Hujan yang beberapa minggu lalu terasa menyesakkan kini berubah menjadi latar musik lembut di malam-malam Ara dan Richard. Dari balkon, suara rintiknya memantul di dinding apartemen, menenangkan hati yang sempat lelah. Ara duduk di kursi rotan kecil, selimut tipis membungkus bahunya, secangkir cokelat panas mengepulkan aroma manis di tangannya. Richard sedang di ruang kerja, menutup laptop setelah rapat daring panjang. Saat melangkah keluar, dia mendapati Ara menatap jauh ke luar, wajahnya tenang namun ada sesuatu di matanya—campuran lega dan waspada. “Pikiranmu masih di sana?” Richard bertanya sambil duduk di kursi sebelahnya. Ara menoleh pelan. “Di mana?” “Di bayangan Bella.” Ara menghela napas, bibirnya tersenyum tipis. “Aku mencoba nggak memikirkannya. Tapi… dia bukan tipe orang y

