Part 5

1277 Kata
Pagi yang cerah mengawali kegiatan hari ini, aku berjalan menuju taman belakang sekolah, aku duduk di bangku panjang dibawah pohon besar sambil menghirup udara segar. Hampir setiap hari aku kesini sebelum memasuki kelas. Aku bersandar dibangku sambil mengeluarkan al-quran ku. Setiap pagi aku membacanya disini untuk mencari ketenangan. Aku menutup Al-quran ku lalu menciumnya dan memasukan kembali ke tas setelah selesai membaca, saat aku berdiri aku kaget karena ada Fahri yang berdiri disampingku "Assalamualaikum, Ola" ucap fahri dengan senyuman dibibirnya. Aku tersenyum lalu menjawab salam fahri "Waalaikumsalam, aku duluan ya" kataku lalu pergi meninggalkan fahri. Fahri yang ditinggalkanku langsung berlari mengejar dan mengikutiku. Aku diam saja saat Fahri mengikutiku kekelas karena ini sudah biasa ia lakukan hampir setiap hari. Fahri adalah teman satu rohisku dia orangnya baik, sabar, dan pengertian, tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang selalu saja berusaha mendekatiku, aku agak risih saat Fahri mengikutiku sampai kekelas. "sudah ya Fahri, aku kekelas dulu" akupun langsung memasuki kelas, "Iya Ola sampai jumpa " aku berjalan menghiraukan ucapannya. Fani yang melihatku dengan tatapan tajamnya saat aku memasuki kelas, aku hanya tersenyum lalu duduk di bangkuku disamping Fani. "Ola, kayanya Fahri suka tuh sama lu, buktinya setiap hari dia nganterin lu kekelas mulu" ujar Fani, aku tersenyum "Hemm masa sih, enggak lah dia cuman temen ko" Andhika yang mendengar percakapanku dengan Fani langsung ikutan nimbrung dan duduk dibelakang bangkuku "Masa sih?? Gpp kali Ola dia orangnya baik, gue kenal dia kok, lu coba aja pacaran sama dia" aku menghela nafasku dan melototi Dhika "Sudah ya, dia itu cuman temen Dhik, kamu tau kan aku..." ucapanku terpotong karena Randy yang melanjutkan ucapanku "Anti pacaran, iya kan Ola" Randy datang tiba tiba dengan Silvi. Aku hanya menganggukan kepalaku Silvi yang baru datang langsung duduk disamping Dhika lalu mengeluarkan amplop kecil berwarna putih dari tasnya "Nih, La dari Fahri buat lo, tadi dia kasih ke gue pas ketemu dikantin" Silvi menyodorkan suratnya ke tanganku. Yang lainnya hanya melongo saat Silvi mengeluarkan amplop tersebut dan menyodorkannya kepadaku "Cieee, tuhkan dapet surat cinta" ujar Dhika menggodaku, Fani juga ikut menggodaku "Ciee Ola, Fahri serius tuh kayanya, udah terima aja" Aku hanya menunduk malu, aku gak biasanya begini, sebenarnya aku juga sudah pernah dapet surat cinta seperti ini, tapi biasanya aku gak se malu ini dan biasa biasa saja. Sahabatku tertawa melihatku yang menundukan kepalaku, "Sudah ya, gak lucu tau" bentakku lalu mengambil buku dalam tasku untuk menghilangkan rasa malu, pasti pipiku sudah merah menahan malu. ..... Kring.. kring.. Bel istirahat pun berbunyi, para siswa berhamburan keluar kelas, aku menutup bukuku dan memasukan ke loker meja lalu berdiri mengikuti temanku ke kantin. Aku, Fani, dan Silvi berjalan menuju meja panjang dipaling ujung lalu duduk menunggu pesanan yang sudah dipesan Charly dan Dhika. Tak lama Charly dan Dhika datang membawa nampan yang berisi 5 mangkok bakso dan 5 jus berbagai rasa. "ehh, si Randy kemana Dhik?" tanyaku sambil mengaduk baksoku Dhika yang masih sibuk mengunyah baksonya mengangkat bahunya tanda tidak tahu "Ohh dia lagi sama Tiara kayanya La, di ruang osis " ucap Charly. Aku tersedak mendengar ucapan Charly Fani menyodorkan jus jeruk kepadaku "pelan-pelan napa La makannya" Aku meminum jusku lalu menatap ke Charly "ngapain emang si Randy sama Tiara ?" tanyaku penasaran Charly, Dhika, Fani , dan Silvi menatapku "emang lu gak tau La, Randy kan suka sama Tiara dia lagi pdkt sama Tiara" ucap Charly sambil menyeruput jusnya Aku hanya ber oh-ria sebenarnya aku kuatir dengan Tiara tapi yasudahlah biarkan saja Tiara sama Randy, aku juga sudah tau sifat Randy gimana gak mungkin dia sakitin Tiara. Juga Tiara biarkan dia memilih jalannya mau berpacaran atau gak, menurutku Tiara sudah besar sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. .... Dikelas Randy menemui Ola yang sedang mengobrol dengan Rani teman sekelasnya, Randy menyapa Ola lalu mengajak Ola mengobrol dikoridor depan sekolah. Ola mengikuti Randy kedepan dan duduk