Anjani tidur dengan sangat gelisah. Dia terlihat tidak tenang. Miring salah, terlentang pun salah. Namun, matanya masih terpejam rapat, enggan untuk dibuka, sementara Zain dan Faana, sejak tadi kedua anak kembarnya itu masih tidur dengan pulas. Di tengah kegelisahannya, akhirnya Anjani menemukan kenyamanan. Dia setengah sadar dan tidak, seperti sedang bermimpi indah. Kepalanya berbantalkan sebuah d**a bidang. Ia menyusupkan wajahnya di sana. Dia merasakan seperti saat-saat kebersamaannya dengan sang suami, ketika mereka masih hidup bersama. Setiap malam jika ingin tidur, maka dia akan tidur di d**a atau lengan sang suami, hingga tangan Juna kebas. Kini, Anjani bisa tidur dengan tenang. Namun, gerakan diperutnya membangunkannya. Bayinya menendang dengan sangat kuat, sehingga membuatnya

