Kecurigaan

1115 Kata
Siang ini Nuna memiliki jadwal untuk cek kandungan di rumah sakit. Nuna pun diantar oleh Frengky serta ibu Nuna. Di rumah sakit Nuna mendapat nomor antrian dua puluh dua. Pasien siang ini memang tidak terlalu banyak. Nuna pun menunggu nomor nya dipanggil. Frengky pun memegang perut Nuna, ia tidak menyangka kini Nuna dan dia akan menjadi orang tua. Nuna sontak langsung memegang tangan Frengky, Nuna tidak mau Frengky memegang perutnya. Frengky pun mengerti. Ibu Nuna yang berada bersama mereka, curiga kalau Nuna belum mencintai Frengky. Nuna memang tidak pernah mengatakan yang sebenarnya pada ibunya semenjak Nuna tau kalau pernikahannya dengan Frengky karena orang tua Nuna merasa berhutang budi pada keluarga Frengky. Setiap ibu Nuna bertanya pada Nuna, Nuna tidak pernah mau menjawab ibunya. Siang ini ibunya ingin ikut Nuna, dan mengetahui sendiri tentang perasaan Nuna pada Frengky, ternyata benar, Nuna belum mencintai Frengky. Ibu Nuna tau kalau anaknya perlu waktu, ibunya lalu tidak menanggapi tindakan Nuna pada Frengky. Tak berapa lama nomor antrian Nuna , dipanggil. Nuna pun masuk ke ruangan dokter bersama ibu dan Frengky. Nuna langsung diminta berbaring, dan perutnya mulai diolesi gel, Nuna siap diperiksa, dokter pun menggunakan alat usg. Nuna tersenyum kala dokter menunjukan janin yang tumbuh, Nuna tersenyum karena seorang bayi mungil akan lahir dari rahimnya. Nuna tau kalau bayi ini tidak bersalah, dan Nuna mulai menyayangi janin yang ada di perutnya, ia bertekad untuk selalu sehat, dan ia ingin kandungan baik baik saja. Setelah di usg, dokter pun menyarankan Nuna untuk berhati-hati dalam beraktivitas, Nuna pun mengangguk. Dokter juga menyarankan untuk Nuna tidak bermain olahraga yang berat, basket, bulu tangkis dan olahraga berat lainnya. Nuna sontak langsung terdiam, ia tidak tau harus bersikap bagaimana, karena ia minggu depan harus bertanding dengan tim basket dari luar negeri. Nuna sadar kalau ini salahnya, ia tidak jujur dari awal, kalau ia udah menikah. Setelah dari ruangan dokter, Ibu pamit ke toilet. Nuna pun langsung berbisik dengan Frengky. “Gimana nih aku gak boleh main basket?” “Iya, aku denger, tapi gimana ya kan kamu harus main minggu depan?” “Iya, itu dia aku gak tau mesti gimana.”             “Kamu main aja aku yakin kamu kuat.” “Serius kamu yakin gak papa?” “Iya, kamu yang penting jangan kecapekan.” Ibu pun udah balik dari toilet, dan mendengar ujung obrolan Nuna dan Frengky. “Iya bener kamu jangan capek-capek.” “Oh,ibu dengar obrolan kami?” “Dengar.” Nuna memandang wajah suaminya, memberi isyarat kalau ia takut ibunya tau kalau ia mau bermain basket. “Bu, iya dong Nuna pasti gak bakal capek.” Ucap suami Nuna pada Ibu Nuna. “Iya Frengky, tolong marahi Nuna kalau Nuna gak nurut kata dokter.” “Siap bu.” Ibu pun berjalan duluan di depan Nuna dan Frengky. Nuna pun langsung mengirim pesan pada Frengky, ia memberi tau kalau ia takut, ibunya mendengar obrolan Nuna.  