Udara malam di dermaga menusuk kulit, dingin dan asin. Suara ombak yang menghantam tiang-tiang kayu seperti genderang perang yang tak berhenti berdentum. Tapi di telinga Ara, hanya ada satu suara. Gema tembakan yang merenggut nyawa Raka beberapa menit lalu. Ia dipaksa masuk ke mobil hitam dengan jendela gelap. Tangan Ara digenggam keras oleh anak buah Arka, seolah ia bisa kabur kapan saja. Padahal kakinya sendiri masih gemetar, tubuhnya seperti kehilangan tulang. Richard duduk di sampingnya, rapi, wajahnya tetap tenang. Hanya matanya yang menyiratkan sesuatu yang berbeda malam ini—ketegangan tipis yang jarang ia tunjukkan. “Lepaskan aku,” suara Ara serak, bergetar tapi penuh perlawanan. “Aku bukan milikmu.” Richard menoleh perlahan, menatapnya. Tatapan itu menusuk, dingin tapi juga… ad

