Jakarta sore itu seperti kota yang sedang menahan napas. Hujan yang sempat mengguyur siang tadi menyisakan jalanan berkilau, aspal hitamnya memantulkan lampu-lampu kendaraan yang terburu-buru pulang. Dari balik kaca jendela apartemen, Ara memandang ke luar, matanya kosong. Di tangannya, secangkir kopi dingin tak tersentuh. Map lusuh pemberian Davin tergeletak di meja, seolah memancarkan cahaya gelap yang terus-menerus memanggilnya. Setiap kali ia menatap benda itu, hatinya bergetar. Ada bagian dari dirinya yang ingin menghancurkan map itu, membakarnya hingga jadi abu. Tapi ada bagian lain—lebih keras, lebih menyala—yang tahu bahwa isi map itu adalah satu-satunya kunci keluar dari jerat Richard. Pintu apartemen terbuka. Richard masuk dengan langkah mantap, jasnya masih rapi meski wajahnya

