Setelah Juna selesai menghubungi seseorang dan mendengarkan saran-saran yang harus dilakukannya, lalu dia kembali menghampiri sang istri yang kini sedang memeluk lutut. Kecemasan, kepanikan, ketakutan yang berlebih, selalu tiba-tiba menyerang Anjani. Karena dia benar-benar sangat trauma atas peristiwa di masa lalu. Juna menaiki ranjang. Hatinya sungguh sedih dan sakit melihat sang istri yang mengalami trauma mendalam dan itu semua akibat ulahnya. Dia lah penyebab semua itu. Juna memeluk erat tubuh mungil Anjani. Tiada henti dia menciumi kepalanya. “Sayang, tolong maafkan aku karena aku menuntut hakku terlalu cepat. Aku sungguh tidak tau jika kamu mengalami trauma yang mendalam seperti ini.” Juna melepaskan pelukannya, lalu memegang rahang Anjani. “Jujur saja, aku memang sangat merinduka

