Hujan masih setia mengunjungi Jakarta malam itu, meski kali ini hanya berupa gerimis halus yang menempel di kaca jendela apartemen. Dari balik tirai, kota terlihat buram, lampu-lampu gedung tinggi tampak seperti titik cahaya yang terdistorsi. Ara berdiri di depan cermin meja rias, wajahnya pucat, matanya bengkak karena terlalu banyak menahan kantuk—dan air mata yang tak ia biarkan jatuh. Dokumen dari Davin masih terkunci rapat di dalam laci. Kunci kecil itu kini tergantung di rantai tipis yang ia sembunyikan di balik kaus tidurnya. Rasanya seperti membawa bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Di ruang kerja, suara Richard dan Leo masih terdengar samar. Diskusi panjang, nada penuh otoritas, sesekali tawa dingin. Semua tentang strategi, perhitungan, langkah serangan. Seolah hidup mereka

