Siang yang panas, keringat Nuna pun bercucuran. Nuna megusap keringatnya. Sesekali ia mengecek handphone takut kalau ada telpon dari rumah. Nuna yang sedang kalut, lebih memilih untuk ke lapangan, ia berlari mengitari lapangan. Nuna tidak tau bagaimana ia harus bersikap pada Frengky dan Ghio. Bahkan Nuna belum bercerita pada Frengky tentang keinginannya memiliki pacar kapten basket, tapi sekarang Nuna kan udah menikah dengan Frengky tidak mungkin Nuna berpacaran dengan Ghio.
Nuna yang berada di lapangan, tidak diketahui oleh Frengky, Frengky mencari Nuna kesana kamari, ia bahkan mencoba untuk mencari Nuna di semua sudut rumahnya. Nuna tidak ia temukan. Frengky lalu mencoba menelpon Nuna. Telpon Nuna pun berbunyi. Nuna lalu mengangkat telponnya, karena itu telpon dari Frengky.
“Nun, kamu dimana kok aku cari gak ada?”
“Iya aku lagi di lapangan nih.”
“Aku kesitu.”
Telpon ditutup oleh Frengky, Nuna pun seperti kebakaran jenggot. Nuna tidak tau ia harus bersikap bagaimana, kalau Frengky tau tentang Ghio. Nuna pun menghela nafas. Ia berusaha mencari cara untuk bisa cerita pada Frengky. Tak berapa lama, Frengky datang. Frengky menyentuh pundak Nuna. Nuna pun keceplosan tentang Ghio. Nuna menyebut Ghio. Frengky langsung bertanya tentang Ghio.
“Siapa Ghio?”
“Ghio…”
“Siapa?”
“Kawan ku.”
“Kawan? Kamu serius dia kawan kamu?”
“Iya, tapi aku mau tanya.”
“Silakan Nuna.”
“Kamu marah gak kalau aku suka dengan orang lain?”
“Aku…”
“Aku, kenapa?”
“Aku gak mungkin marah, kenapa harus marah.”
“Kok… kan kita udah menikah.”
“Iya tapi kamu tau kan kalau kita dipaksa.”
“Iya… “
Jawaban yang didengar tak bisa Nuna percaya, Nuna hafal betul kalau Frengky paling tidak suka perselingkuhan, kalau Frengky udah menikah. Sekarang kan Frengky udah menikah, pasti dia mau istriya tidak menyelingkuhinya,Nuna tau Frengky menyembunyikan sesuatu dari dia.
“Nuna aku mau ke rumah dulu ya, aku harus ngerjain tugas kuliah nih.”
Langkah kaki Frengky tidak senergik sebelum ia dengar pertanyaan Nuna. Frengky tak tahu kenapa ia bisa menjawab pertanyaan Nuna dengan jawaban yang penuh tipu, Frengky belum bisa menyatakan cintanya pada Nuna. Frengky tau Nuna belum mencintainya, dan Frengky tidak mau Nuna kecewa, karena Frengky jatuh cinta pada Nuna. Nuna yang ditinggal Frengky terpaku ia tidak mengerti kenapa Frengky meninggalkannya dengan alasan yang Nuna tau itu Cuma buatan Frengky.
Di rumah Frengky tak bisa menyimpan kekesalannya pada jawaban yang ia beri pada Nuna. Jawaban bodoh, begitu dalam benak Frengky. Namun Frengky tidak bisa mengubah jawabannya Nuna harus bisa buat Frengky percaya dulu kalau Nuna Cuma berkawan dengan Ghio.
Frengky lalu mencari tau tentang Ghio. Setelah mencari tau Frengky langsung terperanjat karena Ghio adalah adek Ghia, mantan pura-puranya yang kini telah jatuh cinta beneran pada Frengky. Frengky pun jadi mempertimbangkan tentang Ghia yang kini udah mencintainya.
Nuna yang berlari cukup lama langsung pulang ke rumah, setelah ia terpaku karena jawaban Frengky. Nuna pun segera masuk ke kamar. Di kamar udah ada Frengky yang mencari tau Ghio. Nuna yang penasaran langsung merebut handphone Frengky.
“Liat siapa sih?”
“Kamu gak boleh tau.”
“Kok kamu cari tau tentang Ghio.”
“Iya aku penasaran tentang Ghio.”
“Kenapa penasaran?”
“Udah deh, kamu bersih bersih aja, keringetan kan.”
“Yaudah aku bersih bersih dulu.”
Handphone pun di tangan Frengky lagi. Frengky tidak mau Ghio yang adeknya Ghia diketahui oleh Nuna, karena pasti Nuna jadi tau tentang Frengky dan Ghia. Nuna adalah perempuan yang Frengky cinta sekarang ini, itulah yang ingin Frengky bilang pada Nuna, jika ia harus menyatakan kebenaran. Bukan tentang Ghio yang tidak penting. Nuna berhasil buat Frengky cemburu. Setelah Nuna bersih-bersih ia duduk di sofa. Nuna lalu bertanya pada Frengky.
“Frengky, kamu gak mencintai gadis lain?”
“Kamu gak usah tau.”
“Kenapa?”
“Karena kita Cuma kawan kan.”
“Oh iya, maaf ya kalau aku kepo.”
Ibu Frengky mengetuk pintu, mengajak Nuna dan Frengky untuk makan siang, lalu mereka berdua ke ruang makan. Ibu Frengky heran karena Nuna dan Frengky tidak saling sapa, dan cuek.
“Kalian kenapa bertengkar?”
“Gak kok.”
“Frengky kamu gak bisa nipu ibu kamu.”
“Iya bu, aku gak nipu kok.”
“Yaudah kalau gak mau cerita, kalian harus tau pernikahan itu tidak selalu berjalan lancar, pernikahan itu seperti kita sedang berjalan, ada batu kan kadang, nah seperti itu, pertengkaran itu tidak boleh buat kalian jadi udahan ya pernikahannya, kalian hrus bia berjuang bangun rumah tangga yang baik. “
“Iya bu.”
Setelah makan Nuna duluan ke kamar, ia pamit pada ibu Frengky untuk ke kamar. Ibu Frengky pun mengizinkan Nuna. Ibu pun lupa mengabari Frengky kalau ayahnya sedang di luar kota. Ibu segera mengabari Frengky. Frengky pun berterimakasih karena telah dikabari oleh ibu. Frengky pamit pada ibunya untuk menyusul Nuna.
Di kamar, mereka saling duduk, dan menatap. Mereka bertengkar layaknya suami istri beneran, kan mereka seharusnya tidak menganggap serius pernikahan ini.
“Nuna, maaf ya.”
“Kenapa? “
“Aku tau kamu gak suka kalau aku ngomong kepo, kamu kan orang yang gak suka kepo, kalau pun ingin tau Cuma karena takut orang tersebut ada masalah.”
“Iya, aku juga minta maaf ya.”
“Nuna maaf aku boleh gak ceritain ke kamu?”
“Iya boleh.”
“Aku mau bilang kalau aku cemburu.”
“cemburu?”
“Iya aku udah mencintai Nuna.”
Nuna pun tak percaya kalau Frengky kini mencintainya.