Pagi di Jakarta selalu datang dengan tergesa-gesa. Jalanan penuh klakson, udara masih lembap sisa hujan semalam, dan orang-orang berlarian mengejar waktu yang seakan tak pernah cukup. Tapi bagi Ara, waktu justru terasa seperti jerat yang semakin mengencang di lehernya. Ia duduk di meja makan, secangkir teh hangat sudah dingin di hadapannya. Richard belum bangun. Malam tadi ia tidur larut setelah menenggak hampir setengah botol anggur. Ara sempat memandangi wajahnya yang terlelap, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang dulu pernah ia percayai. Tapi yang ia lihat hanyalah garis-garis ketegangan di rahang, otot-otot yang seolah tetap siaga bahkan dalam tidur. Ponselnya bergetar pelan di atas meja. Ara menegakkan tubuhnya, jantungnya langsung berdegup. Sebuah pesan masuk dari nomor asing.

