Ghia yang sedang merapikan alat music di rumah, langsung dikabari Ghio. Ghia mendengar Ghio secara tidak jelas, karena Ghia sedang asyik merapikan alat music.
“Gak denger jelas Ghio, kenapa?”
“Iya gue bilang gue berhasil jatuhin Nuna, gue udah buat Nuna ketahuan kak.”
Ghia pun tersenyum, dan berlalu ke kamarnya. Ghio terheran seharusnya kakaknya bisa memilki respon lebih, tapi Ghio tidak mau ambil pusing, mungkin kakakny lelah hari ini.
Di kamar Ghia, Ghia langsung menelpon Frengky. Ghia dan Frengky pun saling berbicara di telpon.
“Frengky, maafin sikap Ghio ya, aku tau dia begitu karena belum menemukan pasangan.”
“Sebetulnya aku udah maafin Ghio, cuma kadang aku gak ngerti kok bisa sih kamu pura-pura kerjasama dengan Ghio?”
“Iya karena aku tau kalau cinta itu harus tumbuh dengan tulus, mungkin aku salah gak bisa mencegah tindakan Ghio, aku gak tau sama sekali tentang rencana dia yang membongkar kebohongan Nuna.”
“Kamu gak tau?”
“Iya aku gak tau, aku cuma taunya aku harus merebut kamu dari Nuna.”
“Bagus, untung kamu gak ngelakuin ya.”
“Iya, aku gak mau aku bahagia diatas penderitaan cewek lain.”
“Ghia kamu bisa tutupi kerjasama kita?”
Ghio yang ingin mengajak kakaknya jalan-jalan, mendengar pembicacaraan kakaknya, tapi ia tidak tau kalau kakaknya bekerjasama dengan Frengky. Ghio lalu membuka pintu.
“Kerjasama dengan siapa kak?”
“Kamu bisa gak sopan? Dan jangan mau tau dong.”
Ghio pun menurut, ia meninggalkan kakaknya, tapi ternyata dia tidak betul betul meninggalkan Ghia, dia menunggu Ghia di depan pintu, sambil mendengar pembicaraan Ghia.
“Iya, aku pastikan Ghio tidak bisa mendapatkan Nuna.”
Ghio tercengang, ia kesal pada kakaknya, di depannya mendukung, dibelakangnya justru orang yang paling tidak setuju, kalau Ghio dengan Nuna. Ghio pun membuka pintu dengan keras.
“Coba kerjasama yang loe rencanakan itu apa?”
“Gue udah bilang, loe gak sopan.”
“Ghia, gue nyangka loe penghianat, loe bisa bisanya di depan gue dukung taunya loe musuh dalam selimut.”
“Karena gue gak mau gue dan loe jadi seperti Tante Lois, ia dia perebut suami orang, loe ngerasa gak sih, kalau cara kek gitu gak bakal bisa buat kita bahagia?”
“Kakak mau, kamu ikhlasin Nuna, Nuna bukan jodoh kamu, kamu gak boleh rebut kebahagiaan orang. Kamu tau kan direbut kebahagiaan itu gak enak, liat ibu kita, semenjak ada Tante Lois, yang datang merebut ayah, apa kamu bahagia?”
“Iya kakak benar, aku sungguh benci dengan kelakuan Tante Lois.”
“Kakak gak mau anak Nuna dan Frengky ngerasain seperti kakak, ditambah kakak tau cinta itu harus tumbuh dengan tulus.”
“Kakak benar, aku bakal minta maaf pada Nuna dan Frengky, lalu akan menjelaskan kalau mereka udah mau bertindak jujur, sebelum terdesak.”
“Bagus, kamu benar-benar laki-laki pengertian, udah mulai berubah ya.”
Malam harinya, Ghio berniat untuk ke rumah Frengky dan Nuna, ia lalu mengajak Ghia, ia ingin minta maaf langsung. Ghia pun segera bersiap. Di rumah Frengky, keributan besar sedang terjadi. Orang tua Frengky kecewa pada Nuna, yang tetap nekat menajdi pebasket, bahkan sekarang Frengky harus membayar penalty sebesar 100 juta. Nuna pun menangis, ia menyesal, telah bersikap egois, ini kali pertama Nuna dimarahi oleh orang tua Frengky. Ghia dan Ghio yang mendengar keributan, langsung memberanikan diri mengetuk pintu. Setelah pintu diketuk, pintu dibuka oleh pembantu Frengky.
“Silakan non, masuk.”
Ghia dan Ghio saling berpandangan, merasa tau ini bukan momen yang pas, karena seharusnya mereka tidak berada di rumah Frengky dalam keadaan orang tua Frengky marah.
Bibi lalu memberitaukan jika ada tamu yang datang, orang tua Frengky yang sedang memarahi Nuna, langsung menemui tamu, disusul Frengky dan Nuna.
“Loh kamu Ghia kan?”
Ibu Frengky mengenali Ghia.
“Iya tante, saya Ghia, kenalkan ini Ghio adik saya.”
“Halo tante saya adiknya Kak Ghia.”
“Ghio adik kandung Ghia?”
Nuna berbisik pada Frengky.
“Iya Nuna.”
Ghia dan Ghio pun langsug menjelaskan tujuannya datang ke rumah Frengky.
“Tante, om, kami kesini mau minta maaf pada Nuna.”
