Cerita bu Imah

1187 Kata
POV : Author Bu Imah menghela nafas kasar. Mau tak mau ia harus menceritakan tragedi di kost bu Broto. Sebenarnya ia tak mau ikut campur dengan kejadian itu,,tapi ia tak tega melihat Ardilla yang sangat ketakutan sampai-sampai berencana pindah ke kostan nya. "Ibu sebenarnya ndak pengen ikut campur sama kejadian itu. Karena ini menyangkut usaha seseorang. Tapi ibu ndak tega sama kamu Dilla.Kamu yang ndak tau apa-apa malah di ganggu." Ujar bu Imah sambil menatap Dilla dengan prihatin. "Tuh kan,,sudah kuduga.pasti ada rahasia besar di kamar itu. Tapi herannya baru kemarin saya diganggu bu. Padahal sudah dua bulan lebih saya ngekost disitu." Tanya Dilla terheran-heran. " Ya karena kemarin malam itu hari kejadiannya. Tepat tengah malam. Kata Sista yang dulu juga ngekost disitu, setiap tengah malam malam Senin,,dia akan menganggu penghuni kost yang lain. Makanya Sista juga pindah kost kesini juga. Cristi dan Fara hanya menyimak cerita bu Imah dengan cermat. Mereka juga merasa sangat penasaran. Sebenarnya mereka bertiga memang berniat ngekost di kost bu Imah. Tetapi saat itu hanya ada satu kamar kosong. Jadi Dilla mengalah untuk cari kost yang lain,,yaitu kost bu Broto. Karena Dilla terus Bertanya pada Bu Imah,,akhirnya bu Imah pun dengan terpaksa menceritakan kejadian yang ia tahu. Flashback On POV : Bu Imah Dulu ada seorang gadis yang sangat cantik dan lemah lembut bernama Diyah. Aku saja yang perempuan merasa suka melihat wajah Diyah yang Ayu. Diyah datang bersama dua orang temannya ke warung kelontong ku. Mereka masih menggunakan seragam,,mungkin sedang istirahat. Awalnya Dia hanya membeli makanan ringan dan minuman di warung ku. Ternyata keesokan harinya Diyah datang kembali ke warung ku. Kali ini dia tidak datang sebagai pembeli,,tapi di menanyakan apakan ada kamar kosong atau tidak. Sebenarnya masih ada satu kamar yang kosong,,tapi kemarin suamiku bilang untuk memberikan kamar kosong itu untuk keponakannya yang akan kuliah juga. Dengan terpaksa aku bilang ke Diyah kalau kost disini sudah penuh dan aku menyarankannya untuk mencoba bertanya ke kost Bu Broto,,siapa tau masih ada yang kosong. Pada awalnya Diyah merasa ragu karena di kost bu Broto terkenal sebagai kost yang bebas. Mungkin karena tidak ditunggui oleh induk semang jadi penghuni kost disana merasa bebas. Apalagi rumah bu Broto jauh dari kostnya itu. Karena bu Broto mempunyai banyak rumah kost dan itu tidak ada yang menunggui. Hanya ada beberapa orang yang bertugas untuk membersihkan dan membantu apabila ada sarana kost yang rusak. Diyah bercerita kalau dia merasa tidak nyaman kalau mesti ngekost di kost yang terlalu bebas. Karena menurutnya,,akan lebih nyaman kalau ada ibu kost sebagai ganti orang tua yang mengawasi. Kami bercerita lumayan lama,, sampai tidak terasa hampir satu jam kami mengobrol. Diyah anak yang supel,,enak mengobrol dengannya. Keesokan hari Diyah datang lagi ke warung ku. Kali ini dia datang bersama Etik,, ternyata mereka teman akrab. Etik memang sudah lama ngekost di sini. Profesinya juga sama seperti Diyah. Merek pun menyapa ku dengan ramah. Hari-hari berlalu,,Diyah sering bermain ke sini. Bahkan Dia juga sering menginap di kamar Etik. Setelah kutanya ternyata dia jadi ngekost di bu Broto. Katanya sih terpaksa dari pada tidak dapat kost. Aku suka mengobrol dengan Diyah,,Etik juga. Mereka gadis yang sopan,kadang mereka juga senang bergurau dengan ku. Mereka bilang aku sudah seperti ibu pengganti. Aah ... ada-ada saja memang mereka ini. beberapa bulan kemudian aku jarang melihat Diyah berkunjung ke kost ku. Saat aku bertanya pada Etik,,ia menjawab kalau Diyah sekarang banyak berubah. Kata Etik dia menjadi sombong sejak mempunyai kekasih. Bahkan sekarang jadi jarang bergaul dengan teman-temannya. Jadi penasaran seperti apa pacar Diyah kok jadi berubah drastis gitu ya? Saat sedang memikirkan cerita Etik tentang sifat Diyah yang sangat