Bab17

1595 Kata

Malam di Jakarta selalu punya dua wajah. Dari luar jendela restoran fine dining di lantai atas gedung perkantoran mewah, lampu-lampu kota berkelip seperti perhiasan mahal. Tapi di balik kaca, percakapan-percakapan yang berlangsung sering kali lebih gelap dari malam itu sendiri. Bella duduk di meja pojok, gaun hitamnya menempel rapi di tubuh rampingnya. Riasannya sempurna, tapi wajahnya tak lagi setegas dulu. Di hadapannya, segelas anggur merah setengah penuh tak disentuh. Pintu restoran terbuka. Seorang pria berusia sekitar akhir 40-an, tinggi, berkacamata tipis, masuk dengan langkah mantap. Jasnya abu-abu tua, dasi gelap—penampilan yang rapi, nyaris steril dari emosi. Bella mengenalnya dari berita bisnis: Suryo Santosa. Dia tidak menyangka pria yang meneleponnya semalam adalah orang se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN