"Kamu tuh ngapain sih! Sibuk chatan sama siapa sih! Di ajak ngobrol juga malah sibuk main hp!” gerutu Lavina.
“Iya bentar sayang! Ini temen aku lagi curhat! Bentar sih yang!” ujar Devandra.
“Teman apa teman! Masa iya sampe segitunya! Ada aku lho! Kamu ada waktu buat aku kapan sih! Jarang lho! Masa iya giliran ada waktu malah sibuk sama chat temen kamu!” geram Lavina.
“Ya allah liat ini! Temen aku bapaknya sakit! Ya gimana dia sahabat aku! Masa iya aku ga perduliin! Apalagi bapaknya lagi sakit begitu!” jelas Devandra.
“Oh jadi kamu lebih mentingin sahabat kamu itu! Daripada aku!” murka Lavina.
“Ya bukanya gitu! Aku sebelum ketemu sama kamu juga aku apa-apa sama sahabat aku! Masa iya pas punya pacar aku lupa sama dia! Kan ga mungkin!” jelas Devandra.
“Oh gitu! Yaudah aku paham sekarang! Kamu emang lebih mentingin sahabat kamu itu! Jadi buat apa kita jalanin hubungan ini!” murka Lavina.
“Kok kamu gitu sih! Aku ga ada lho niat apa-apa! Cuman mau ngebantu aja!” tutur Devandra.
“Ngebantu! Tapi kamu liat dong! Ada aku disini! Kamu ga perduliin aku! Sekarang mau kamu apa!” ujar Lavina.
“Yaudah sekarang kita pulang aja yuk! Jangan marah-marah aja! Apa mau ikut ke rumah sakit! Biar aku kenalin ke sahabat aku” tawar devandra.
“Ga lah! Aku mau pulang aja! Sama aku minta putus aja! Aku tau sebenernya emang kamu ga ada rasa sama aku!” ujar Lavina.
“Hmm ... kamu yakin minta putus!” tegas Devandra.
“Iya yakin lah! Aku gapapa kok! Aku tau namanya hati gabisa di paksa! Dan kamu tenang aja! Kamu ga perlu khawatir! Aku ga benci kok sama kamu!” ujar Lavina.
“Hmm ... yaudah kalo itu mau kamu mah! Aku gabisa maksa! Yaudah aku anterin kamu pulang ayok!” ucap Devandra.
“Gausah aku pulang sendiri aja lah!” tolak Lavina.
“Gamau lah! Kamu pergi sama aku ya pulang juga sama aku lah!” jelas Devandra.
“Untuk terakhir kali aja! Aku yakin setelah ini kamu pasti ga akan mau ketemu sama aku lagi kan” ucap Devandra lagi.
“Ga lah! Udah gapapa! Aku ga pengen aja! Aku pengen sendiri dulu! Ini berat buat aku! Tolong kasih waktu aku sendiri!” pinta Lavina.
“Oke kamu tenangin diri kamu dulu! Kamu juga gabisa ambil keputusan saat kamu lagi marah kayak gini!” ujar Devandra.
“Yaudah sana kamu pulang! Biarin aku sendirian! Aku mau menenangkan perasaan aku!” ujar Lavina.
Karena permintaan Lavina yang menyuruh Devandra segera pergi akhinya Devandra benar-benar pergi menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Aurora.
Bukan tanpa alasan Devandra meninggalkan Lavina begitu saja, karena memang permintaan dari Lavina itu sendiri dan memang perasaan Devandra entah kenapa lebih menghawatirkan Aurora di banding dengan kekasihnya sendiri yaitu Lavina.
Devandra berada di posisi yang sulit, dia dilema memilih antara kekasihnya dan sahabatnya, hal ini membuat Devandra depresi, namun Devandra masih menimbang-nimbang akan mengiyakan permintaan Lavina atau tidak!
Devandra yang benar-benar pergi menuju rumah sakitpun akhirnya sampai di tempat tujuan, Devandra mengirimi pesan kepada Aurora yang berisi pemberitahuan bahawa ia sudah sampai.
~isi pesan masuk~
“Lu dimana! Gua udah sampe di depan!” pesan singkat Devandra.
~place Aurora~
Aurora yang sedang menunggu kesadaran sang ayah akhirnya melihat ada gerakan di jari Ganendra, Aurora yang memang sejak tadi selalu berbisik kepada Ganendra pun merasa senang dan terus menyemagati Ganendra.
“Mom liat mom itu tangan daddy gerak-gerak!” ujar Aurora axited.
“Oh iya bener! Dad ayo semangat! Buka matanya pelan-pelan dad!” ujar Carissa.
Ganendra pun sedikit demi sedikit akhirnya membukan matanya! Kemudian dengan cepat Carissa memanggil dokter untuk memeriksa keadaan suaminya dan Aurora menemani sang ayah tercintanya sambil berkata.
“dad! Daddy berhasil ngelewatin ini! Daddy hebat! Semangat terus dad!” ujar Aurora.
Carissa yang pergi memanggil dokter pun akhirnya sudah kembali bersama dokter yang ingin memeriksa Ganendra.
Sewaktu dokter memeriksa Ganendra Carissa dan Aurora hanya melihat saja sampai dokter selesai memeriksa dan berkata.
“Selamat bu suami ibu berhasil melewati masa kritisnya!” tutur dokter.
Setelah berbicara demikian dokter pun berlalu pergi meninggalakan ruangan rawat Ganendra, Aurora dan Carissa pun mendekati Ganendra.
Mereka berbicara dengan axited kepada Ganendra yang masih lemas, kemudian tidak lama setelah itu ponsel Aurora berdering menandakan ada pesan masuk.
Aurora mengluarkan ponselnya dari saku celananya membuka layar kunci ponsel dan melihat pesan dari siapa dan apa isi pesan tersebut, teryata Devandra yang mengirimnya pesan mengatakan bahwa sudah sampai di rumah sakit.
~isi pesan masuk~
“Lu dimana! Gua udah sampe di depan!” pesan singkat Devandra.
Melihat isi pesan dari Devandra membuat Aurora langsung bergegas menemui Devandra di depan untuk mengajaknya ke kamar.
“Mom Aurora keluar sebentar ya! Jangan kemana‐mana! Sebentar aja!” ujar Aurora.
“Emang kamu mau kemana Ra!” tanya Carissa.
“Ke depan sebentar! Ada teman Aurora mau jengguk daddy!” jelas Aurora.
“Oh yaudah ra!” ujar carissa.
Dalam hitungan menit Aurora sudah sampai di tempat Devandra menunggu! Devandra membawakan makanan untuk Aurora karena Devandra yakin Aurora tidak sempat makan.
“Oy Dev!” ujar Aurora sambil menepuk punggung Devandra.
“Udah lama lu! Apa barusan!” ujar Aurora lagi.
“Ya lumayan lah! Gimana bokap lu! Oh iya ini lu pasti belum makan kan sama buah buat bokap lu!” ujar Devandra sambil memberikan bingkisan makanan yang sudah di belinya.
“Hmm udah sadar sih tadi barusan aja! Iya hehe lu tau aja sih! Yaudah ayo!” aja Aurora.
“Yaudah ayok!” jawab Devandra.
Aurora dan Devandra berjalan keruangan Ganendra, 2 menit berjalan mereka sampai di ruangan Ganendra, Ganendra yang melihat putrinya datang mencoba mengajaknya berbicara.
“Dad gimana keadaan daddy sekarang!” ujar Aurora sambil memengang bagian tangan Ganendra.
“Udah baikan kok nak! Udah jangan terlalu khawatir! Oh iya daddy mau ngomong penting sama kamu nanti nak!” tutur Ganendra.
“Mau ngomong apa dad! Daddy jangan mikir yang berat-berat! Udah gaush mikirin apa-apa dulu dad! Dan oh iya ini kenalin temen Aurora! Dia dateng mau jengguk daddy!” ujar aurora.
“Hallo om cepet sembuh ya om!” sapa Devandra.
“Daddy mau makan buah ga! Nanti di kupasin!” tanya Aurora.
“Ga daddy mau istirahat aja nak!” pinta Ganendra.
“Oh iya mommy kemana dad! Kok ga ada sih! Tadi perasaan aku bilang jangan kemana-mana dulu sebentar!” tanya Aurora.
“Momy lagi ke bagian admintrasi ngurus-ngurus!” jawab Ganendra.
“Oh yaudah dad! Aurora di depan aja ya! Biar ga ganggu daddy lagi istirahat! Takut berisik soalnya!” usul Aurora.
“Iyaudah nak!” jawab Ganendra singkat.
Aurora dan Devandra pun berbicara di luar ruangan Ganendra karena Aurora tidak ingin menganggu waktu istirahat ayahnya.
Haripun sudah menunjukan semakin sore, kini Garvi dan Aurel sudah berada di pantai depan villa yang Garvi sewa, mereka menikmatin pasir pantai dan angin sepoi-sepoi di pantai kemudian menunggu waktunya matahari terbenam.
||bersambung ...||