Bab14

1001 Kata

Pagi itu, hujan akhirnya turun di Jakarta. Rintiknya deras, mengetuk-ngetuk kaca jendela apartemen Richard. Aroma tanah basah menyelinap masuk melalui celah kecil di jendela kamar. Ara terbangun lebih awal, tapi bukannya merasa segar, kepalanya justru terasa berat. Malam tadi ia hampir tidak tidur—mimpi buruk datang silih berganti, wajah Bella terus muncul di sana. Richard masih tertidur di sebelahnya, napasnya teratur. Ara menatap wajah pria itu, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini akan baik-baik saja. Tapi entah kenapa, rasa takut justru semakin menekan d**a. Ia bangkit perlahan, berjalan ke dapur. Tangannya mengusap perutnya yang kian membesar. Setiap kali merasakan gerakan kecil di dalam sana, Ara mencoba mengingat tujuan mereka berjuang: sebuah keluarga yang utuh. Ponselnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN