Setelah dari klinik, Richard dan Ara kembali ke rumah kontrakan itu. Perjalanan pulang terasa berbeda—ada diam yang bukan lagi jarak, melainkan ketenangan yang canggung. Richard memegang kemudi sambil sesekali melirik Ara, seolah takut perempuan itu akan menghilang jika ia memalingkan wajah terlalu lama. Ara sendiri memandangi jalanan kota kecil itu, pikirannya campur aduk. Bahagia karena Richard tahu dan mau ada untuknya, tapi juga takut pada badai yang akan datang. Sesampainya di rumah, Richard membantu Ara turun dari mobil, lalu membawakan kantong berisi vitamin dan s**u hamil yang ia beli di apotek. “Aku mau tinggal di sini,” ucap Richard tiba-tiba. Ara menoleh cepat. “Apa? Tuan… kamu nggak bisa.” “Kenapa nggak? Aku bisa sewa rumah ini, bahkan beli kalau perlu. Aku nggak mau jauh

