"Nama saya Raisa." "Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik. Pastinya anda akan merasa terganggu dengan pertanyaan saya!" Tutur Amitha. Raisa hanya bisa tersenyum manis sebagai syarat sebuah keramahan. "Jangan sungkan. Dan bisa berbahasa lebih santai dengan saya, Kak Amitha!" "Saya sudah santai. Maaf jika kurang berkenan." Raisa langsung cengir kuda karena malas berdebat dengan orang baru di rumahnya ini. Mungkin nanti dia akan meminta penjelasan Anggara. Karena bertanya pada oma sudah pasti tidak akan mendapat jawaban pasti. Setelah perkenalan cukup canggung dengan Amitha, Raisa kembali ke kamarnya sambil membawa satu gelas s**u. Dia melihat ponselnya dan sekali lagi menyadari jika Bima seperti ini. Harus selalu duluan untuk segalanya. Setelah pertemuan beberapa hari yang lalu, t