berubah,, tiba-tiba ada seseorang mengagetkan ku. " Eeh buk...ini berapa harganya?? jualan kok melamun? giman bisa laku?" Seorang lelaki seumuran putra keduaku membuyarkan lamunanku. " Eeh.... maaf,,mau beli apa ya dek?? aku pun menjawab dengan gelagapan. " Gimana sih ibu ini ditanya gak nyambung. Aku dari tadi tanya ini harganya berapa? Tunjuk anak lelaki itu pada sebotol sabun cair. " Ooh ... itu harganya 15 ribu dek." Anak itu menyodorkan selembar uang kertas 50 ribu. Ketika hendak memberikan kembalian,, tiba-tiba anak lelaki itu sudah pergi menuju sepeda motornya. Aku pun mengejarnya sampai tempat dia memarkir motor "Dek...dek ...ini kembaliannya belum." " Kembaliannya buat ibu aja. Aku gak suka uang receh." " Beneran ini dek? makasih ya. Sering-sering mampir ke warung saya ya. " jawab ku ramah. Kan jarang-jarang ada yang kasih uang kembalian lumayan banyak. Tapi seketika pikiran ku buyar dan pandangan ku tertuju pada seseorang yang ada di atas motor anak lelaki itu. Aku seperti tak asing dengannya. Langsung saja aku dekati karena aku sangat penasaran. " Lho ... ini Diyah kan? kok lama banget gak main ke kostan? Ini siapanya?" tanyaku penasaran Diyah tidak menjawab di hanya menoleh dan tersenyum tipis padaku. " Kamu kenal ibu ini beb??" Tanya anak lelaki tadi pada Diyah Diyah tidak menjawab,hanya mengangguk saja. Malahan dia meminta anak lelaki yang sepertinya adalah kekasihnya itu untuk segera jalan. Aku hanya bengong melihat kepergian mereka. Tidak menyangka seorang Diyah yang ku kenal supel dan ramah bisa berubah sedrastis itu. Pantas saja Etik bilang kalau Diyah sekarang sombong. Sebenarnya sehebat apa sih pacar diyah itu? Tapi kalau dilihat dari motor nya sih dia seperti anak orang kaya. ****** Enam bulan kemudian. Saat aku terlelap dibuai mimpi,,tiba-tiba dikejutkan dengan suara sirine yang terdengar amat keras. Kebetulan rumah dan kost ku berada di pinggir jalan. Rumah sakit tempat Etik dan Diyah bekerja hanya terpaut beberapa gedung dari sini. Jadi setiap ada mobil ambulans lewat pasti terdengar sangat jelas. Tapi ini aneh kenapa terdengar seperti sirine lain ya bukan dari sirine ambulans. Nyawa ku belum sepenuhnya kembali karena baru saja bangun. Tiba-tiba suami ku masuk ke kamar dengan muka panik. " Ada apa to pak? kok panik gitu?" " Itu lho bu,, si Etik menangis histeris di kamarnya. Ayok kita lihat." Haah...ada apa ini. Apa yang terjadi dengan Etik. Tadi ku lihat dia baik-baik saja,,hanya mengeluh capek karena habis shif malam. Aku langsung mengambil kerudung instan dan segera menuju kamar Etik dengan suamiku. Sesampai di depan kamar Etik,,disana sudah ramai dengan anak-anak kost yang lain. Aku pun langsung masuk ke dalam kamar itu. Di dalam ternyata sudah ada Dewi yang sedang menenangkan Etik. Aku dekati ia dan seketika Etik menoleh langsung memelukku erat. Ia kembali menangis di pelukan ku. " Bu... Diyah..bu...Diyah..." Etik hanya memanggil nama diah berkali-kali. Aku menoleh bingung ke arah Dewi "Dari tadi etik cuma panggil-panggil Diyah gitu bu." jawab Dewi sama bingungnya dengan ku. " Ada apa tik? kamu sedang bartengkar dengan Diyah?" ku tanya Etik yang masih tersedu-sedu dipelukan ku. "Di...Diyah bu...hiks ...hiks...Di.... Diyah... bu...bunuh di ..diri....hiks....hiks...." Etik menggeleng dan dengan terbata-bata dan berlinang air mata dia menjawab pertanyaan ku "Astaghfirullah... yang benar saja tik?? kamu tau dari mana Diyah bunuh diri??" Entah mengapa jantungku berdebar tak karuan. Etik menunjukkan HP nya. Dilayar HP itu terlihat sesosok mayat dengan wajah yang mengerikan menggantung di dalam kamar,,dan itu mayat Diyah. Astagfirullah..... astaghfirullah... dadaku seperti mau meledak rasanya karena saking kagetnya,,aku tak tahan melihat foto di layar HP Etik,, kemudian suami ku bergegas masuk dan mengajak ku ke kostan bu Broto untuk mengecek langsung disana. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN