Malam itu, mereka pergi tanpa banyak kata. Hanya satu koper besar, dua tas ransel, dan seikat keberanian yang dipaksa lahir di tengah ketakutan. Richard menyewa mobil dari kenalan lamanya di kota kecil itu, lalu membawa Ara ke arah yang bahkan ia sendiri belum pasti tuju. Ara duduk di kursi penumpang, memeluk tas berisi dokumen penting: kartu identitas, buku tabungan, dan hasil USG terakhir. Setiap kali mobil melewati lampu jalan, cahaya singkat memperlihatkan wajahnya yang tegang namun pasrah. “Kamu yakin mereka nggak akan nemuin kita?” suara Ara lirih, nyaris kalah oleh deru mesin. “Kalau pun mereka nemuin, mereka harus lewati aku dulu,” jawab Richard, matanya fokus ke jalan. --- Mereka akhirnya tiba di sebuah vila kecil di pinggir pantai di Jawa Timur, milik teman lama Richard yan

