Pagi ini matahari bersinar dengan cerah seperti Nuna yang pagi ini begitu ceria. Nuna tidak menyangka hari yang ia tunggu sejak ia kecil tiba juga, ia kini bisa menjadi pebasket nasional putri. Nuna pun langsung bersiap-siap untuk berangkat latihan pertamanya sebagai pebasket nasional putri di latnas. Nuna menyembunyikan tentang ia yang terpilih sebagai pebasket nasional putri dari mertua dan orang tua nya. Nuna tidak ingin rahasianya yang telah menikah terbongkar. Frengky menyapa Nuna dengan senyuman khasnya, Nuna pun langsung meminta Frengky untuk mengantarnya, karena kalau Nuna naik taksi pasti orang tua Frengky curiga. Frengky pun segera menyiapkan mobil. Orang tua Frengky yang heran karena Frengky udah menyiapkan mobil, bertanya pada Frengky.
“Frengky, kenapa kamu menyiapkan mobil sepagi ini?”
“Iya bu, aku mau jalan-jalan bareng Nuna, tapi aku nginep ya.”
“Oh boleh banget dong Frengky.”
Ibu Frengky dengan ceria mengizinkan Frengky berjalan-jalan dengan Nuna. Frengky tau dia seharusnya berkata yang benar, tapi sekarang kalau orang tuanya tau, Nuna pasti akan dihalangin untuk berangkat latihan. Nuna pun membawa beberapa baju, karena Nuna harus latihan selama beberapa hari. Nuna pun takut kalau ia bakal ketahuan oleh mertuanya. Nuna berjalan sembunyi dari mertuanya. Setelah Nuna berhasil di depan pintu, sialnya ibu Frengky ada di dekat mobil Frengky. Nuna yang ketahuan ibu Frengky sedang menyelinap, langsung disapa ibu Frengky.
“Nuna, kenapa kamu kok jalannya menyelinap?”
“Gak kok, aku Cuma lagi latihan balet, kan jalanku injit bu.”
“Kamu suka balet? Mau ibu leskan?”
“Gak kok, Cuma iseng doang bu.” Nuna terbebelak, karena ia dikira suka balet.
Ayah pun datang, dan menyapa ibu dan Nuna yang ada di dekat mobil.
“Kalian pada ngapain disini?” Ucap ayah Frengky.
“Iya Nuna dan Frengky mau jalan-jalan katanya.”
Frengky yang ada di dalam mobil, langsung membunyikan klakson mengajak Nuna untuk masuk ke mobil. Frengky kemudian turun, pamit pada ayah dan ibunya. Nuna pun pamit pada mertuanya, mereka pun berangkat.
Di jalan Nuna pun menghela nafas, ia begitu tegang karena kalau mertuanya tau pasti ia tidak boleh berangkat, Nuna pun heran kenapa Frengky beralasan jalan-jalan, Nuna bertanya pada Frengky.
“Frengky, kenapa kamu kok, bilang kita mau jalan-jalan berdua?”
“Iya kalau aku bilang mau latihan, pasti gak boleh.”
“Kan banyak alasan lain, yang gak buat mereka semakin dukung kita untuk tetap nikah.”
“Kamu mau kita bilang, kita mau selingkuh masing-masing?”
“Hahaha, kamu yang bener, itu alasan gila yang aku denger.”
“iya gila ya kalau kita berani bilang gitu.”
Nuna dan Frengky saling tertawa, dan tak sengaja tatapan mata mereka bertabrakan, nafas terasa sesak buat Frengky, karena Frengky tau kalau ia semakin cinta pada Nuna. Frengky tidak tau bagaimana cara bilangnya pada Nuna, pasti Nuna akan menganggap Frengky bercanda karena Frengky dan Nuna selalu berkawan, bukan berpacaran. Frengky pun menghela nafas yang panjang.
Nuna pun menawari Frengky minum, karena terlihat Frengky perlu minum, Frengky pun berterimakasih lalu ia menyetir dengan focus. perjalanan yang cukup panjang, karena latnas ada di luar kota, Frengky harus menyetir cukup lama. Tangan Frengky terasa pegal, tapi Frengky tidak mau Nuna mengetahuinya, ia pun berusaha menutupi dari Nuna.
Frengky dan Nuna lelah sekali mereka sesekali beristirahat di pengisian bensin. Setelah cukup panjang, mereka tiba di latnas. Frengky tidak bisa turun karena latnas tidak boleh tau kalau Frengky mengantar Nuna. Nuna turun terburu-buru, ia lalu berjalan untuk menuju gerbang latnas. Frengky lalu bilang pada Nuna kalau ia akan menginap di hotel dekat latnas, Nuna pun tersenyum. Nuna pun mencium tangan Frengky. Ia sekarang udah nikah, ia tau kalau ia harus patuh pada Frengky, karena Frengky suaminya.