Orang tua Frengky tampak kebingungan.
“Kalian salah apa?”
“Kak Ghia gak salah kok tante, aku yang salah, Nuna itu memang pernah menjadi pebasket, tapi dia udah mau jujur kok sebelum ketahuan kalau dia hamil. “
“Loh gak boleh hamil, kenapa?”
“Iya tante, untuk pebasket putri, tidak boleh menikah dulu, dan hamil.”
“Oh itu sebabnya, Nuna dan Frengky selalu menunda.”
“Iya betul, kami juga mau minta maaf.”
“Oh jadi Nuna selama ini selalu bilang dia single?”
Nuna tampak panik, karena pasti orang tua Frengky kecewa.
“Iya tante, karena Nuna tidak sengaja menandatangani syarat, yang ternyata tidak ia penuhi.”
“Kok kamu tau Ghia?”
“Iya tante, Frengky yang cerita.”
“Jadi selama ini saya dibohongi?”
“Bu, aku dan Nuna gak bohong, tapi kamu bingung harus cerita darimana?”
“Iya tante, mereka gak salah kok.”
“Bu, aku gak mau keinginan Nuna menjadi pebasket gak bisa tercapai Cuma karena ia menikah dengan aku.”
“Tapi jangan bohong juga nak, gak baik.”
“Ya maafkan kami.”
Nuna pun menangis, ia meminta maaf pada orang tau Frengky.
“Bu sekarang saya udah ikhlas saya cukup menjadi ibu saja untuk anak-anak saya, itu juga udah buat saya bahagia.”
“Kamu udah jahat banget ya Nuna, anak saya diminta bayar penalty kamu, terus kamu mau sok-sokan mengikhlasin semuanya?”
“Maaf tante saya mau jelaskan juga tentang itu.”
“Bagaimaan jelaskan sama saya dan om.”
“Seharusnya Nuna membayar penalty, tapi saya udah menjelaskan siang tadi ke panitia, Nuna udah berniat jujur, Nuna tidak usah membayar penalty, karena Nuna jujur sebelum ketahuan. Nuna tidak tau rencana saya membongkar kebohongan Nuna, Nuna kira belum ada yang tau tentang kebohongannya, tapi orang-orang tau lebih dulu dari saya. “
“Jadi Nuna jujur sebelum ketahuan?”
“Iya tante, tapi saya yang buat seakan akan Nuna jujur karena terdesak.”
“Alhamdulillah, kalau Nuna tidak usah bayar penalty, uang Frengky bisa dipakai untuk masa depan mereka.”
“Terimakasih Ghio, ternyata kamu baik ya.”
“Gak Nuna, aku gak baik, tapi sekarang aku mau berubah.”
“Oh iya tante, tentang Dian, dian itu jahat tante, jangan percaya kata-kata Dian.”
“Oh Dian jahat.”
“Tante,jangan khawatir tentang bayaran penalty lagi ya, panitia juga udah membolehkan Nuna menikah dan hamil, tapi belum tau Nuna masih dipebolehkan menjadi pebasket atau gak.”
“Aku udah ikhlas kok Ghio, gak usah diperjuangin, toh aku salah, dari pertama aku gak jujur, waktu aku tau syaratnya tidak boleh menikah, walau aku gak tau waktu nandatangani ketentuan itu.”
“Iya, tapi aku tau kamu berbakat, kamu harus berjuang.”
“Oh iya tante, om saya dan Ghio pamit dulu ya karena kami harus ke Ausi.”
“Oh, iya silakan.”
“Ghia, om mau juga dong ke Ausi.”
“Ih papa kok centil.”
“Biar cair mah.”
“Iya sih, tadi panas banget yak arena kita marah-marah.”
“Ghio, thank you ya udah mau bantuin Nuna, dan bilang yang sejujurnya ke panitia.”
“Iya, untung ada ketentuan jika yang terbukti bohong jujur dan mengakui kebohongannya, maka penalty tidak perlu dibayarkan, Ghia yang udah nulis ketentuan tambahan.”
“Wait… Ghia? Kok bisa?”
“Maaf Frengky, aku gak cerita iya sebetulnya aku termasuk salah satu panitia.Panitia pernah minta Nuna kan tanda tangan lagi setelah jadi pebasket?”
“Iya betul, tapi aku gak liat kamu deh.”
“Iya aku sembunyi.”
“Jadi selama ini kamu tau semuanya Ghia, tentang rencana Ghio?”
“Iya makanya aku antisipasi dengan cara itu.”
“Ghia aku gak nyangka kamu baik banget, terimakasih ya Ghia.”
“Iya Nuna sama sama.”
“Oh iya, Ghia, Nuna aku mau kamu juga maafin Dian.”
“Iya aku sih udah maafin Dian kok.”
“Dian sebetulnya cantik, tapi mungkin perlu perhatian.”
“Jadi kamu udah berubah haluan nih?”
“Udah deh kak, kita harus ke ausi kan.”
Ghio pun mengajak Ghia pamit, orang tua Frengky lalu memberikan hadiah liburan di villa keluarga Frengky, kalau Ghio dan Ghia udah pulang dari Ausi.
Ghio dan Ghia senang karena mereka bisa liburan. Setelah itu mereka langsung menuju bandara. Setelah Ghio dan Ghia pulang, Nuna dan frengky lega karena permasalahan mereka dapat di pecah kan.