dikursi panjang yang ada didepan koridor kelasnya. "Kenapa Rand, kok kayanya seneng banget hari ini?" tanya Ola penasaran karena tak biasanya Randy memasangkan wajah dengan senyuman terhias diwajahnya "Hemm, gue lagi jatuh cinta Ola" Randy tersenyum tipis Ola sudah tidak kaget jika itu yang membuat Randy tersenyum seperti ini, sepertinya dia benar benar jatuh cinta sama Tiara "Ciee elah, Tiara ngapain kamu sih kamu sampai segininya" Randy menatap Kla "gue nembak Tiara La, gue seneng banget akhirnya bisa mengungkapkan perasaan gue ke Tiara, lo gak marah kan?" Ola tertawa pelan "Hahaha santai aja Rand, terus Tiara jawab apa?" Randy tidak menjawab dan langsung menekuk wajahnya "Kenapa Rand?" tanyaku "Dia nolak gue La, alasannya katanya dia gak mau berpacaran" Ola terdiam mencerna perkataan Randy "Oohh sabar ya" Randy mengangguk lalu berdiri dari duduknya "Tapi gpp La gue akan tetap mengejarnya sampai dia mau jadian sama gue La" Randy menatap kearah Ola dan Ola hanya bisa memberinya semangat. seiring berjalannya waktu... Ola tetap menjadi Ola yang baik, sopan , pintar, dan juga alim. Ia masih dengan pendiriannya yang tidak berpacaran dan juga dia menolak Fahri yang menembaknya 1 tahun lalu. Ola menjadi penasihat bagi sahabat-sahabatnya yang sedang kesulitan dalam masalah cintanya. Randy pun sudah tidak mengejar cintanya lagi ke Tiara karena setiap kali Randy mendekati Tiara, Tiara selalu menjauh dan tidak pernah membalas cintanya, Randy hanya berteman biasa dengan Tiara. Randy tetap dengan sifatnya yang dingin kepada perempuan yang mendekatinya. Fani dan Charly baru saja putus karena Charly merasa tidak cocok lagi dengan Fani dan meninggalkan Fani begitu saja, Fani pun sakit hati atas sikap Charly selama ini. Fani sering menangis jika dia curhat sama sahabatnya, tapi Ola selalu menasihatinya dengan kata kata yang lembut sehingga Fani luluh dan tidak berlarut-larut dalam patah hatinya. Ola sempat sedih seandainya Ola bisa melarang Fani berpacaran pasti Fani gak akan sesakit ini. Untung saja Charly tidak sekelas lagi dengan mereka. Andika dan Silvi masih berpacaran tetapi mereka berdua masih dalam batas wajar, dan Ola selalu tidak henti-hentinya mengingatkan mereka berdua untuk tidak selalu berdekatan. Persahabatan mereka masih terus berjalan dan semakin akrab, dan mereka tidak menyangka mereka ber 5 bisa satu kelas lagi di kelas XII . Mereka pun sudah naik ke kelas XII dengan nilai yang cukup memuaskan. Ola yang sedang mengedarkan pandangannya dikelas barunya yang akan ia tempati dengan sahabatnya kaget karena Ola mendengar suara dari belakang bangkunya yang ia tidak sadari. Ternyata Fani yang memanggil namanya dengan wajah yang lusuhnya "Sudahlah Fan, jangan diinget lagi, moveon dong" ucap Ola lalu duduk disamping Fani. Fani hanya menganggukan kepalanya sesekali. Silvi yang berdiri disamping Ola hanya menggelengkan kepalanya "Tau nih Fan, udah jangan sedih mulu, kita sudah kelas duabelas nih bentar lagi lulus ga usah terlalu dipikirin cowok kaya gitu mah" ucap Silvi lalu menenangkan Fani dengan menepuk pundaknya. Fani yang hanya diam saja langsung menerima pelukan dari sahabatnya. Disaat mereka berpelukan banyak pasang mata yang melihatnya hanya diam sesekali berbisik melihatnya. Tiba-tiba Randy dan Dhika datang dengan wajah yang tidak biasanya, wajahnya terlihat merah dan sedikit kusut terlihat seperti orang yang habis marah "Sudah fan gausah mikirin cowok b******k itu, tadi kita udah temuin Charly " ucap Randy lalu mengampiri sahabatnya itu "Dia hanya mainin perasaan lu doang Fan, udah ga usah dipikirin cowok kaya gitu, tadi kita udah sempet hajar dia ko" ucap Dhika dengan wajahnya yang tak biasa temannya lihat. Wajahnya yang biasa selalu tersenyum dan ramah kini berubah dengan wajah yang mukanya memerah dan memperlihatkan urat-urat dikepalanya. Hanya untuk membela sahabatnya. Fani yang hanya menatap Dhika dan Randy hanya tersenyum tipis dan mengucapkan terimakasih karena sudah membela Fani sampai Randy dan Dhika rela berantem dengan Charly. Mereka pun hanya tersenyum melihat Fani yang akhirnya bisa tersenyum juga. Beruntung Charly tidak sekelas dengan kami, jadi Fani bisa cepat move on tanpa harus melihat Charly dikelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN