Pagi itu, udara Jakarta terasa lengket. Langit berwarna kelabu, seperti menahan hujan yang tak kunjung turun. Richard berdiri di teras rumah maminya, wajahnya serius, bahunya sedikit tegang. Dia baru saja keluar dari perbincangan panjang di ruang keluarga, sesuatu yang sudah berhari-hari ia tunggu—dan juga ia khawatirkan. Ara duduk di mobil yang terparkir di halaman, kedua tangannya meremas ujung rok biru yang ia kenakan. Dari kaca, ia bisa melihat punggung Richard, tegak dan tak bergerak. Degup jantungnya terasa sampai ke telinga. Beberapa menit lalu, maminya Richard—Nyonya Juliana—memanggilnya masuk. Ara sempat menolak, takut mendengar penolakan secara langsung dari perempuan yang selama ini menatapnya seperti duri. Tapi Richard menggenggam tangannya erat, menyuruhnya percaya. “Arabel

