Bima langsung merasa lega karena Raisa tidak mendesaknya untuk bertemu. Semua kebimbangan ini benar-benar membuatnya sulit berkonsentrasi untuk memutuskan satu hal yang benar. Jika saja dia Bima yang bukan anak dari Wiranata, pasti akan tidak seperti ini ceritanya. Mungkin saja jalan cintanya tidak akan serumit ini juga. Tanpa peduli lagi pada pesan Raisa, Bima melanjutkan pekerjaannya di rumah sakit lalu pulang dengan harapan akan tenang. Tapi, betapa terkejutnya dia saat melihat Raisa sedang duduk di taman rum ada z miahnya sambil bermain dengan air di kolam ikan. “Apa yang kamu lakukan, Rai?” Raisa langsung melihat ke arah suara dan melihat Bima yang masih dengan pakaian rumah sakit berwarna maroon. “Saya bawa ini!” ujar Raisa sambil mengangkat satu bungkusan berwarna pink. “Warna p

