“Boleh?” tanya Bima dengan suara yang mulai memberat sambil terus menatap mata Raisa meski akhirnya jatuh lagi ke bibir. Raisa masih berpikir, apa yang terjadi setelah ini? Apa Bima akan menolaknya lagi? Atau kali ini lelaki itu sudah mengerti kalau sesungguhnya dia memang sudah mendapat rasa tertentu pada Raisa? Tapi, apa pun itu, rasanya dia juga tidak sanggup melepas pesona dokter Bima yang menurutnya sudah seperti satu kesatuan utuh yang mengikat jiwanya. Terikat sempurna meski belum siap untuk melangkah lebih jauh. "Kalau ga boleh. Terus om mau apa?" Bima mengernyitkan dahinya sambil menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah Raisa. Mencoba melihat keseriusan wanita itu saat bertanya pertanyaan yang secara tidak langsung menyenggol sisi maskulinnya? "Tetep saya paksa. Lag