Lalu frengky tersenyum dan membalas kalau ibu Nuna tidak mendengar obrolan Nuna tentang bermain basket. Nuna pun lega. Setelah itu mereka pulang ke rumah Frengky. Di rumah Frengky, orang tua Frengky udah menunggu Nuna, mereka ingin mendengar tentang janin yang dikadung Nuna. Ayah Nuna juga ada bersama mereka. Nuna pun memberi foto usgnya, mereka semua tersenyum dan tak sabar menungga bayi Nuna. Minggu depan pun tiba, badan Nuna terasa lemas, tapi Nuna tetap berangkat untuk bermain basket, Nuna tidak mau perjuangannya menjadi pebasket nasional Cuma berujung disini. Nuna pun mengganti pakaiannya dengan seragam basket, hari ini Nuna harus bisa bermain dengan baik. Nuna pun siap masuk ke lapangan. Suami Nuna udah menunggu Nuna di tribun, ia mengawasi Nuna, karena sejujurnya Frengky khawatir, namun Cuma ini jalan Nuna untuk tetap bermain basket. Nuna pun bermain basket, ia lebih lambat dari biasanya, semua tembakan cantik yang biasa ia lakukan, tidak bisa ia lakukan dengan baik. Poin tim Nuna pun kalah jauh, Nuna pun mencoba menambah tenaganya, ia bermain basket lalu mencoba melompat dan memasukan bola, bola masuk, tapi Nuna langsung jatuh dan mengeluh kesakitan. Panitia pun langsung membaw Nuna ke ruang medik. Frengky lalu segera menyusul Nuna, karena khawatir Nuna ketahuan. Nuna ditangani baik oleh tim medik . Panitia pun meninggalkan Nuna karena harus memantau jalannya permainan basket. Di ruang medic tinggal Nuna dan tim medic. Tim medic lalu menyentuh perut Nuna. Ia merasa Nuna sedang mengandung. “Nuna, kamu sedang hamil?” “Gak, aku kembung.” Tim medic terdiam, lalu segera memberi minyak di perut Nuna. Tim medic lalu meninggalkan Nuna. Nuna yang ditinggal di ruang medic, segera di bawa kabur Frengky, kalau Nuna di periksa lebih dalam pasti ketahuan kalau Nuna hamil.  Tim medic pun berdiskusi dengan panitia, mereka curiga kalau Nuna bukan kembung tapi hamil. Tim medic pun balik ke ruang medic, dengan panitia yang tidak bertugas di lapangan. Mereka tidak menemukan Nuna, mereka pun tidak tau Nuna kemana.  Di rumah Nuna langsung di periksa dokter, Dokter pun memberi tau kalau kandungan Nuna sedang bermasalah, dan Nuna bisa saja bunuh janinnya, kalau ia nekat. Nuna pun menangis, ia merasa bersalah pada janin yang ada di rahimnya. Nuna pun ditenangkan Frengky. Setelah dokter pulang, orang tua Frengky yang sedang ke rumah Nuna, pulang. Untunglah mereka tidak tau kalau Nuna berangkat bermain basket. Orang tua Frengky pun mengetuk kamar Nuna. Mereka tidak tau kalau Nuna baru diperiksa dokter. Frengky membuka pintu kamar, orang tua Frengky lalu meminta Frengky untuk makan siang bersama mereka. Tapi Frengky tidak bisa meninggalkan Nuna dan Frengky terpaksa memberitau kalau Nuna barus saja sakit perutnya. Orang tua Frengky pun panic dan membawakan makanan ke kamar Nuna. Ibu Frengky menyuapi Nuna, ia bener bener tidak mau Nuna sakit. Perlakuan orang tua Frengky yang sayang pada Nuna, buat Nuna semakin bersalah, karena ia nekat bermain basket hari ini. Orang tua Frengky menatap Nuna, dan langsung meminta Nuna untuk tetap tenang, dan banyak istirahat. Orang tua Frengky meninggalkan Nuna di kamar. Frengky yang ada di dapur karena sedang menyiapkan s**u buat Nuna, diminta naik ke atas menemani Nuna, ia pun menurut. Frengky segera ke atas, ia benar-benar terkejut karena Nuna menangis terisak-isak. Ia menenangkan Nuna.   “Kamu kenapa Nuna?” “Aku gak kuat, aku mau juju raja Frengky, aku capek nutupin pernikahan, dan aku gak mau bunuh janin aku sendiri, dengan nekat bermain basket.” “Kamu serius?” “Iya, aku serius, aku udah ikhlasin harapanku, toh aku udah ngerasain kan jadi pebasket.” “Baiklah, besok kita bicara yang jujur pada mereka.” “Tapi… biaya penalty gimana ya ?” “Tenang aku yang lunasi, kamu gak usah takut.” “Frengky, kenapa sih kamu baik banget, aku kan jahat sama kamu.” “Kamu baik kok, aku tau kamu gak berniat gitu.” “Terimakasih ya Frengky. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN