Setelah Nuna tidak lagi menjadi pebasket, Nuna lebih sibuk menjalani aktivitasnya, ia kini berani mengenakan baju-baju hamil, dan Frengky terang-terangan menyatakan kalau ia suami Nuna. Nuna pun lega karena ia tidak harus menutupi pernikahannya.
Nuna pun selalu bersama Frengky, Dian yang memperhatikan mereka terkadang kesal, namun Nuna dan Frengky cuek pada Dian. Nuna dan Frengky menjalani hari-hari mereka dengan ceria, kandungan Nuna juga kini udah semakin besar, Frengky selalu rajin mengantar Nuna cek kandungan, dan mereka pun selalu tebak-tebakan tentang jenis kelamin bayi yang dikandung Nuna.
“Aku tebak cewek deh.”
“Laki-laki tau.”
Orang-orang yang mendengar mereka, tertawa.
“Duh mas, mba mesra banget, pasti anak pertama ya.”
Nuna pun tersipu malu, Iya cuma terdiam.
“Iya bu, anak pertama.”
Dokter pun memanggil Nuna, dan ia segera di periksa.
Kandungan Nuna udah berjalan, dan semakin besar. Nuna udah siap untuk dalam 2 trimester lagi. Nuna pun menunggu waktu itu dengan grogi. Tak lama trimester ketiga untuk melahirkan, perut Nuna pun udah terasa sakit, sepertinya mala mini Nuna harsu melahirkan. Semua orang dirumah tampak panic, dan segera mengantar Nuna untuk melahirkan.
Persiapan Nuna udah siapkan Frengky, mereka pun berangkat ke rumah sakit. Di rumah sakit. Nuna langsung masuk ruang melahirkan, karena keadaan Nuna ternyata ketuban nya pecah. Nuna pun kesakitan, dan segera mendengar aba-aba dokter, Nuna ditemani Frengky. Nuna pun sekeras mungkin menahan rasa sakit, tekadnya untuk melahirkan lebih kuat. Tak berapa lama Nuna berhasil melahirkan bayinya. Nuna pun pingsan, karena terlalu letih. Perjuangan seorang ibu memang luar biasa, dan Frengky menjadi saksi perjuangan Nuna melahirkan anaknya. Setelah itu Nuna siuman, dan mulai mendekap anaknya.