Hari-hari pun berlalu. Tanpa terasa usia kandungan Anjani sudah memasuki 9 bulan. Meskipun dia hidup terasingkan, dan jauh dari sang suami, tetapi dia mampu menjalani kehidupan bersama kedua anak kembarnya. Zain dan Faana tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan cerdas. Mereka bersikap dewasa, sungguh jauh berbeda dengan usia mereka yang masih balita. Namun, semuanya itu karena keadaan. Dan sebagai orangtua tunggal, Anjani telah berhasil dalam mendidik kedua anak kembarnya tersebut. Malam itu, Anjani sedang membacakan dongeng untuk penghantar tidur putra dan putrinya. Kebiasaan itu masih saja terus dilakukannya untuk menghibur kedua buah hatinya. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipi. Anjani tiba-tiba teringat dengan Juna. Sebab saat mereka hidup bersama, sang suami yang sering

