. Ia menutup layar ponselnya cepat-cepat, menyembunyikannya di saku gaun tidurnya ketika mendengar langkah kaki mendekat. Richard keluar ke balkon, wajahnya keras tapi lelah. Jasnya sudah ia lepas, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan digulung. Di tangannya, segelas anggur merah. “Kamu nggak tidur juga?” tanyanya sambil menaruh gelas itu di pagar balkon. Ara menggeleng. “Ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN