Bab26

1284 Kata

Jakarta dini hari kembali datang dengan wajah yang sama. Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang yang menolak padam, jalanan basah sisa hujan, dan bayangan gedung-gedung tinggi yang seolah mengawasi dari kejauhan. Tapi bagi Ara, semua itu hanyalah latar kosong. Yang nyata hanyalah degup jantungnya yang semakin keras setiap kali ia menatap flashdisk kecil di genggamannya. Pagi itu Richard bersikap lebih manis dari biasanya. Ia menyiapkan secangkir kopi untuk Ara, sesuatu yang hampir tak pernah ia lakukan. Senyum yang ia tunjukkan terlalu hangat untuk seorang pria yang biasanya dingin. Justru karena itulah Ara semakin yakin: Richard mulai mencium sesuatu. “Tidurmu nyenyak?” tanya Richard, menatapnya sambil menyerahkan cangkir. Ara menahan getar suaranya. “Lumayan.” Richard mengangguk p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN