Ekseskusi

1222 Kata
Rencana Ghio yang berhasil diketahui Nuna, buat Nuna semakin kesal pada Ghio, Ghio bukan orang yang pantas untuk dicintai Nuna, karena Ghio jahat, ia mau rumah tangga Nuna udahan. Nuna ingin rumah tangganya singkat namun bukan dengan cara kotor. Ia mau berjalan sesuai takdir saja. Kalau takdir menakdirkan ia harus bersama Frengky, Nuna harus bisa terima. Nuna pun memberitau kalau ia sekarang sedang halangan, ia ingin dibelikan minuman hangat, karena perutnya nyeri kalau sedang halangan. Frengky pun segera mencari minuman hangat. Orang tua Frengky bertanya pada Frengky keadaan Nuna, lalu dia memberitau kalau Nuna sedang halangan dan menginginkan minuman hangat. Orang tua Frengky langsung ke kamar Nuna, melihat keadaan Nuna. Ibu Frengky lalu menggosokan minyak ke perut Frengky, ayah Frengky sibuk buat kue untuk Nuna. Frengky lalu pulang ke rumah setelah membeli minuman hangat. Nuna pun segera meminum minuman hangat. Nuna diminta untuk tidur, Nuna menurut, Frengky lalu menemani Nuna, ia duduk di sofa sambil nonton film.  Orang tua Frengky pamit untuk ke kamar mereka. Di kamar orang tua Frengky, mereka menelpon Dian,ia meminta Dian membeli makanan untuk Nuna. Dian menurut ia membeli makanan. Orang Tua Frengky menyiapkan obat untuk Nuna. Orang Tua Frengky setiap hari bertanya Nuna, udah halangan nya kapan. Sekarang setelah tujuh hari Nuna halangan, Nuna harus segera diberi obat yang orang tua Frengky beli dari kawannya. Orang tua Frengky  memberi obat itu pada Nuna. “Bu ini obat harus aku minum?” “Iya, ini obat KB nak.” “Kok Kb bu?” “Iya kan kamu sekarang kuliah , mungkin kamu mau nunda kehamilan.” “Oh iya bu.” Nuna dan Frengky selalu menunda kehamilan, bukan karena mereka kuliah, tapi karena Nuna terikat kontrak sebagai pemain basket nasional. Nuna selalu meminta Frengky untuk tidur tidak dekat Nuna, lalu ia juga tidak mau disentuh Frengky. Nuna dan Frengky  selalu menunda kehamilan dengan cara yang mereka bisa, Nuna selalu berusaha untuk orang tua Frengky tidak mengetahui niatnya  untuk menunda kehamilan. Penundaan kehamilan yang diketahui orang tua Frengky justru buat Nuna lega, dan ia langsung meminum obat yang diberikan orang tua Frengky. Orang tua Frengky pun memberitau kewajiban Nuna sebagai istri. Nuna tau sebagai istri ia harus melakukan itu. Obat yang diminum Nuna tidak bakal buat Nuna hamil, kalau Nuna menunaikan tugasnya sebagai istri. Nuna pun percaya kalau obat itu bakal buat Nuna tidak hamil walau Nuna melakukan itu sebagai istri Frengky. Orang Tua pun rajin sekali memberi Nuna obat itu. Nuna pun segera meminta Frengky untuk melakukan itu dengannya, bukan karena Nuna mencintai Frengky, tapi karena Nuna tau tugasnya sebagai istri. Frengky pun tidak tau ia harus melakukannya atau tidak. Setelah ia yakin, ia pun melakukannya, perlahan lahan bibir Nuna disentuh oleh bibirnya, lalu perlahan tubuh Nuna disentuh, dan terjadilah yang mereka tunda. Mereka sama sama menunaikan tugas sebagai suami istri, Frengky merasa senang karena ia bisa menunaikan tugasnya. Pagi harinya mereka mandi, dan sholat subuh, setelah sholat subuh mereka sarapan. Orang tua mereka tertawa karena melirik rambut mereka yang basah. Nuna pun langsung menutupi rambutnya. “Kalian berdua udah menunaikan tugas kalian ya?” “Iya bu.” Orang tua Frengky senang karena pernikahan mereka sekarang semakin lengkap karena mereka udah menunaikan tugas suami istri. Lalu Frengky juga menutupi rambutnya dengan topi. Setelah sarapan Nuna dan Frengky berangkat kuliah bersama. Di mobil Nuna pun meminta Frengky membuka jendela yang lebar ia ingin rambutnya kering, ntah Nuna kan sering keramas pagi-pagi, tapi kenapa sekarang ia begitu tidak ingin orang lain liat kalau ia keramas, Frengky menurut ia membuka kaca jendela dengan lebar. Frengky pun memberi jaket karena khawatir Nuna masuk angin. Nuna memakai jaket Frengky, Di kuliahan mereka besikap bak kawan saja, bukan suami istri, Ghio yang bertemu Nuna pun langsung menyapa Nuna, Nuna langsung cuek dan ia segera ke kelas. Setelah kuliah Nuna pulang ke rumah Frengky, orang tua Frengky memberi obat pada Nuna Nuna meminumnya, orang tua Frengky mau Nuna menunaikan tuganya lagi sebagai istri Frengky, Nuna menurut. Nuna dan Frengky menunaikan tugasnya lagi, sebagai suami istri. Tugas suami istri itu rutin Nuna jalankan, karena Nuna yakin Nuna tidak bisa hamil kalau minum obat yang diberi orang tua Frengky. Pagi harinya Nuna menjalankan rutinitasnya sebagai pebasket. Ia berlatih dengan keras. Setelah berlatih keras, Nuna tidak kuat ia pingsan.  