Udara di ruang bawah tanah vila itu makin menusuk. Lembap, pengap, dan berbau besi karat, seolah ruangan itu memang diciptakan untuk melumat ketahanan manusia sedikit demi sedikit. Ara duduk di kursi besi dingin, tubuhnya masih terikat. Lampu gantung tua berayun pelan, cahayanya bergetar, membentuk bayangan panjang di dinding yang tampak seperti hantu-hantu masa lalu yang ingin ikut menyiksanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri setelah Rendy meninggalkan pesan singkat tadi. Aku di pihakmu. Jangan tunjukkan apa-apa sekarang. Kalimat itu terus menggema di telinganya, memberi semacam pegangan kecil di tengah kegelapan. Namun, rasa takut tetap ada. Rendy bisa saja membohonginya. Bisa jadi itu hanya trik Arka untuk menguji kesetiaannya, atau jebakan Richard untuk melihat