Dian yang ada di lapangan karena sedang menunggu Nuna latihan langsung mebawanya ke rumah sakit. Dian memberitau orang tua Frengky. Orang Tua Frengky lalu segera ke rumah sakit. Dokter pun memberitau kalau Nuna sekarang mengandung, Nuna yang sedang pingsan tidak bisa mendengar kabar yang ntah ini kebahagiaan atau kesedihan untuk Nuna. Orang tua Frengky pun bersorak, Dian juga ikut senang. Nuna pun sadar ia bertanya ia sakit atau bagaimana. Dokter ingin memberitahukan kalau Nuna hamil namun di tahan oleh orang tua Frengky. Dokter mengerti setelah dijelaskan oleh orang tua Frengky, karena Nuna sekarang kuliah, takut bakal terguncang kalau ia hamil. Nuna di bawa pulang orang tua Frengky. Di rumah Frengky mecari Nuna karena ia kira Nuna udah pulang duluan, Orang tua Frengky menelpon Frengky dan memberi tau kalau Nuna menuju rumah sekarang. Nuna lemas ia langsung dipapah masuk oleh orang tua Frengky. Frengky heran kenapa Nuna bisa lemas dan pucat, orang tua Frengky Cuma bilang kecapekan. Frengky tidak bisa percaya ia pun mendesak orang tuanya. Setelah Nuna tertidur orang tua Frengky memberitau kalau Nuna hamil.  Orang tua Frengky mengira Frengky bakal bahagia dengan kabar Nuna hamil, namun justru Frengky menangis. Dian yang bersama orang tau Frengky lalu menceritakan tentang alasan Frengky menangis, karena Nuna sekarang tidak bisa menjadi pebasket. Orang tua Frengky tidak begitu peduli pada keinginan Nuna sebagai pebasket. Frengky merasa bersalah telah menjadi alasan buat Nuna tidak menjadi pebasket. Bagaimana kontrak basket nasional, bagaimana Nuna dimata kawan kawannya. Nuna pasti kecewa pada Frengky. Nuna yang udah bangun langsung mengintip, ia tau pasti ia menderita sakit. Obrolan yang didengar Nuna buat Nuna tidak menyangka kalau ia minum obat untuk cepat hamil, bukan obat penunda kehamilan. Nuna menangis dan segera mengunci pintu kamarnya. Nuna tidak tau ia harus bahagia atau tidak karena ia akan menjadi seorang ibu, tapi sekaligus ia harus rela meninggalkan basket. Nuna betul betul kecewa, ia tidak tau ia harus bagaimana, ia sayang pada anak yang dikandungnya, ia tidak mau kandungannya kenapa-napa. Orang tua Nuna lalu melpon Nuna karena tau Nuna pingsan. Nuna menceritakan kalau ia Cuma kecapekan, ia tidak berani cerita kalau ia hamil. Setelah ngobrol cukup panjang, makan siang udah siap, orang tua Frengky ingin membangunkan Nuna, di depan pintu kamar, mereka panic karena pintu kamar terkunci, Mereka pun mencoba membuka pintu dengan kunci cadangan, namun tidak bisa karena kunci tergantung. Pintu pun didobrak, Nuna sedang menangis, dan menutupi kepalanya dengan selimut. Frengky pun tau kalau Nuna pasti mendengar obrolan dia. “Nuna kamu kenapa?” “Kamu gak usah tanya, aku gak nyangka kamu jahat.” “Maaf Nuna.” “Gak, kamu jahat.” Orang tua Frengky lalu menjelaskan kalau Nuna tidak seharusnya kesal pada Frengky, menunaikan tugas istri adalah tugas Nuna, dan obat itu Cuma rencana orang tua Frengky bukan suami Nuna. Nuna pun meminta maaf pada Frengky, karena telah mengira Frengky andil dalam rencana itu. Nuna pun sekarang tidak tau bagaimana caranya ia menutupi kehamilan di depan penyelenggara basket. Frengky pun ingin membantu Nuna untuk tetap bisa bermain basket. Orang tua Frengky ingin Nuna tidak lagi berolahraga yang keras, karena ia takut kalau cucunya kesakitan dalam kandungan Nuna.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN